Harga Pangan Diharapkan Tetap Stabil Saat Produksi Meningkat

Rabu, 28 Mei 2025, 01:15 WIB

JAKARTA - Pemerintah menyatakan produksi beras nasional meningkat signifikan 51 persen pada kuartal I-2025 dibanding periode yang sama tahun 2024 atau year on year (yoy). Selain beras, produksi jagung juga melonjak 39 persen. Lonjakan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan banyak pihak yang terkait.

Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono mengatakan data tersebut mengacu pada laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis baru-baru ini. “Ini capaian luar biasa berkat kerja keras petani sebagai aktor utama, serta dukungan dari berbagai pihak,” kata Sudaryono dalam kunjungan kerjanya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (27/5).

Ket. Foto: Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono - Untuk produksi beras, TNI punya peran besar dalam pendampingan dan fasilitasi di lapangan. Sedangkan untuk jagung, Polri turut mendorong peningkatan produktivitas dengan berbagai bentuk dukungan. — Sumber: antara

Menurut dia, pencapaian itu tidak lepas dari peran kolaboratif antara petani, penyuluh pertanian, serta institusi negara seperti TNI dan Polri.

“Untuk produksi beras, TNI punya peran besar dalam pendampingan dan fasilitasi di lapangan. Sedangkan untuk jagung, Polri turut mendorong peningkatan produktivitas dengan berbagai bentuk dukungan,” tuturnya.

Sudaryono juga menyoroti dukungan dari kepala daerah, kepala desa, dinas pertanian, hingga para penyuluh yang berada di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP).

Wamen dalam kesempatan tersebut, turut menyampaikan sejumlah kebijakan strategis yang mencerminkan komitmen pemerintah pusat dalam mendukung sektor pangan dan petani. Salah satunya adalah penambahan kuota pupuk bersubsidi dari sebelumnya 4,7 juta ton menjadi 9,5 juta ton pada tahun ini.

“Kebijakan ini diambil untuk mengatasi kelangkaan pupuk yang sempat terjadi pada tahun lalu. Pemerintah juga menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah minimal 6.500 rupiah per kilogram, sebagai bentuk keberpihakan terhadap petani,” tuturnya.

Swasembada Pangan

Menanggapi pencapaian itu, Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rizal Edi Halim mengatakan, capain peningkatan beras dan jagung itu perlu dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah untuk menopang swasembada pangan.

Ketika produksi meningkat, maka harus dipastikan harga tetap terjaga di tingkat masyarakat. “Itu untuk apa, untuk memastikan harga di tingkat petani bisa lebih layak,”ungkapnya.

Dia berharap dengan pertumbuhan produksi ini bisa menjadi pilot project untuk komoditas komiditas yang lain, agar produksinya juga bisa meningkat.

Menurut Rizal, ini yang perlu menjadi perhatian agar pertumbuhan produksi tersebut bisa menekan impor pangan atau impor komoditas komoditas pertanian.

Dalam kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwijono Hadi Darwanto, menyebut capaian tersebut sejalan dengan kondisi cuaca yang mendukung dan perbaikan infrastruktur pertanian, khususnya irigasi.

“Hal ini bisa dimengerti karena iklim yang menunjang. Hingga Maret, April, dan Mei masih ada hujan, dan biasanya puncak panen terjadi di bulan Maret dan April. Jadi kondisi tahun ini cukup ideal untuk panen,” kata Dwijono.

Ia menjelaskan, kondisi pertanaman juga relatif lebih stabil karena insiden kebanjiran dan kekeringan yang biasanya mengganggu panen, kini berkurang.

“Perbaikan jaringan irigasi di beberapa tempat serta penyaluran pupuk yang relatif tepat waktu turut mendukung hasil panen, khususnya di daerah sentra produksi padi,” tambahnya.

Meski demikian, Dwijono menekankan pentingnya konsistensi dalam perbaikan sistem pertanian untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas ke depan. “Perlu konsistensi dalam perbaikan irigasi, ketepatan penyaluran pupuk, dan penggunaan mekanisasi baik untuk olah tanah maupun panen di sentra-sentra produksi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap kualitas gabah. “Saya khawatir penyerapan gabah saat ini lebih menitikberatkan pada kuantitas, bukan kualitas. Ke depan, semoga kualitas panen bisa lebih baik dan tidak hanya berfokus pada jumlah,” pungkasnya.

Peneliti Ekonomi Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda berharap produktivitas benar benar meningkat dan harga untuk petani juga kompetitif. 

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.