Nekat Melintasi Perbatasan Darat, Warga Korea Utara Ditangkap Militer Seoul

Jumat, 04 Jul 2025, 11:06 WIB

SEOUL - Seorang warga Korea Utara yang melintasi perbatasan darat yang dijaga ketat ke Selatan telah ditangkap dan ditahan, kata militer Seoul, Jumat (4/7).

Warga Korea Utara berhasil melintasi Garis Demarkasi Militer (MDL) di bagian barat tengah Zona Demiliterisasi pada hari Kamis, kata Kepala Staf Gabungan Seoul.

Ket. Foto: Pos jaga militer Korea Utara, pengeras suara (kiri atas), dan tentara Korea Selatan (kanan bawah), terlihat dari Paju, Korea Selatan, dekat perbatasan dengan Korea Utara, pada 12 Juni 2025. — Sumber: AP

MDL adalah perbatasan de facto, yang membentang di tengah-tengah DMZ -- wilayah perbatasan yang memisahkan kedua Korea, yang merupakan salah satu tempat dengan ranjau terbanyak di dunia.

"Militer mengidentifikasi individu di dekat MDL, melakukan pelacakan dan pengawasan," kata JCS dalam sebuah pernyataan.

"Kemudian berhasil melaksanakan operasi pemanduan standar untuk mengamankan tahanan," tambahnya.

Militer Seoul mengatakan "otoritas terkait" akan menyelidiki keadaan terperinci dari insiden tersebut.

Warga Korea Utara biasanya diserahkan ke badan intelijen Seoul untuk disaring ketika mereka tiba di Selatan.

Insiden itu terjadi setelah sebuah perahu kayu yang membawa empat warga Korea Utara hanyut ke perairan selatan perbatasan laut de facto pada bulan Mei.

Warga Korea Utara lainnya membelot ke Selatan melintasi perbatasan de facto di Laut Kuning tahun lalu, tiba di Pulau Gyodong di lepas pantai barat semenanjung dekat perbatasan antara kedua Korea.

Puluhan ribu warga Korea Utara telah melarikan diri ke Korea Selatan sejak semenanjung itu terbagi akibat perang pada tahun 1950-an, sebagian besarnya pergi melalui darat ke negara tetangga Tiongkok terlebih dahulu, kemudian memasuki negara ketiga seperti Thailand sebelum akhirnya berhasil mencapai Selatan.

Pembelotan melintasi perbatasan darat yang membagi semenanjung jarang terjadi.

Jumlah pelarian yang berhasil turun secara signifikan dari tahun 2020 setelah Korea Utara menutup perbatasannya, konon dengan perintah tembak di tempat di sepanjang perbatasan darat dengan Tiongkok, untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, yang menjabat bulan lalu, berjanji mengambil pendekatan yang lebih lunak terhadap Pyongyang dibandingkan dengan pendahulunya yang bersikap keras, Yoon Suk Yeol.

"Politik dan diplomasi harus ditangani tanpa emosi dan didekati dengan alasan dan logika," kata Lee pada hari Kamis.

"Memutus dialog sepenuhnya adalah hal yang bodoh untuk dilakukan." 

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.