“Terang dari Tampelas”: Proyek Konservasi Berbasis Alam di Kalimantan Tengah Jadi Inspirasi Pembangunan Berkelanjutan
Minggu, 22 Jun 2025, 17:25 WIBPRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus) menyelenggarakan Forum Praksis Seri ke-10 bertajuk âTerang dari Tampelas: Menyalakan Keberlangsungan Fungsi Alam di Hutan Kalimantanâ. Acara ini digelar sebagai bagian dari upaya menggemakan semangat ensiklik Laudato Siâ Paus Fransiskus, yang menyerukan pelestarian bumi sebagai rumah bersama. Fokus forum kali ini adalah Project Tampelas, sebuah inisiatif pembangunan tingkat lokal di Kalimantan Tengah yang mendorong konservasi berbasis masyarakat dan pelestarian lahan gambut.
Project Tampelas dilaksanakan di Desa Tampelas, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengahâdesa berpenduduk 420 jiwa yang berdiri di atas lahan gambut mudah terbakar. Proyek ini diinisiasi oleh PT Rimba Makmur Utama (RMU), yang didirikan oleh Rezal Kusumaatmadja, putra almarhum Menteri Negara Lingkungan Hidup (1993â1998), Sarwono Kusumaatmadja. Rezal berhalangan hadir dan diwakili dalam forum ini oleh Sigit Lingga dari Yayasan Bung Karno.
Dua narasumber utama yang berbicara dalam forum adalah Alexandra Bastedo (CEO Conservana Trading Advisory) dan Achmad Zakaria (CEO Tata Habitat sekaligus arsitek Project Tampelas). Alexandra menjelaskan pentingnya menjaga kelembapan lahan gambut sebagai upaya menahan pelepasan karbon. Ia menerangkan:
âDalam rentangan yang luas dan dalam, lahan gambut mampu menyerap karbon dalam jumlah besar sehingga tidak lepas ke atmosfir dan mendorong naiknya suhu bumi.â
Namun, jika lahan mengering akibat ulah manusia, karbon akan terlepas dan memperparah krisis iklim serta meningkatkan risiko kebakaran.
Melalui Project Tampelas, PT RMU secara bertahap mengubah sumber penghidupan masyarakat yang semula merusak hutan, menjadi pelestari lingkungan. Salah satu pendekatannya adalah mendorong budidaya ikan gabus (Channa sp.), yang jumlahnya melimpah di sekitar desa dan mengandung albumin bernilai ekonomi tinggi. RMU lalu merancang pendirian pabrik albumin bersama warga selama 1,5 tahun, dan membangunnya dalam 2,5 tahun berikutnya, dengan pendanaan hasil konservasi hutan. Energi untuk pabrik tersebut disuplai dari instalasi listrik tenaga surya.
âDalam proyek ini semboyan bhineka tunggal ika tidak sekedar menyangkut kebhinekaan dalam hal etnis, agama atau yang lain, melainkan lebih pada kebhinekaan dalam hal profesi,â ujar Alexandra.
âProfesi boleh berbeda-beda, tetapi tujuannya tetap satu, yakni membantu masyarakat untuk memperoleh penghidupan melalui pelestarian alam.â
Pendekatan ini tidak hanya berdampak ekologis tetapi juga sosial ekonomi. Sebelum proyek berjalan, pendapatan rata-rata penduduk hanya Rp30.000 per hari, dengan Rp25.000 digunakan untuk membeli solar, menyisakan Rp5.000 untuk kebutuhan hidup. Kini, pendapatan mereka meningkat tajam.
Kisah perubahan ini juga menyentuh pribadi Zakaria sebagai profesional. Ia mengaku:
âDulu saya bekerja sebagai arsitek yang dalam prakteknya merusak alam. Sejak terlibat dalam Project Tampelas ini saya menggunakan keahlian saya untuk bernegosiasi dan melestarikan alam.â
Forum ini juga memutar film dokumenter berdurasi 40 menit produksi PT RMU yang mendokumentasikan perjalanan Project Tampelas. Versi pendeknya telah tersedia di YouTube dengan judul âProject Tampelas: Shifting Intent into Action.â
Sigit Lingga dari Yayasan Bung Karno mengakhiri forum dengan refleksi historis. Ia menyebut Project Tampelas sebagai pengejawantahan langsung cita-cita Presiden Sukarno agar bangsa Indonesia menjaga dan memanfaatkan kekayaan alamnya secara mandiri.
âWaktu itu Sukarno mengirim banyak mahasiswa Indonesia ke luar negeri, dengan maksud agar sekembali mereka, para mahasiswa ini dapat memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk bangsa Indonesia sendiri,â ujar Sigit.
âSaat itu, Bung Karno menolak masuknya perusahaan asing, karena khawatir bahwa modal asing akan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia untuk kepentingan orang lain.â
PT RMU saat ini mengelola kawasan konservasi rawa gambut seluas 157.000 hektare yang mencakup 39 desa di Kalimantan Tengah. Desa Tampelas menjadi titik awal dari model pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas yang kini terbukti mampu menjaga lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.