Kabar Baik, Kini Pasien BPJS Bisa Menerima Terapi Target Kanker Darah
Jumat, 23 Mei 2025, 10:04 WIBSURABAYA â Kanker darah atau keganasan hematologi menjadi tantangan besar di dunia kesehatan. Data global pada tahun 2022 menunjukkan bahwa jenis kanker ini merupakan penyumbang kasus kanker dengan lebih dari enam persen, sedangkan kematian akibat kanker mencapai lebih dari tujuh persen.Â
Menyikapi permasalahan tersebut, Guru Besar Ilmu Hematologi Molekular dan Hemostasis, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga, Yetti Hernaningsih menyampaikan bahwa upaya melawan kanker merupakan prioritas nasional.Â
âGlobal Cancer Observatory menyatakan bahwa tanpa adanya perubahan strategi, maka beban kasus dan kematian kanker antara tahun 2025 hingga 2040 di Indonesia akan meningkat sebesar 63 persen. Menurut data Kemenkes RI pada survei 2022, kanker untuk limfoma non-Hodgkin dan leukemia masih berada pada sepuluh tertinggi dalam hal insiden dan angka kematian,â terangnya, Kamis (22/5)
Terapi Target
Pemeriksaan molekuler genetik penting dilakukan sebagai dasar diberikannya terapi yang spesifik. Ini akan menargetkan mutasi genetik tertentu dan bersifat personal. Ia mengungkapkan bahwa saat ini sudah banyak rumah sakit di Indonesia yang dapat melakukan pemeriksaan fusi gen BCR-ABL pada keganasan leukemia mieloid kronik (CML) dengan metode PCR.Â
âTes cepat molekuler berbasis PCR telah dikembangkan dalam sepuluh tahun terakhir. Sehingga didapatkan kemudahan dan kepraktisan bagi rumah sakit yang mengerjakannya,â jelasnya.Â
Lebih lanjut, ia juga menerangkan bahwa pasien pengidap CML yang terbukti ditemukan fusi gen BCR-ABL dapat diberikan pengobatan golongan Inhibitor Tyrosine Kinase yang merupakan terapi target. âObat ini telah masuk dalam BPJS sehingga pasien BPJS dapat menerima pengobatan pengobatan target. Pengobatan ini memberikan hasil yang baik daripada pengobatan sebelumnya yang belum menggunakan terapi target,â terangnya.Â
Pengobatan Tepat Sasaran
Teknologi molekuler berhasil merevolusi diagnostik keganasan hematologi dengan menawarkan pendekatan yang lebih baik untuk diagnosis, prognosis, dan pemantauan penyakit. Menurutnya, pendekatan molekuler genetik pada keganasan hematologi sudah sesuai dengan konsep precision medicine.Â
âPrecision medicine adalah pengobatan yang mengoptimalkan terapi bagi pasien secara personal. Memaksimalkan manfaat sekaligus membatasi toxisitas. Tujuan ini sebenarnya bukan hal baru dalam praktik pengobatan Hematologi telah lama menjadi garda terdepan dalam  precision medicine,â ucapnya.Â
Pada akhir, ia merekomendasikan agar terdapat pembagian pusat layanan kesehatan untuk keperluan diagnosis keganasan hematologi yang spesifik agar pemeriksaan dapat terpusat. âDengan demikian, efektif dan efisiensi dapat tercapai, sehingga dalam sisi biaya dapat terjangkau dan masuk dalam pedoman praktik klinik serta terbayarkan oleh sistem jaminan kesehatan nasional,â pungkasnya.Â
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Habib Jafar: Sakit Kanker Selama 7 Tahun Jadi Penggugur Dosa Vidi Aldiano
-
Lima Pertandingan Tersisa di Liga Primer Bagi Pep Guardiola Ibarat Laga Final City
-
Dari Surabaya Jatim, Profesor Bagong: Lebih Baik Insentif, Bukan Memaksa (Vasektomi sebagai Syarat Bansos)
-
Tekan Pengangguran, Pembangunan 65 KNMP Serap 17.550 Tenaga Kerja
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.