Tantangan Carlo Ancelotti Saat Memulai Era Baru Bersama Timnas Brasil

Kamis, 05 Jun 2025, 15:00 WIB

SÃO PAULO — Carlo Ancelotti resmi memulai kiprahnya sebagai pelatih Timnas Brasil, menandai era baru yang penuh harapan dan tekanan. Laga perdana pelatih asal Italia itu akan berlangsung Jumat (6/6) pagi WIB, saat Brasil bertandang ke markas Ekuador dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026.

Ancelotti menjadi pelatih asing pertama Brasil dalam lebih dari 50 tahun. Kehadirannya disambut hangat, namun tugas berat langsung menanti. Setelah periode kelam di bawah arahan Fernando Diniz dan Dorival Junior, publik Brasil menuntut perubahan nyata. Berikut lima tantangan utama yang harus dihadapi sang maestro:

Ket. Foto: Pelatih Tim Nasional Brasil, Carlo Ancelotti. — Sumber: AFP

1.Wajib Lolos ke Piala Dunia 2026, Wajib Hukumnya

Meski Brasil saat ini duduk di peringkat keempat klasemen kualifikasi zona CONMEBOL, posisi mereka belum sepenuhnya aman. Dengan hanya empat laga tersisa dan jarak enam poin dari Venezuela di posisi ketujuh, Selecao tak boleh terpeleset lagi.

Brasil masih harus menghadapi tim-tim tangguh seperti Ekuador dan Paraguay, sebelum menutup kualifikasi melawan juru kunci Chile dan Bolivia. “Satu-satunya target adalah memenangkan Piala Dunia 2026,” tegas Ancelotti. Namun sebelum mimpi itu, tiket ke Amerika Utara harus diamankan lebih dulu.

2. Menghidupkan Kembali Nomor 9

Brasil dikenal sebagai produsen striker legendaris seperti Romario, Ronaldo, dan Adriano. Namun dalam satu dekade terakhir, posisi nomor 9 seakan mandek. Kini, Richarlison menjadi satu-satunya striker murni dalam skuad, meski performanya di Tottenham naik-turun.

Ancelotti bisa saja mengulangi strateginya di Real Madrid—mengandalkan winger seperti Vinicius Jr dan Raphinha sebagai ujung tombak serangan. Tapi absennya striker murni tetap menjadi kekosongan yang mencolok.

3. Siapa Jenderal Lapangan Tengah?

Lini tengah juga menjadi titik rawan. Dalam beberapa pertandingan terakhir, nama-nama seperti Bruno Guimaraes, Gerson, Andre, dan Joelinton belum mampu menjadi penyambung serangan yang kreatif.

Brasil tak punya gelandang berkelas Toni Kroos seperti yang dimiliki Ancelotti di Madrid. Ia pun memanggil kembali Casemiro, meski usianya sudah 33 tahun dan berperan sebagai gelandang bertahan. Ancelotti berharap pengalaman sang pemain bisa membawa stabilitas di tengah minimnya playmaker murni.

4. Krisis Bek Sayap

Cafu, Roberto Carlos, hingga Dani Alves pernah menjadikan bek sayap Brasil sebagai senjata utama. Tapi kini, stok bek eksplosif makin menipis. Untuk laga kontra Ekuador, Ancelotti memanggil Carlos Augusto (Inter Milan), Wesley Franca, dan Alex Sandro dari Flamengo—bukan nama-nama yang membangkitkan optimisme tinggi.

Kembalinya peran bek sayap ofensif bisa menjadi kunci bagi Ancelotti untuk menghidupkan kembali gaya bermain “jogo bonito” yang dirindukan.

5. Rebut Hati Rakyat Brasil

Di luar taktik dan formasi, Ancelotti juga harus memulihkan hubungan retak antara timnas dan suporter. Performa buruk serta politisasi seragam kuning oleh pendukung ekstrem kanan mantan Presiden Jair Bolsonaro membuat banyak fans menjauh.

“Persoalan jersey yang diidentikkan dengan kelompok sayap kanan ekstrem telah menjauhkan sebagian rakyat dari timnas,” kata jurnalis senior Juca Kfouri. Ancelotti sendiri telah mengajak publik untuk kembali mendukung tim. “Saya berharap mendapat dukungan dan bantuan dari seluruh rakyat Brasil,” ujarnya.

Ancelotti memang bukan orang Brasil, namun ia datang dengan segudang pengalaman dan segunung harapan. Laga melawan Ekuador akan menjadi panggung perdana baginya untuk menunjukkan bahwa ia bisa mengembalikan kejayaan Selecao—di lapangan dan di hati rakyat.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.