Benahi Investasi atau Rugi Terus! Pemerintah Ambil Langkah Drastis

Rabu, 07 Mei 2025, 00:00 WIB

JAKARTA - Pemerintah perlu mengevaluasi tata kelola penanaman modal dengan mengurangi investasi berbasis komoditas dan jasa yang berteknologi tinggi. Sebab, dua jenis investasi tersebut menyerap jumlah kerja yang sedikit dan tidak memperkuat struktur manufaktur.

Seperti diketahui, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 melambat menjadi 4,87 persen secara tahunan (yoy) dari triwulan IV-2025 sebesar 5,02 persen (yoy) dan triwulan I-2024 sebesar 5,11 persen.

Ket. Foto: Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira - Cara pemerintah mendorong investasi perlu dievaluasi total karena lebih pro terhadap investasi sektor berbasis komoditas yang padat modal. — Sumber: antara

Menanggapi laporan BPS tersebut, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira melihat, dari sisi investasi yang menjadi catatan adalah pertumbuhan PMTB (pembentukan modal tetap bruto) atau investasi langsung relatif rendah 2,12 persen (yoy) pada triwulan I 2025.

Angka tersebut di bawah capaian pada triwulan IV-2024 sebesar 5,03 persen (yoy). PMTB merupakan indikator penting dalam mengukur tingkat investasi dan pertumbuhan ekonomi.

"Cara pemerintah mendorong investasi perlu dievaluasi total karena lebih pro terhadap investasi sektor berbasis komoditas yang padat modal. Pemerintah harus meningkatkan iklim investasi dan mulai menggaet investasi yang ramah lingkungan dan sifatnya padat karya," tegas Bhima kepada Koran Jakarta, Selasa (6/5).

Kemudian, dia menambahkan potensi dari ekonomi hijau atau green economy belum tergarap optimal. Padahal, potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerjanya cukup besar.

"Kita kekurangan engine of resilience growth atau pertumbuhan yang tahan terhadap gejolak eksternal," tambahnya.

Motor pertumbuhan yang bisa jadi penyelamat salah satunya adalah ekonomi hijau seperti transisi energi berbasis komunitas, hingga industri komponen smart grid didalam negeri.

 "Nampaknya berpangku pada komoditas ekstraktif yang siklusnya pendek tidak akan membawa Indonesia selamat dari resesi. Perlu ada alternatif model perekonomian yang berkelanjutan," sebut Bhima.

Padat Karya

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB Suhartoko mengatakan, untuk mengatasi pengangguran satu satunya jalan yakni memperbanyak investasi. Namun, dia menekankan investasi tersebut harus bersifat padat karya sehingga bisa menyerap banyak pekerja.

"Kalau hanya sektor jasa apalagi teknologi tinggi tentu tidak banyak menyerap pekerja," tegas Suhartoko.

Dia menambahkan melemahnya industri pengolahan dalam lima tahun terakhir dipengaruhi sektor jasa mengalami pertumbuhan yang sangat berarti karena dukungan perkembangan teknologi informasi.

"Hal ini terjadi, karena pragmatisme investasi para pengusaha untuk mendapatkan laba lebih cepat dan relatif mudah di sektor jasa dalam jangka pendek," ungkap Suhartoko.

Dijelaskannya, sektor jasa yang berkembang umumnya dalam perdagangan dan pengiriman barang sehingga nilai tambahnya kecil dan kurang menyerap tenaga kerja.

"Berkaitan dengan teori perubahan struktural Hollis Chenery, pembangunan industri manufaktur perlu digalakkan kembali, karena potensi nilai tambahnya besar serta mampu menyerap tenaga kerja besar juga," jelasnya.

Karenanya, lanjut dia, perencanaan pembangunan industri manufaktur harus komprehensif dan terintegrasi dalam jaringan penggunaan input - output antar usaha dan wilayah.

Hal itu perlu didukung oleh pembenahan perijinan bebas korupsi, ketersediaan infrastruktur dan ketersediaan tenaga terampil, serta keamanan berusaha harus menjadi perhatian serius.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Jangan Salah Kelola! Kawasan Transmigrasi Berpeluang Jadi Pusat Ekonomi Masa Depan

Kemenhut Beri Sanksi 6 Perusahaan yang Sebabkan Karhutla Berulang di Kalimantan

Gelaran Festival Jadi Mesin Uang! Buleleng Festival Catat Perputaran Ekonomi Rp3,6 Miliar

Bukan Sekadar Festival! Cianjur Fest 2026 Jadi Arena 2.800 UMKM Cari Cuan

Bakso Ikan Tuna Unjuk Gigi di Buleleng Festival, UMKM Gaspol Cari Pasar!

Pesona Lamreh Kembali Dijual, Jangan Abaikan Keamanan Wisatawan!

Dinkes Lebak Mencatat Pelaksanaan CKG Capai 47,52 Persen dari Jumlah Penduduk

Incar Dana Segar, Perusahaan Milik Kampus UGM Siap IPO di Pasar Modal

BPBD Sulteng: Sanksi Pidana Akan Diberikan Terkait Pembakaran Lahan dan Hutan

BMKG: Kabut Asap Selimuti Pekanbaru dengan Kualitas Udara Berbahaya

Chelsea Menang 3-2 atas Fulham pada Pertandingan Pertama Liga Inggris

Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumsel.

Karhutla Riau Meluas, TNI Kerahkan Satgas Khusus untuk Percepat Penanganan.

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Dampingi Pangkodau II Tinjau Penanganan Karhutla di Kalimantan Selatan.

Liga Italia: AS Roma Hancurkan Fiorentina 4-0, Donyell Malen Cetak Hattrick

BMKG Prakirakan Cuaca Sebagian Besar Daerah di Wilayah Indonesia Cerah hingga Berawan Tebal

Jangan Biarkan Karhutla Meluas! KSP Minta Penanganan Cepat dan Tegas

NBA Rilis Jadwal Musim 2026-27, Laga Ulangan Final dan Reuni Para Bintang Jadi Sorotan

BMKG Beberkan Cuaca Hari Ini, Mayoritas Wilayah Diprediksi Cerah hingga Berawan

Butter Baby Hadirkan Klepon Donut, Jajanan Tradisional Indonesia dalam Semangat Kemerdekaan.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.