- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Gandakan Tarif Baja ...
Trump Gandakan Tarif Baja dan Aluminium Jadi 50 Persen, Picu Ketegangan Dagang Global
Minggu, 01 Jun 2025, 15:40 WIBJAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor baja dan aluminium dari 25 persen menjadi 50 persen, dalam langkah terbaru yang memperdalam tensi perang dagang global dan memperketat perlindungan terhadap industri baja domestik AS.
"Kami akan menaikkan tarif baja ke Amerika Serikat dari 25 persen menjadi 50 persen, untuk semakin mengamankan industri baja nasional," ujar Trump dalam kampanye di Pennsylvania, negara bagian yang menjadi medan penting pemilu presiden.
Kebijakan ini diumumkan beberapa jam setelah Trump menuduh China melanggar perjanjian terkait pencabutan tarif dan pembatasan perdagangan mineral penting. Ia juga menyebut bahwa tarif baru tersebut akan mulai berlaku pada hari Rabu (waktu setempat) dan mencakup produk aluminium.
Trump menyampaikan pengumuman tersebut di kawasan Mon Valley Works, milik US Steel â simbol kejayaan dan kemunduran industri manufaktur AS. Ia juga menyinggung kesepakatan akuisisi senilai US$14,9 miliar antara Nippon Steel dan US Steel sebagai bagian dari strategi untuk mempertahankan lapangan kerja baja di AS.
Dampak langsung terasa di pasar saham, dengan saham Cleveland-Cliffs Inc, produsen baja utama AS, melonjak 26 persen setelah jam perdagangan berakhir. Investor tampaknya yakin kebijakan tarif baru akan menguntungkan produsen baja domestik.
Namun, pengumuman ini memicu reaksi keras dari mitra dagang utama AS:
-
Kanada melalui Kamar Dagangnya mengecam kebijakan ini sebagai âbertentangan dengan keamanan ekonomi Amerika Utaraâ, karena memutus rantai pasokan lintas batas yang efisien dan andal.
-
Serikat pekerja United Steelworkers Kanada menilai kebijakan ini sebagai âserangan langsung terhadap industri dan pekerja Kanadaâ.
-
Uni Eropa menyebut kebijakan ini menambah ketidakpastian dan siap membalas dengan tindakan balasan.
-
Australia, melalui Menteri Perdagangan Don Farrell, menyebut kenaikan tarif ini âtidak dapat dibenarkan dan bukan tindakan seorang teman.â
AS saat ini adalah importir baja terbesar di dunia, dengan total impor mencapai 26,2 juta ton pada 2024 menurut Departemen Perdagangan AS. Kenaikan tarif ini diyakini akan meningkatkan harga baja dan aluminium secara keseluruhan, yang pada akhirnya membebani industri hilir dan konsumen.
Tarif baja dan aluminium merupakan bagian dari kebijakan perdagangan Trump yang konsisten sejak masa jabatan pertamanya. Tarif ini diberlakukan berdasarkan Pasal 232 otoritas keamanan nasional, dan mencakup logam mentah hingga produk turunan seperti kompor gas, wajan aluminium, hingga engsel pintu baja.
Sebagai perbandingan, tarif hukuman pertama Trump pada 2018 terhadap produk industri China mencakup nilai impor tahunan sebesar US$50 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan total nilai impor baja dan aluminium yang terkena tarif baru, yakni sekitar US$147,3 miliar pada 2024.
Kebijakan ini mempertegas sikap proteksionis Trump menjelang pemilu presiden, sekaligus memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik dagang global yang bisa berdampak pada stabilitas ekonomi dunia.
Berita Terkait:
-
Resmi! Gennaro Gattuso Jadi Pelatih Timnas Italia
-
Tekanan Pasar Menguat, BI Laporkan Modal Asing Keluar Rp3,79 Triliun
-
Setop Beli Minyak Russia, Trump Turunkan Tarif India Menjadi 18%
-
Indonesia Kirim Airlangga ke AS Usai Trump Umumkan Tarif 32 Persen
-
Indonesia Gencarkan Diplomasi Dagang, Teken Kesepakatan Energi dengan Raksasa AS untuk Cegah Tarif
-
Ekspor Kopi Indonesia Tetap Tumbuh Di Tengah Tarif Impor 19 Persen AS
-
Zverev Dekati Lolos ke ATP Finals, Djokovic Mundur
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.