Rivalitas Alcaraz-Sinner Mewarisi Tahta Big Three

Rabu, 11 Jun 2025, 01:01 WIB

PARIS — Ketika Carlos Alcaraz mengangkat trofi di atas tanah liat Roland Garros usai lima jam 29 menit pertarungan tanpa jeda, dunia tenis menyaksikan bukan sekadar lahirnya juara baru, melainkan rivalitas yang siap mendominasi satu dekade ke depan. 

Final Prancis Terbuka 2025 antara Alcaraz dan Jannik Sinner tak hanya menyajikan drama tingkat tinggi dan pukulan-pukulan magis, tetapi juga mengirim pesan jelas: tenis putra telah menemukan pewaris sejati era Federer, Nadal, dan Djokovic.

Ket. Foto: alcaraz — Sumber: ist

Pertemuan dua pemain berusia di bawah 23 tahun ini menjadi yang pertama sejak lebih dari tiga dekade lalu di final Roland Garros. Namun bukan hanya usia yang membuatnya bersejarah. Intensitas, daya tahan fisik, dan kualitas teknis keduanya melampaui ekspektasi.

“Ini pertandingan paling mendebarkan yang pernah saya mainkan, tanpa ragu. Kali ini, pertandingan ini punya segalanya,” ucap Alcaraz usai memastikan gelar Grand Slam kelima kalinya.

Alcaraz bukan hanya menang. Dia selamat dari tiga match point di set keempat, menunjukkan mental baja yang mengingatkan publik pada kejayaan Rafael Nadal di Wimbledon 2008 ketika menaklukkan Roger Federer dalam laga yang dianggap terbaik sepanjang masa. Ironisnya, Alcaraz meraih gelar kelimanya di usia yang persis sama dengan Nadal saat meraih Grand Slam kelima: 22 tahun, satu bulan, dan tiga hari. “Itu takdir,” katanya.

Namun, ketika diminta membandingkan laga ini dengan duel legendaris lainnya, Alcaraz tetap merendah. “Saya tidak tahu apakah pertandingan kami setara dengan itu. Biarkan publik yang menilai. Tapi saya bahagia nama kami kini masuk dalam sejarah Grand Slam dan Roland Garros,” ucapnya.

Sinner pun tak kalah jantan menerima kekalahan. Petenis Italia ini tampil tanpa kompromi, memaksa Alcaraz menggali kekuatan terdalamnya. “Setiap rivalitas itu unik. Tapi melihat kami bisa bermain di level seperti ini, itu bagus bukan hanya untuk kami, tapi untuk masa depan tenis,” ujarnya.

Pertandingan ini juga menuai pujian dari para legenda. Federer menulis di media sosial, “Tiga pemenang kali ini di Paris: Carlos Alcaraz, Jannik Sinner, dan permainan tenis itu sendiri.” Nadal pun menyebutnya sebagai final yang luar biasa.

Tak hanya legenda tenis, bahkan skuad  tim nasional sepak bola Spanyol menyempatkan diri menyaksikan laga ini lewat ponsel di ruang ganti sebelum kalah dari Portugal di final UEFA Nations League. Hal ini menegaskan daya tarik pertandingan yang melampaui batas lapangan.

Komentator legendaris dan juara Grand Slam tujuh kali, Mats Wilander, tak ragu menyebut duel ini sebagai penanda era baru. “Saya tidak percaya, tapi mereka telah membawa tenis ke level yang lebih tinggi. Saya kira kita tak akan menyaksikan yang seperti ini lagi setelah era Rafa, Roger, dan Novak. Tapi pertandingan ini lebih cepat, lebih intens. Seolah-olah bukan manusia yang bermain,” ujarnya.

Wilander, yang memenangi final terpanjang di Roland Garros sebelumnya pada  tahun 1982, menambahkan, “Federer dan Nadal memang memainkan beberapa final hebat, tapi yang ini? Tidak ada yang mendekati. Mereka bermain di kecepatan yang tidak masuk akal.”

Rivalitas Alcaraz dan Sinner memang belum sepanjang “Big Three”, tapi kualitasnya tak kalah. Sejak pertemuan pertama mereka di Paris Masters 2021, Alcaraz unggul 8-4 dalam rekor pertemuan. Lima kemenangan terakhir berada di tangan petenis Spanyol itu, namun keduanya masih berada di awal masa keemasan mereka.

Dengan Federer dan Nadal yang telah pensiun serta Djokovic yang menginjak usia 38, pertandingan ini menjawab pertanyaan siapa yang akan mengisi kekosongan takhta tenis putra. Jawabannya jelas: Alcaraz dan Sinner.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.