AFC Beri Karpet Merah untuk Muluskan Qatar dan Arab ke Piala Dunia
Rabu, 18 Jun 2025, 00:30 WIBJAKARTA â Keputusan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menunjuk Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia menimbulkan pertanyaan besar. Apakah ini sekadar keputusan teknis atau justru karpet merah langkah politis yang sarat kepentingan untuk memuluskan Qatar dan Arab ke Piala Dunia. Hal tersebut diungkap pengamat sepak bola yang juga koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali.
Dalam sistem kompetisi tiga tim per grup dan hanya satu pertemuan dengan format round-robin, keuntungan kandang menjadi sangat krusial. Dalam situasi ini, dua negara kuat sekaligus peserta, Qatar dan Arab Saudi, justru mendapat hak istimewa menggelar laga penentu di tanah sendiri.
Qatar bukan pemain baru dalam percaturan sepak bola Asia. Negeri kaya gas itu telah menginvestasikan lebih dari  67 miliar dollar AS (lebih dari seribu triliun rupiah)   untuk menyukseskan Piala Dunia 2022. Hasilnya, bukan hanya sport tourism senilai 220 miliar dollar AS, tetapi juga pengakuan dunia akan kapasitas mereka sebagai penyelenggara.
Sementara itu, Arab Saudi memanfaatkan kekuatan finansialnya melalui Public Investment Fund (PIF). Liga domestik mereka, Saudi Pro League, kini dihuni nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo, Neymar, hingga Karim Benzema. Tak berhenti di situ, Arab Saudi telah ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Asia 2027 dan berencana menggelar Piala Dunia 2034.
Kini, cukup dengan dua kemenangan kandang, Qatar dan Arab Saudi berpeluang besar melenggang ke Amerika Serikat-Kanada-Meksiko. Sedangkan negara lain seperti Indonesia, Irak, UEA, dan Oman harus bertarung di medan yang tak menguntungkan: tanpa dukungan penuh suporter dan dalam atmosfer yang dikendalikan tuan rumah.
Beberapa federasi seperti Irak, UEA, dan Oman sempat mengajukan protes agar laga digelar di tempat netral. Namun suara mereka tak digubris. Indonesia pun kalah dalam proses bidding, meski sempat menyatakan minat menjadi tuan rumah. Namun, PSSI pasrah tak berbuat apa pun atas keputusan AFC ini.
Seleksi disebut berdasarkan peringkat FIFA, namun transparansi proses tetap dipertanyakan. âLangkah AFC ini menandai sentralisasi kekuatan di Asia Barat. Negara-negara seperti Indonesia, Uzbekistan, hingga Thailand kian terasa terpinggirkan dari peta kekuasaan. Dominasi kekayaan dan infrastruktur kini menentukan siapa yang tampil, bukan lagi semata kualitas teknis,â ujar Akmal.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa menggerus kepercayaan publik dan federasi terhadap netralitas AFC. Jika badan tertinggi Asia ini terus berpihak pada negara kaya, maka keseimbangan kompetitif akan kian timpang. Negara-negara nonkaya akan kesulitan berkembang, apalagi bersaing di level tertinggi.
âNamun di sisi lain, keputusan ini bisa menjadi alarm keras bagi negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia. Membangun sepak bola tak cukup hanya dengan semangat. Harus ada visi diplomasi olahraga, pengaruh regional, dan strategi investasi yang terukur dan jangka panjang,â jelasnya.
Karena sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah. Tapi tentang siapa yang diberi ruang bertarung secara setara. Dan jika keadilan tak lagi menjadi dasar pengambilan keputusan, maka masa depan sepak bola Asia pun sedang dalam bahaya.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Tujuan Aceh dan Medan, Ditjen Hubdat Lepas Keberangkatan Mudik Gratis
-
Estonia Sebut Russia Tak Punya Rencana Menyerang Kawasan Baltik
-
Hasil Liga Eropa: AS Roma Menang Telak 3-0 dari Celtic Berkat Dua Gol Evan Ferguson
-
Gencatan Senjata 2 Minggu AS-Iran Sukses Tekan Harga Minyak Dunia
-
Antisipasi Dampak Krisis Global, Beberapa Fraksi Parpol DPR Dukung Opsi Prabowo Kurangi Gaji Pejabat
-
Sabtu, SIM Keliling Siap Layani Warga Jakarta di Empat Lokasi
-
Puskas Award, Menunggu Kemenangan Rizky Ridho
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.