PSG Bersinar, Sepak Bola Prancis Kian Meredup

Senin, 19 Mei 2025, 09:00 WIB

PARIS – Keberhasilan Paris Saint-Germain melaju ke final Liga Champions musim ini seharusnya menjadi kebanggaan nasional. Namun di balik sinar gemilang klub ibu kota, wajah sepak bola Prancis justru sedang memucat. Ligue 1 baru saja menutup musim dengan sejuta tanda tanya, dan PSG berdiri sendirian di puncak, terpisah jauh dari klub-klub lainnya yang terpuruk secara finansial maupun kompetitif.

PSG sudah memastikan gelar liga keempat secara beruntun bahkan sebelum musim berakhir. Akhir pekan ini, mereka berpeluang menambah gelar dengan merebut Coupe de France, sebelum menantang Inter Milan di final Liga Champions—upaya terbaru klub kaya Qatar itu meraih trofi yang paling mereka idamkan.

Ket. Foto: Paris Saint Germain juara Ligue 1 Prancis musim 2024-2025. — Sumber: AFP

Jika menang, PSG akan menjadi klub Prancis kedua yang mampu mengangkat Si Kuping Besar setelah Marseille pada tahun 1993. Ironisnya, sepak bola Prancis masih sejajar dengan Skotlandia dan Rumania. dalam hal jumlah juara Eropa: hanya satu. Bahkan kalah dari Nottingham Forest yang pernah dua kali juara.

Di tengah dominasi mutlak PSG, para rival justru mengesampingkan kecemburuan. Pelatih Nice, Franck Haise, mengungkapkan dukungannya: “Saya bukan pendukung Paris, tapi saya ingin mereka menang. Saya orang Prancis, seperti saat Marseille menang pada tahun 1993.”

Namun romantisme nasional tidak menutupi kenyataan bahwa klub-klub Prancis lainnya tengah kesulitan untuk sekadar bersaing. Lyon—juara Ligue 1 tujuh kali—adalah contoh nyata.

Lyon kini terlilit utang 540 juta euro (sekitar 9,3 triliun rupiah), menurut laporan perusahaan pemiliknya, Eagle Football milik John Textor. Gagal lolos ke Liga Champions musim depan memperburuk situasi, dan otoritas sepak bola Prancis sempat mengancam akan menjatuhkan sanksi degradasi ke Ligue 2 jika tidak ada penyehatan keuangan drastis.

L'Équipe bahkan melaporkan bahwa Lyon harus menerima sanksi dari UEFA agar bisa tetap tampil di kompetisi Eropa.

Krisis finansial ini juga diperparah oleh kegagalan mendapatkan kontrak hak siar bernilai besar. Kesepakatan sementara dengan DAZN hanya menjanjikan 400 juta euro per musim untuk hak siar domestik, jauh dari target ambisius 1 miliar euro yang ditetapkan Ligue de Football Professionnel (LFP).

Sebagai perbandingan, Premier League Inggris akan mendapatkan 2,02 miliar euro per musim dari kontrak barunya. Celah yang sangat lebar ini membuat Ligue 1 tertinggal jauh dalam hal pemasukan, dan rencana LFP membentuk saluran televisi sendiri tampak lebih sebagai upaya bertahan daripada solusi jangka panjang.

Marseille dan Monaco akan bergabung dengan PSG di Liga Champions musim depan, namun mereka tetap realistis dalam menakar jarak. Pelatih Marseille, Roberto De Zerbi, mengakui ketimpangan: “PSG sudah berinvestasi jauh lebih dulu dan selangkah lebih maju dari kami, tapi kami tetap punya ambisi untuk menyaingi mereka.”

Akan tetapi, dengan PSG akan tampil di Piala Dunia Antarklub tahun depan di AS—kompetisi yang menjanjikan hadiah hingga 125 juta dolar AS (2 triliun rupiah)—jurang antara mereka dan klub-klub Prancis lainnya tampaknya hanya akan makin lebar.

Mungkin satu-satunya harapan para rival adalah bahwa PSG akan kembali dari Amerika Serikat dalam kondisi lelah, agar persaingan musim depan sedikit lebih terbuka.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.