Inovasi Pertanian di Lereng Gunung, Pemkab Temanggung Permudah Petani dengan Sling Angkut

Rabu, 14 Mei 2025, 15:52 WIB

TEMANGGUNG - Di tengah kontur dan kondisi alam yang menantang para petani di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah (Jateng) terus berjuang memaksimalkan hasil panen.

Melihat realitas ini, Bupati Temanggung, Agus Setyawan, tak tinggal diam. Ia mendorong terobosan baru untuk mempermudah aktivitas pertanian, terutama di wilayah perbukitan yang sulit dijangkau kendaraan biasa.

Ket. Foto: Pemkab Temanggung gunakan sistem sling tali khusus yang dirancang untuk mengangkut dan menarik beban berat seperti pupuk maupun hasil panen dari ladang-ladang yang berada di lereng gunung. — Sumber: istimewa

Salah satu inovasi yang kini tengah diuji coba dan dikembangkan adalah penggunaan sistem sling tali khusus yang dirancang untuk mengangkut dan menarik beban berat seperti pupuk maupun hasil panen dari ladang-ladang yang berada di lereng gunung.

“Hampir 70 persen masyarakat Temanggung bekerja sebagai petani dan pekebun. Maka, mereka layak mendapatkan dukungan teknologi dan infrastruktur yang tepat guna,” ujar Bupati Agus saat meninjau langsung lokasi penggunaan sling di Desa Bansari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu (11/5).

Teknologi sederhana tapi efektif ini telah digunakan sejak 2023 di Desa Bansari. Metode ini terbukti meringankan kerja para petani yang sebelumnya harus memikul beban berat melintasi jalur terjal secara manual.

Sofyan, seorang petani yang menjadi pelopor penggunaan sling di desanya, mengungkapkan bahwa alat ini mampu menghemat biaya angkut hingga 13 kali lipat dibanding metode manual.

“Dulu, biaya angkut satu karung bisa sampai Rp5.000 untuk sekali jalan. Sekarang, dengan satu liter BBM seharga Rp12.000, sling bisa dipakai hingga empat kali jalan dan mengangkut total 32 karung,” ungkapnya.

Tak hanya efisien dari sisi biaya, penggunaan sling juga mempercepat proses panen dan distribusi hasil pertanian. Petani bisa lebih fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi tanpa terbebani ongkos logistik yang mahal.

Melihat efektivitas metode ini, Bupati Agus berharap agar sistem sling dapat direplikasi ke desa-desa lain yang memiliki karakteristik geografis serupa. Ia mendorong agar setiap desa sentra pertanian menyisihkan anggaran sekitar Rp80 juta untuk pembangunan fasilitas ini.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga daerah, seperti Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermades) serta Dinas Pertanian, untuk memastikan implementasi program berjalan luas dan berkelanjutan.

“Sinergi semua pihak sangat diperlukan. Inovasi ini bukan semata soal teknologi, tapi juga bentuk keberpihakan kita pada para petani,” jelasnya.

Gagasan lain yang juga tengah digodok oleh Pemkab Temanggung adalah pengembangan greenhouse berbasis teknologi, yang dirancang menyesuaikan dengan iklim dan topografi wilayah setempat.

Dengan kombinasi teknologi dan pendekatan lokal, Bupati Agus Setyawan berupaya mengangkat potensi pertanian Temanggung ke level yang lebih tinggi, sekaligus mengangkat derajat para petani yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi desa.

“Pertanian bukan lagi pekerjaan berat dan mahal, jika kita bisa menghadirkan solusi cerdas,” pungkas Bupati.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Henri pelupessy

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.