Riset Zurich, Bunuh Diri Salah Satu Penyebab Kematian Anak Muda
Selasa, 27 Mei 2025, 19:58 WIBÂ JAKARTA - Â Z Zurich Foundation baru saja merilis kajian yang menarik yang menggarisbawahi kebutuhan untuk mendukung kesehatan mental kaum muda di kawasan Asia- Pasifik (APAC). Laporan ini menyoroti perlunya perubahan di berbagai bidang untuk menyerukan tindakan segera di tingkat organisasi publik, swasta, dan sipil.
Dengan lebih dari 750 juta kaum muda berusia 15 hingga 24 tahun di Asia Selatan, Asia Timur, dan Pasifik, kesehatan mental dan kesejahteraan kaum muda di kawasan APAC menuntut perhatian yang mendesak.
Hampir setengah dari semua masalah kesehatan mental dimulai pada usia 14 tahun, dan bunuh diri merupakan salah satu penyebab utama kematian di antara kaum berusia 15 hingga 29 tahun di banyak negara. Penelitian menunjukkan bahwa banyak kondisi kesehatan mental dimulai sejak dini dan, jika tidak ditangani, dapat memengaruhi pendidikan, pekerjaan, dan hubungan hingga dewasa.
Head of Z Zurich Foundation Gregory Renand menuturkan, kawasan APAC sangat beragam dalam hal geografi, budaya, dan tingkat pendapatan, yang menghadirkan peluang dan tantangan untuk meningkatkan kesejahteraan mental kaum muda.
âBerinvestasi dalam pencegahan kondisi kesehatan mental dan edukasi kesejahteraan mental dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan,â ujar dia melalui keterangan tertulis pada hari Selasa (27/5).
Sebagai contoh, analisis biaya-manfaat yang komprehensif untuk intervensi kesehatan mental remaja di 36 negara menemukan bahwa setiap dana yang diinvestasikan menghasilkan keuntungan sebesar 23,6%.
Akan tetapi, kesehatan mental sering kali menerima kurang dari 1% anggaran kesehatan di banyak bagian kawasan, sementara lebih sedikit lagi yang digunakan untuk inisiatif edukasi kesejahteraan mental.
Inisiatif edukasi bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung agar dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dengan mendorong literasi emosional dan memberdayakan kaum muda melalui mekanisme penanganan yang positif.
Pencegahan berfokus pada mengidentifikasi dan mengurangi faktor risiko untuk kondisi kesehatan mental, menangani faktor penentu untuk meminimalkan timbulnya kondisi ini bagi kelompok yang paling rentan.
Kajian ini disusun berdasarkan beberapa contoh efektif di seluruh kawasan dan bertujuan untuk memandu lembaga publik dan swasta, lembaga, pembuat kebijakan, serta masyarakat sipil tentang cara terbaik untuk mendukung kesejahteraan mental kaum muda. Semua pelaku memainkan peran penting dalam meningkatkan inisiatif kesejahteraan mental kaum muda dan menjembatani kesenjangan pendanaan.
âKajian ini menyerukan investasi dalam tiga bidang utama: kolaborasi lintas sektor, sekolah yang mengintegrasikan kesejahteraan mental dengan pembelajaran, dan sistem pendukung berbasis masyarakat,â ucapnya.
Inisiatif yang menjanjikan, seperti platform untuk kaum muda, inisiatif olahraga, program pendidikan emosional, dan model pembiayaan campuran, menggabungkan kekuatan berbagai sektor untuk menciptakan perubahan jangka panjang.
Upaya menuju visi masa depan mengenai dukungan kesejahteraan mental kaum muda memerlukan tindakan segera dan komitmen jangka panjang. Hal ini termasuk kebijakan yang difokuskan pada pencegahan, pendanaan berkelanjutan, tenaga kerja terlatih, dan tata kelola yang menggabungkan suara kaum muda dari berbagai latar belakang budaya.
Terlebih lagi, diperlukan perubahan pola piker untuk mengakui kesehatan mental dan kesejahteraan kaum muda sebagai hal yang penting bagi ketahanan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.
Ia menuturkan, saat ini, World Health Assembly 2025 berlangsung di Jenewa dari 19-27 Mei, dengan tema âOne World for Health.â Mengatasi kesejahteraan mental kaum muda merupakan topik yang penting karena kesehatan mental mereka merupakan dasar untuk mencapai tujuan kesehatan yang lebih luas.
Pertemuan tersebut menyediakan platform bagi para pemimpin global untuk membahas dan berkomitmen pada strategi yang dapat ditindaklanjuti untuk memprioritaskan kesehatan mental kaum muda, dengan mengakuinya sebagai landasan bagi pembangunan berkelanjutan dan ketahanan masyarakat.
âKita harus menyelaraskan lintas sektor, meningkatkan pendekatan yang telah terbukti, membangun kolaborasi, dan berinvestasi dalam sistem yang menempatkan kaum muda sebagai pusat. Masa depan kawasan APAC bergantung padanya. Bersama-sama, kita dapat menciptakan lingkungan tempat kaum muda tidak hanya bertahan hidup tetapi juga berkembang,â ungkap Renand.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
PBB Peringatkan Perang di Iran yang Berkepanjangan Dapat Memicu Kelaparan Global yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
-
Dony Tri dan Beckham Memuaskan Herdman Saat Lawan Bulgaria, di Piala Asean Bisa Jadi Pemain Penting
-
Abisai Rollo Minta Rumah Sakit dan Puskesmas di Jayapura Siaga Selama Libur Idul Fitri
-
Kasad Maruli Simanjuntak: Pembangunan Jembatan Simbol Kehadiran Negara
-
Korlantas Polri Terapkan "One Way" Lokal Jelang Puncak Arus Balik 28-29 Maret 2026
-
Memanfaatkan Skrining Riwayat Kesehatan di JKN Mobile
-
Jamaah Al Mudhlor di Tulungagung Gelar Shalat Idul Fitri Lebih Awal
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.