Charles III Kembali Undang Trump ke Inggris untuk Kunjungan Kenegaraan Kedua

Senin, 14 Jul 2025, 15:50 WIB

JAKARTA - Raja Charles III akan menyambut Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam kunjungan kenegaraan pada 17-19 September mendatang, sebagaimana diumumkan Istana Buckingham pada Senin, 14 Juli 2025. Peristiwa ini menandai kali pertama seorang kepala negara modern diterima untuk dua kunjungan kenegaraan oleh penguasa Britania Raya.

Istana menyebut jamuan resmi akan digelar di Kastil Windsor, dengan rincian agenda menyusul dalam waktu dekat.

Ket. Foto: — Sumber: Reuters

“Yang Mulia Raja akan menjamu Presiden dan Nyonya Trump di Kastil Windsor,” demikian pernyataan tertulis pihak istana.

Trump sebelumnya mengungkap telah menyepakati lawatan tersebut usai Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyerahkan sepucuk surat tulisan tangan dari Raja Charles di Gedung Oval. Dalam catatan diplomasi masa kini, penerimaan dua kali kunjungan kenegaraan untuk satu pemimpin terpilih tergolong langkah tak lazim.

Pada Juni 2019, Elizabeth II yang kala itu masih bertahta menyelenggarakan kunjungan kenegaraan pertama Trump dengan rangkaian acara seremonial di Istana Buckingham. Presiden AS saat itu berkesempatan makan siang privat dengan sang ratu dan menikmati jamuan teh bersama Charles, pewaris takhta ketika itu.

Kunjungan terbaru juga diwarnai agenda bilateral antara Trump dan Starmer, termasuk pertemuan lanjutan di Skotlandia pada akhir bulan ini. Seorang sumber Reuters menyatakan jadwal spesifik tengah dirampungkan, namun keduanya sudah menjalin hubungan kerja sama yang diklaim kian hangat.

Hubungan tersebut tercermin dalam kerangka kesepakatan perdagangan yang diteken di sela KTT G7, di mana beberapa tarif AS atas produk Inggris diturunkan. Pemerintahan baru Inggris berharap momentum itu memperkuat posisinya jelang pembicaraan dagang lebih besar dengan Washington.

Namun tidak semua pihak menyambut antusias. Pada Mei lalu, mantan Perdana Menteri Kanada Mark Carney menilai undangan kedua kepada Trump justru melemahkan upaya London memimpin front persatuan menentang sikap proteksionis Gedung Putih. Ia menuding langkah tersebut bertentangan dengan citra “kolaboratif” yang ingin diproyeksikan pemerintah Inggris.

Kunjungan Trump di masa lampau memicu gelombang demonstrasi masif di sejumlah kota Britania Raya. Pada 2018, lawatan kerjanya menelan biaya pengamanan lebih dari £14 juta karena melibatkan 10.000 polisi dari berbagai wilayah.

Survei publik menunjukkan sebagian besar warga Inggris memandang Trump secara negatif. Meski demikian, protokol kunjungan kenegaraan tetap menjanjikan prosesi penuh kemegahan seperti arak-arakan kereta kuda di pusat kota London dan jamuan kenegaraan di Istana Buckingham.

Dalam tradisi diplomatik Inggris, upacara tersebut berfungsi mempererat hubungan bilateral dan menonjolkan kekhasan monarki parlementer. Kunjungan Trump kali ini diprediksi kembali memancing protes, namun pemerintah menilai manfaat ekonomi dan strategisnya dapat meneguhkan posisi Inggris sebagai mitra utama Amerika Serikat pasca-Brexit.

“Pertemuan ini memiliki arti penting bagi kedua negara,” ujar seorang pejabat kantor perdana menteri yang enggan disebutkan namanya.

Ia menegaskan keamanan publik tetap prioritas dan koordinasi lintas lembaga telah disiapkan untuk meminimalkan potensi gangguan.

Presiden Trump sendiri menyatakan antusiasme bertemu Charles III setelah sebelumnya hanya berkesempatan berbincang singkat pada acara pemakaman kenegaraan Ratu Elizabeth II. Ia memuji raja baru sebagai sosok “visioner” dan menyebut hubungan transatlantik “semakin kokoh”.

Kedatangan Presiden beserta Ibu Negara dipastikan menyedot perhatian media global, terutama menyangkut prospek kesepakatan perdagangan lanjutan. Pemerhati diplomasi menilai Inggris berusaha menegosiasikan akses pasar yang lebih luas, sementara AS ingin mengamankan komitmen perdagangan pasca-tarif baru terhadap sejumlah mitra dagang.

Di tengah suasana politik domestik yang masih dipengaruhi debat perang dagang, lawatan ini diperkirakan menjadi panggung penting bagi Trump menjelang pemilu presiden berikutnya. Bagi Charles III, kesempatan kedua menjamu kepala negara Amerika Serikat bakal mengukuhkan peran simboliknya dalam diplomasi kerajaan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.