Danantara Siap Tarik $3 Miliar dari Fasilitas Kredit Swasta Pertama Senilai $10 Miliar untuk Investasi Strategis
Jumat, 11 Jul 2025, 16:00 WIBJAKARTA - Dana kekayaan negara Indonesia, Danantara, dikabarkan akan menarik dana awal sebesar $3 miliar dari total fasilitas kredit $10 miliar yang diperolehnya dari lima bank asing. Dana tersebut akan digunakan untuk mendanai sejumlah proyek investasi strategis, termasuk pembangunan pabrik kimia dan pembiayaan bersama dengan Qatar Investment Authority (QIA) dan China Investment Corporation (CIC).
Fasilitas kredit tersebut menjadi tonggak penting karena merupakan pendanaan sektor swasta pertama yang diterima Danantara sejak didirikan pada Februari 2025, serta menandai pinjaman swasta terbesar yang pernah disalurkan oleh bank-bank asing di Asia Tenggara jika ditarik secara penuh. Dana ini akan menjadi mesin awal pendanaan ambisi ekonomi Presiden Prabowo Subianto, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% dan nilai ekonomi sebesar $1,5 triliun, jauh melampaui capaian saat ini sekitar 5%.
Salah satu proyek yang akan dibiayai dari penarikan awal adalah pabrik klor-alkali dan etilen diklorida senilai sekitar $800 juta milik perusahaan petrokimia Chandra Asri Pacific (TPIA.JK). Proyek tersebut akan memproduksi bahan kimia penting untuk sektor pengolahan air, sabun, nikel, dan alumina. Danantara dan Otoritas Investasi Indonesia telah menyatakan minat untuk masuk sebagai investor baru dalam proyek ini sejak Juni.
Danantara juga diketahui telah menandatangani nota kesepahaman dengan QIA dan CIC untuk peluang investasi bersama, meskipun belum ada konfirmasi proyek mana yang akan didanai melalui skema ini dari penarikan awal tersebut.
Adapun lima bank asing yang ditunjuk sebagai lead arrangers dalam fasilitas kredit jumbo ini adalah:
-
DBS
-
HSBC
-
Natixis SA
-
Standard Chartered
-
United Overseas Bank (UOB)
Mereka termasuk dari total 11 bank yang sebelumnya mengajukan proposal pendanaan. Masing-masing bank disebut telah berkomitmen memberi pinjaman sebesar $1 miliar tanpa jaminan atau garansi dari pemerintah Indonesia. Fasilitas ini akan tersedia selama tiga tahun ke depan, dan memiliki suku bunga setara dengan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia. Sebagai perbandingan, pemerintah menjual obligasi dolar AS senilai $900 juta pada Januari lalu dengan yield 5,30%.
Sumber menyebutkan bahwa sejumlah bank asing lain juga sempat mengajukan proposal pinjaman, namun gagal mencapai kesepakatan karena menginginkan jaminan pemerintah, sesuatu yang tidak diakomodasi Danantara.
Hingga saat ini, Danantara belum berencana menerbitkan obligasi, dan lebih memilih pendekatan pinjaman sektor swasta dalam mendanai berbagai proyek. Langkah ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap entitas baru tersebut yang diberi mandat mengelola aset negara senilai lebih dari $900 miliar.
- Perekonomian
- Danantara
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu di Serang Bertahan dengan Cara Pahit
-
Trump Mobile T1 Handphone Keluaran Perusahaan Presiden AS, Ini Spesifikasi dan Harganya!
-
Gubernur Jambi Rogoh Kocek Pribadi Selamatkan Korban 'Online Scam' di Kamboja, Satu Orang Malah Hilang
-
Gawat, Imbas Perang Timur Tengah, Harga Plastik di Baturaja Meledak Dua Kali Lipat
-
Harga BBM Naik Akibat Perang Iran, Pakistan Gratiskan Transportasi Umum
-
Reformasi Investasi Danantara Dinilai Bisa Tekan Gelombang PHK
-
Tak Perlu Ribet, Kartu Nusuk Jamaah Haji Dibagikan via One Stop Service di Padang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.