Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ekonomi RI Tengah Hadapi Gejala Stagnasi Terstruktur

📅 Rabu, 07 Mei 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ekonomi RI Tengah Hadapi Gejala Stagnasi Terstruktur Doc: antara
Ket. Tantangan Fiskal I Internal perekonomian RI Tidak Terlalu Kelihatan Menjanjikan

JAKARTA - Pelemahan secara bersamaan mesin utama pertumbuhan seperti seperti konsumsi, ekspor dan investasi menggambarkan adanya masalah serius dalam perekonomian nasional. Kontraksi kuartal ke kuartal (q- to- q) dan tren penurunan secara tahunan atau year on year (yoy) menunjukan bahwa Indonesia tengah menghadapi gejala stagnasi terstruktur.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman mengatakan struktur pengeluaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I 2025 memperlihatkan kerentanan serius yang mana konsumsi rumah tangga melemah, investasi nyaris stagnan dan ekspor tergantung pada komoditas. Di sisi lain pemerintah mengerem belanja.

“Sebagai pilar ekonomi, konsumsi rumah tangga melambat, meskipun tetap sebagai penyanggah terbesar PDB, namun hanya tumbuh 4,89 persen, terendah dalam lima kuartal terakhir, indikasi pelemahan daya beli,”tegas Rizal dalam diskusi bertajuk

“Ekonomi Melambat, Pertanda Gawat? yang berlangsung secara daring di Jakarta Selasa (6/5).

Dari sisi investasi papar Rizal, PMTB lesu menggambarkan kekhwatiran dunia usaha. Dengan hanya tumbuh 2,12 persen dinilai jauh di bawah harapan dalam konteks pemulihan dan agenda hilirisasi. Pertumbuhan investasi itu menggambarkan keengganan dunia usaha atau investor untuk ekspansi akibat tekanan eksternal (perang dagang dan suku bunga global yang tinggi) serta ketidakpastian dalam negeri.

Lalu dari sisi ekspor, meskipun tumbuh 6,78 persen, namun bergantung pada komoditas volatile. Angka itu terkesan menggembirakan tetapi faktanya didominasi barang primer dan jasa pariwisata, dua sektor yang sangat rentan terhadap fluktuasi global.

“Artinya, ekspor Indonesia belum mengalami diversifikasi struktural, masih bergantung pada volume dan harga komoditas mentah,”tandas Rizal.

Tekanan semakin meningkat seiring dengan efisiensi belanja fiskal yang memperlemah daya beli. Ini anomali besar di tengah ancaman perlambatan ekonomi. Realisasi anggaran di awal tahun melemah. Artinya, antisipasi belanja fiskal sebagai penyanggah pertumbuhan gagal dijalankan

Fiskal Ekspansif

Dalam kesempatan lain, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat signifikan karena daya beli masih lemah. Indeks keyakinan konsumen melemah dari bulan Januari hingga Maret 2025.

“Perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dari 4,91 persen (Q1 2024) menjadi 4,89 persen (Q1 2025) merupakan sebuah peringatan dini. Padahal di Q1 2025 ada Ramadhan dan Idul Fitri,” tegasnya.

Momentum musiman Ramadhan-Lebaran tahun ini ternyata tidak mampu mendongkrak perekonomian. Sebagai perbandingan, pada tahun 2023, pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 5,22 persen bertepatan dengan Mudik Lebaran.

Sebelumnya Celios menghitung bahwa perputaran uang di Hari Raya Idul Fitri tahun 2025 juga menurun signifikan” tambah Huda.

Sebab itu, Pemerintah wajib meningkatkan daya beli masyarakat melalui program-program yang sifatnya fiskal ekspansif seperti pembagian bantuan sosial terutama bagi kelompok menengah dan rentan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Belajar merangkai kain batik di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.