NTT Makin Melek Digital, Pengguna QRIS Naik Tajam di Triwulan I
Kamis, 29 Mei 2025, 14:49 WIBKUPANG - Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mempermudah proses pembayaran dengan hanya menggunakan satu QR Code yang bisa digunakan untuk semua aplikasi pembayaran digital. QRIS menyatukan berbagai sistem pembayaran elektronik yang sebelumnya terpisah menjadi satu sistem yang lebih efisien.Â
Semua transaksi QRIS tercatat secara digital, sehingga pelaku usaha bisa melacak pemasukan dan pengeluaran dengan mudah. Pencatatan digital transaksi QRIS mengurangi risiko kesalahan pencatatan atau kecurangan.Â
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur mencatat jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di NTT mencapai 310 ribu orang pada triwulan I 2025 dan tumbuh 30,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 305,6 ribu pengguna.
Ekonom Bank Indonesia NTT, Teguh Ersada Natail Sitepu kepada wartawan di Kupang, Kamis (29/5), mengatakan peningkatan tersebut merupakan hasil dari percepatan digitalisasi sistem pembayaran yang terus didorong oleh Bank Indonesia bersama mitra strategis.
âPertumbuhan QRIS ini tidak hanya mencerminkan perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi, tetapi juga keberhasilan edukasi digital di berbagai lapisan, termasuk pelaku UMKM,â katanya.
Selain peningkatan jumlah pengguna, jumlah merchant yang menerima pembayaran melalui QRIS juga mengalami lonjakan.
Pihaknya mencatat pada triwulan I 2025 tercatat sebanyak 271 ribu merchant, naik 40,9 persen dari tahun 2024 yang berjumlah 257,7 ribu merchant.Â
BI NTT juga menargetkan target merchant hingga akhir tahun 2025 sebanyak 290,3 ribu.
Lebih lanjut, kata dia, jumlah transaksi QRIS sepanjang triwulan I 2025 mencapai 5,5 juta transaksi, atau 20,6 persen dari total target tahun 2025 sebesar 26,5 juta transaksi.
Sepanjang tahun 2024, total volume transaksi QRIS mencapai 22,4 juta transaksi.
Teguh menambahkan wilayah dengan pengguna QRIS tertinggi di NTT saat ini adalah Kota Kupang, yang menyumbang sekitar 23 persen dari total pengguna QRIS di provinsi tersebut.Â
Sementara itu, pengguna QRIS terendah tercatat di Kabupaten Sabu Raijua, dengan kontribusi kurang dari 1 persen.
Pihaknya juga menilai, tren peningkatan transaksi non-tunai ini sejalan dengan penurunan outflow uang kartal di wilayah NTT, serta peningkatan transaksi e-commerce yang tumbuh lebih dari 61 persen (yoy).
âKe depan, kami akan terus mendorong perluasan adopsi QRIS di seluruh wilayah NTT, termasuk daerah kepulauan, agar manfaat ekonomi digital dapat dirasakan lebih merata,â pungkas Teguh.
Dia juga menilai bahwa untuk terus meningkatkan pertumbuhan QRIS di NTT kapasitas UMKM dan pelaku usaha sektor riil perlu terus ditingkatkan, agar dapat menangkap peluang dari ekosistem pembayaran digital secara maksimal.
BI juga berkomitmen memperluas pelatihan dan pendampingan agar pelaku UMKM tak hanya menjadi pengguna, tetapi juga penggerak utama ekosistem digital daerah.
Melalui program digitalisasi dan pemanfaatan QRIS secara luas, BI NTT berharap ekonomi digital bisa menjadi pengungkit utama pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
KPK Lantik 6 Pimpinan Tinggi Pratama, Termasuk Direktur Penyelidikan dan Penuntutan
-
Pemprov Papua Tengah Buka Peluang Koperasi Masyarakat Adat Kelola Tambang
-
Mulai 28 Februari 2026, Bulog Ekspor 2.280 Ton Beras Haji ke Arab Saudi
-
Kemenekraf Targetkan Penyaluran KUR Berbasis KI Rp10 Triliun
-
Menko Pangan Dorong Penguatan Sanksi Pengelolaan Sampah
-
Wapang TNI Buka Dikreg LV Sesko TNI TA 2026, Siapkan Pemimpin Strategis Masa Depan
-
Bumi Berseru Fest, Cara Telkom Perkuat Komunitas Lokal Hadapi Perubahan Iklim
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.