Izin Operasional Dibekukan Kemkomdigi, Ini Respons WorldID dan WorldCoin
Senin, 05 Mei 2025, 12:05 WIBJAKARTA - Tools for Humanity (TFH) perusahaan yang mengembangkan layanan WorldID dan WorldCoin merespons pembekuan izin operasionalnya oleh pemerintah Indonesia yang telah dilakukan sejak Minggu (4/5).
Perusahaan yang didirikan oleh sosok Alex Blania dan Sam Altman itu dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Senin, menyatakan tengah mencari kejelasan terkait persyaratan izin dan lisensi yang relevan.
"Kami berharap dapat terus melanjutkan dialog konstruktif dan suportif yang telah terjalin selama setahun terakhir dengan pihak pemerintah terkait. Jika terdapat kekurangan atau kesalahpahaman terkait perizinan kami, kami tentu akan menindaklanjutinya," demikian pernyataan TFH.
Dalam penjelasan di situs websitenya, World merupakan proyek yang dikembangkan TFH untuk membuat sistem identitas digital terdesentralisasi untuk individu-individu yang menjadi pengguna layanannya.
Proyek ini di menawarkan bukti individu secara sah di dunia nyata dengan metode verifikasi menggunakan biometrik iris. Sistem ini dikenal juga sebagai WorldID memungkinkan pengguna memverifikasi identitasnya secara anonim di dunia daring membuktikannya dirinya bukanlah robot atau pun AI.
Di Indonesia, layanan ini menjadi ramai diperbincangkan melalui media sosial. Salah satunya di X dengan akun @txtdrbekasi mencuit pada Jumat (2/5) bahwa di Bekasi ramai masyarakat berkumpul untuk melakukan verifikasi data menggunakan layanan World dan mendapatkan uang sebesar Rp800.000.
Cukup banyak masyarakat yang mengkhawatirkan keamanan data dari proses tersebut dan akhirnya pada Minggu (4/5) pemerintah melalui Kementerian Komdigi mengumumkan penutupan akses layanan WorldID dan WorldCoin.
Lebih lanjut dalam pernyataan TFH, perusahaan sebelum beroperasi di Indonesia sudah menjalin diskusi yang berkelanjutan dengan pemerintah dan mencoba memastikan kepastian terhadap seluruh regulasi yang berlaku.
Dalam hal sosialisasi, perusahaan menyatakan telah mengadakan serangkaian acara publik, kampanye edukatif, serta konferensi pers untuk mengenalkan layanannya di Indonesia.
Meski begitu perusahaan menyatakan memahami teknologi yang dikenalkannya tergolong baru dan mungkin menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa pihak."Kami memanfaatkan teknologi untuk memverifikasi keunikan individu di era AI, terlebih ketika misinformasi dan disinformasi, termasuk pencurian identitas dan deep fake, merajalela, ujarnya.
Proses ini dilakukan tanpa menyimpan data pribadi siapa pun, dan sebaliknya, kami menyerahkan kendali penuh atas informasi tersebut kepada sang pengguna. Informasi ini tidak dapat diakses oleh World maupun pihak kontributor seperti Tools for Humanity," demikian pernyataan penutup dari TFH.
Berita Terkait:
-
Warga Cermati, Jalan Dekat Stasiun Bekasi Ditutup Mulai Nanti Malam
-
Dari Modus Sadis Penculikan hingga Pemerasan Kripto, Dua Pegawai Imigrasi Bali Terseret Skandal Kejahatan Internasional Mafia Rusia
-
Peluang Bisnis Bisa Diketahui dari Sensus Ekonomi
-
Jogja After Dark: Wisata Malam Jadi Senjata Dongkrak Lama Tinggal Turis
-
BGN Tegaskan Bahan Baku untuk SPPG Tidak Boleh Didominasi Satu Pemasok!
-
Pimpin Transformasi Industri Pupuk, Rahmad Pribadi Bawa Pupuk Indonesia Raih 4 Penghargaan BUMN 2026
-
Dari Sawah ke Dompet: Harga Gabah Naik Jadi Rp6.500/kg, Ekonomi Petani Ikut Membaik?
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.