Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jangan Kasih Kendor! Pemerintah Harus Blokir Rekening Penerima Bansos untuk Judol

📅 Rabu, 09 Jul 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Jangan Kasih Kendor! Pemerintah Harus Blokir Rekening Penerima Bansos untuk Judol Doc: antara
Ket. Perlindungan Konsumen - Pemerintah Perlu Melihat Judol sebagai Masalah Struktural

JAKARTA - Pemerintah harus segera menindaklanjuti laporan mengenai banyaknya rekening penerima program bantuan sosial (bansos) terindikasi terlibat judi online (judol). Pemerintah perlu mengecek rekening tersebut dan menindak tegas jika terlibat dalam kegiatan judol.

Tercatat lebih dari setengah juta nomor induk kependudukan (NIK) penerima bansos terlibat pemain judol. Peneliti Ekonomi dan Digital Celios, Nailul Huda menilai pemerintah dan otoritas terkait harus mengecek terlebih dahulu apakah rekening tersebut memang digunakan untuk bermain judi online oleh penerima bansos sendiri atau digunakan oleh orang lain.

Menurut Huda, banyak di luar sana yang memanfaatkan rekening kosong untuk jadi tempat penampungan judol, baik bandar maupun pemain. "Jadi harus berhati-hati dalam menentukan bahwa pemain atau bukan. Ketika sudah terindikasi ada penyimpangan penggunaan bansos yang digunakan untuk judi online, segera bekukan rekening tersebut agar menjadi efek jera," tegas Huda di Jakarta, Selasa (8/7).

Menurutnya, modus atau motif orang bermain judol adalah ingin mendapatkan uang dengan cara mudah dan cepat. Terlebih lagi, jika melihat himpitan ekonomi di kelas menengah bawah yang semakin kuat.

"Harga-harga kebutuhan pokok melejit, pendapatan hanya naik 1,5 persen, hingga kehilangan pekerjaan. Motif mereka mendapatkan dana tambahan dengan mudah dan cepat yakni dari bermain judol," jelasnya.

Karenanya, Huda memperingatkan pemerintah perlu melihat masalah judol ini sebagai masalah struktural. Pendapatan yang naik terbatas dan harga-harga naik signifikan, membuat orang bermain judi online demi mendapatkan tambahan pendapatan.

"Jangan memfasilitasi dengan 'legalisasi' judol melalui perpajakan, namun dengan memberikan pendapatan yang layak agar mereka tidak mencari tambahan pendapatan dari judi online. Salah satunya melalui sistem pengupahan yang adil terhadap pekerja/ buruh," jelas Huda.

Dia menambahkan, jika memang masalah literasi digital masih rendah, maka arus informasinya harus dipotong. Media sosial, lanjutnya, masih menjadi tempat terbanyak digunakan untuk mendapatkan informasi terkait judi online.

"Konten-konten di media sosial yang cukup terbuka, menjadi lahan empuk marketing judi online," ujarnya.

Dahulu, terangnya, banyak influencer ataupun konten kreator yang mengiklankan judi online secara terang-terangan.

Seperti diketahui, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan 571.410 NIK, yang terdaftar sebagai penerima bansos, terlibat menjadi pemain judol sepanjang 2024.

Total deposit judi online dari 571.410 NIK penerima bantuan sosial selama 2024 itu mencapai 957 miliar rupiah dengan 7,5 juta kali transaksi. "Jika data kami kembangkan, mungkin bisa lebih banyak lagi," ujar Koordinator Kelompok Humas PPATK Natsir Kongah.

Desak Bank

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perbankan memblokir sekitar 17.026 rekening terindikasi judol, berdasarkan data yang disampaikan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Belajar merangkai kain batik di Semarang

51 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Daerah
DPRD DKI: Digitalisasi Park...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.