Ilmuwan: Material Seringan Bulu Jadi Solusi Kelangkaan Air

Selasa, 24 Jun 2025, 01:00 WIB

Sydney - Sebuah tim ilmuwan internasional telah menciptakan nanomaterial yang sangat ringan dan mampu secara efisien menarik sejumlah besar air layak konsumsi dari uap air di udara.

Nanomaterial itu, aerogel oksida grafena dengan kalsium yang ditingkatkan, mengisap uap air lebih dari tiga kali lebih cepat daripada teknologi yang ada saat ini serta menahan lebih dari tiga kali bobotnya sendiri di dalam air, menurut pernyataan dari University of New South Wales (UNSW) pada Senin (23/6).

Ket. Foto: Ilmuwan UNSW Xiaojun Ren memegang aerogel graphene oxide. — Sumber: Foto: University of New South Wales

Seperti dikutip dari Antara, material revolusioner ini, yang memiliki bobot sangat ringan namun berdaya serap tinggi, dirancang untuk efisien dalam memanen uap air dari atmosfer. Dengan kemampuan uniknya, material ini bisa menjadi kunci untuk menyediakan akses air minum di daerah-daerah terpencil atau wilayah yang kering, di mana sumber air tradisional sulit dijangkau.

Proyek ini, yang dipimpin oleh Australian Research Council Center of Excellence for Carbon Science and Innovation (ARC COE-CSI) dan melibatkan peraih Nobel Profesor Kostya Novoselov yang berbasis di National University of Singapore, menemukan bahwa memasukkan ion kalsium ke dalam oksida grafena menghasilkan sinergi molekuler yang tak terduga, menurut pernyataan tersebut.

Sinergi ini memperkuat ikatan hidrogen, memungkinkan adsorpsi air yang jauh lebih tinggi daripada yang dapat dicapai oleh salah satu komponen saja, yang disebut oleh para peneliti sebagai efek "1+1>2", menurut pernyataan itu.

"Ikatan hidrogen yang lebih kuat dari perkiraan ini adalah salah satu pemicu kemampuan ekstrem material ini untuk mengisap air," kata Ren Xiaojun dari UNSW School of Material Science and Engineering, penulis utama studi ini.

Ramah Lingkungan

Para peneliti menjelaskan bahwa teknologi di balik material ini memanfaatkan prinsip penyerapan dan kondensasi uap air secara pasif, tanpa membutuhkan sumber energi yang besar. Ini menjadikannya solusi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, sangat relevan untuk tantangan iklim global saat ini.

Studi yang dipublikasikan di Proceedings of National Academy of Sciences (PNAS) ini menggabungkan pendekatan eksperimental dan teoretis, memanfaatkan superkomputer Infrastruktur Komputasi Nasional Australia di Canberra untuk simulasi tingkat lanjut, ujar para peneliti.

Para mitra industri bekerja untuk meningkatkan skala teknologi ini, yang dikembangkan oleh tim yang terdiri dari Australia, Tiongkok, Jepang, Singapura, dan India.

Meskipun masih dalam tahap pengembangan, potensi dari material seringan bulu ini sangat besar. Jika berhasil diterapkan secara luas, terobosan ini tidak hanya akan membantu jutaan orang mendapatkan akses air bersih, tetapi juga dapat mengubah lanskap pengelolaan sumber daya air di masa depan.

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.