Ekonom UGM: Perang Tarif AS-China Lemahkan Rupiah dan Ancam Stabilitas Perbankan Indonesia

Jumat, 02 Mei 2025, 07:00 WIB

JAKARTA — Ketidakpastian ekonomi global akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dan retaliasi China mulai berdampak langsung ke Indonesia. Fragmentasi ekonomi global dan penurunan volume perdagangan dunia tak hanya melemahkan rupiah, tapi juga menekan ekspor dan daya beli masyarakat. Sektor perbankan pun ikut terdampak, terutama dalam penyaluran kredit dan tekanan likuiditas.

Hal ini disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/4). Perry menjelaskan bahwa dinamika tarif resiprokal antara AS dan China memperburuk ketidakpastian global, menurunkan perdagangan, dan meningkatkan tekanan eksternal terhadap Indonesia.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Istimewa

Ekonom FEB UGM, Muhammad Edhie Purnawan, menilai tekanan global kini datang dari tiga arah utama: gejolak geopolitik, proteksionisme, dan volatilitas pasar keuangan. “Penguatan dolar AS dan suku bunga tinggi global memukul rupiah, menaikkan beban utang luar negeri, dan menekan harga impor,” ujarnya, Selasa (29/4).

Ia menambahkan, tekanan paling berat dialami sektor perbankan nasional yang kini mengelola aset hingga Rp 12.000 triliun. Bank harus menghadapi disrupsi digital, kompetisi dari fintech, serta konsumen milenial yang menuntut layanan cepat dan murah. “Bank perlu investasi besar di teknologi seperti open banking dan AI, sekaligus menjaga keamanan siber dan memperkuat likuiditas di tengah arus modal keluar,” tegasnya.

Sementara itu, Ekonom FEB UGM lainnya, Sekar Utami Setiastuti, menyoroti dampak langsung ke sektor manufaktur ekspor—terutama tekstil, elektronik, alas kaki, serta komoditas seperti sawit dan karet—yang sangat bergantung pada pasar AS dan China. Ia menyarankan pemerintah mempercepat diversifikasi pasar ekspor ke Asia Selatan, Afrika, dan Timur Tengah.

Langkah konkret yang direkomendasikan antara lain memperkuat sinergi kebijakan moneter dan fiskal, mempertahankan BI-Rate 5,75%, menjaga stabilitas rupiah melalui operasi pasar terbuka, serta mendorong realokasi anggaran ke sektor terdampak seperti ekspor manufaktur dan logistik.

“Hanya dengan koordinasi kebijakan yang solid dan strategi keberlanjutan, ekonomi dan perbankan Indonesia bisa tetap tangguh di tengah badai global,” pungkas Sekar.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.