Tarif Resiprokal Menggantung, Pemerintah RI Masih Wait and See
Rabu, 02 Jul 2025, 16:35 WIBJAKARTA â Negosiasi tarif yang berhasil dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia di AS, terutama produk unggulan seperti garmen, alas kaki, dan furnitur. Negosiasi yang konstruktif dapat mencegah terjadinya eskalasi konflik perdagangan dan menjaga hubungan bilateral yang baik.
Peningkatan ekspor akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan negara. Penurunan tarif impor dapat membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar AS, dibandingkan dengan produk dari negara lain.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah sedang menunggu tanggapan (feedback) ????berkaitan dengan proses negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (AS).
"Indonesia sudah memberikan second offer seperti yang saya sudah sampaikan, dan second offer ini sudah diterima oleh USTR (United States Trade Representative) dan sudah di-review, tentu Indonesia tinggal menunggu feedback, apakah masih ada feedback tambahan berkait dengan proses negosiasi yang ada," ujarnya di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (2/7).
Beberapa hari yang lalu, pemerintah Indonesia disebut menyampaikan penawaran kedua terbaik atau second best offer dalam upaya negosiasi tarif resiprokal yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.
Menjelang batas akhir negosiasi yang jatuh pada 8 Juli mendatang, Airlangga mengatakan bahwa permintaan yang diajukan pemerintah AS, baik berupa tarif maupun hambatan dagang, telah disepakati oleh pemerintah Indonesia.
Pihaknya sudah berkomunikasi langsung dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang pada prinsipnya mengapresiasi sejumlah tawaran dari Indonesia.
Namun tentunya, keputusan akhir negosiasi tarif antara Indonesia dan AS tidak bergantung pada satu pihak.
Pemerintah AS harus berkoordinasi dengan USTR, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan.
Hasil akhir dari negosiasi yang telah melalui pertukaran dokumen berulang kali antara Indonesia-AS bersifat dinamis karena mempertimbangkan negara-negara lain yang juga melakukan negosiasi tarif.
"Saat sekarang, tim Indonesia standby di Washington dan di China. Kita tunggu saja bagaimana pemerintah Amerika merespons, dan hari ini mereka sedang sibuk urusan budget, peak budget itu sampai tanggal 4 (Juli). Jadi, mungkin sesudah itu baru masalah tarif ini bisa terbahas selanjutnya," ungkap Airlangga.
Batas akhir negosiasi tarif jatuh pada 8 Juli 2025 atau 90 hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengenaan tarif resiprokal kepada negara-negara mitra dagang utamanya pada awal April 2025.
Permintaan utama pemerintah AS saat mengenakan tarif resiprokal 32 persen ke Indonesia dinilai sebatas menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara.
- tarif resiprokal
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Deal, Trump Umumkan Capai Kesepakatan Tarif dengan Indonesia, Produk RI Dikenakan Tarif 19%
-
HIMKI Dukung Pemerintah Perjuangkan Tarif Preferensial Ekspor Mebel dan Kerajinan ke AS
-
Agar Ekspor Ikan Tak Terganggu, RI Jalin Kerjasama Pengawasan Mutu dengan AS
-
RI Gagal Lakukan Negosiasi Tarif, Ada 1,2 Juta Pekerja yang Terancam Kehilangan Pekerjaan
-
Kemenperin Tegaskan Komitmen Lindungi Industri Dalam Negeri, Siap Lanjutkan Ruang Negosiasi untuk Jaga Akses Ekspor
-
Taylor Swift Umumkan Tanggal Perilisan Album Terbarunya
-
Tekanan Dagang Menurun, RI Harus Optimalkan untuk Pacu Ekspor ke AS
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.