Dari Surabaya Jatim, Profesor Bagong: Lebih Baik Insentif, Bukan Memaksa (Vasektomi sebagai Syarat Bansos)
Rabu, 07 Mei 2025, 10:31 WIBSURABAYA â Usulan menjadikan vasektomi sebagai syarat menerima bantuan sosial (bansos) menuai kritik tajam dari berbagai kalangan. Tak hanya soal hak individu, wacana itu juga dianggap mencerminkan bentuk kontrol negara atas tubuh masyarakat miskin. Dari perspektif sosiolog, usulan tersebut dinilai problematik dan sarat ketimpangan kekuasaan.
Guru Besar Sosiologi Ekonomi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto, menjelaskan bahwa kebijakan semacam itu tidak semestinya diberlakukan secara paksa, apalagi dijadikan syarat untuk memperoleh hak dasar masyarakat.
âVasektomi adalah hal yang boleh dilakukan, terutama untuk mengajak laki-laki berpartisipasi dalam program keluarga berencana. Tapi tidak tepat jika dijadikan syarat bansos. Pendekatannya bukan memaksa, apalagi mengancam, melainkan menyadarkan masyarakat terlebih dahulu,â tegasnya.
Lebih jauh, Bagong menyoroti bahwa usulan vasektomi sebagai syarat bantuan sosial tidak bisa dilepaskan dari dimensi kekuasaan yang lebih besar. Ia menjelaskan bahwa wacana ini dapat dianalisis melalui lensa biopolitik, yaitu konsep dalam ilmu sosial yang menyoroti bagaimana kekuasaan negara atau institusi mengontrol tubuh dan kehidupan biologis warganya.
âKonsep ini menjelaskan bagaimana negara tidak hanya mengatur kebijakan ekonomi atau politik, tetapi juga masuk ke ranah paling personal, yakni tubuh manusia yang seharusnya bersifat privat dan dilindungi,â ungkapnya.
Ketimpangan Kuasa
Menurutnya, usulan itu dinilai mencerminkan bentuk relasi kuasa yang timpang. Negara seolah merasa memiliki hak untuk mengatur tubuh masyarakat miskin dengan dalih pemberian bantuan. Pendekatan semacam itu dianggap berbahaya karena berpotensi menjadikan bansos sebagai alat kontrol terhadap kehidupan biologis warga.
Dari sisi psikososial, kebijakan semacam itu berpotensi menimbulkan tekanan dan beban mental pada warga penerima bantuan. âJika negara mengatur pilihan reproduksi, masyarakat akan merasa tertekan. Apalagi jika mereka berada dalam posisi ekonomi yang lemah dan tidak memiliki pilihan lain,â jelas Bagong.
Solusi Alternatif
Ia pun menyarankan agar pengendalian penduduk tetap dilakukan dengan prinsip keadilan dan menghormati kebebasan individu. Menurutnya, pendekatan yang bersifat edukatif dan insentif lebih bisa diterima oleh masyarakat.
âSaya lebih setuju jika negara memberikan insentif dan melakukan sosialisasi yang menyeluruh. Edukasi dilakukan secara terus-menerus agar masyarakat benar-benar paham manfaat program KB. Selain itu, insentif dapat menjadi cara yang lebih adil untuk mendorong partisipasi, tanpa melanggar hak dasar warga atas tubuh,â tutupnya.
- Universitas Airlangga (Unair)
- Vasektomi
- Dedy Mulyadi
- Pemprov Jabar
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Ternyata Ada 68 Perusahaan yang Dipelototi KLH Terkait Bencana Hidrometeorologi
-
Biang Kerok Macet Nagreg Terungkap, Polisi Tindak Tegas Truk Sumbu Tiga Mulai Hari Ini
-
Pemprov Jabar Pastikan Jalan Provinsi Bebas Lubang Jelang Lebaran 2026, 19 Unit DRU Disiagakan di Jalur Mudik
-
Sebanyak 12 Desa di Kabupaten Grobogan Alami Banjir
-
Pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros, Bawa 10 Orang
-
Vakum 5 Tahun! Faldo Series Kembali Guncang Indonesia, Rebut Tiket Bergengsi ke Vietnam dan Inggris
-
Habib Jafar: Sakit Kanker Selama 7 Tahun Jadi Penggugur Dosa Vidi Aldiano
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.