- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Berharap Gencatan Se...
Trump Berharap Gencatan Senjata Permanen Guna Hentikan Perang
Rabu, 30 Apr 2025, 01:15 WIBWASHINGTON - Setelah Presiden Russia, Vladimir Putin, mengumumkan pada Senin (28/4) gencatan senjata sepihak selama tiga hari pada pekan depan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merespon dengan mengatakan ingin melihat gencatan senjata permanen untuk menghentikan perang di Ukraina secara total.Â
âSaya memahami bahwa Vladimir Putin pagi ini menawarkan gencatan senjata sementara. Presiden (AS) telah menjelaskan bahwa ia ingin melihat gencatan senjata permanen, pertama, untuk menghentikan pembunuhan, menghentikan pertumpahan darah, dan meskipun ia tetap optimis bisa mencapai kesepakatan, ia juga bersikap realistis,â kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt kepada para wartawan.
âKedua pemimpin perlu duduk bersama untuk merundingkan jalan keluar dari situasi ini. Dan saya juga berpikir pertemuan Presiden (Tump-red) dengan Presiden Zelensky menunjukkan bahwa ia mencurahkan banyak upaya dan waktu dalam hal ini karena ia ingin menjadi presiden pembawa perdamaian,â tambah Levitt.
Hal itu merujuk pada pertemuan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di sela-sela pemakaman Paus Fransiskus pada akhir pekan lalu.
Pada Senin, Putin mengumumkan gencatan senjata sepihak di Ukraina, karena Moskow akan memperingati 80 tahun kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Pemimpin Russia itu memerintahkan penghentian semua tindakan militer di Ukraina mulai tengah malam 7-8 Mei hingga tengah malam 10-11 Mei.
Pihak Ukraina pun menanggapi dengan menyatakan Moskow harus menghentikan permusuhan di Ukraina segera jika menginginkan perdamaian.
âJika Russia benar-benar menginginkan perdamaian, maka harus menghentikan tembakan segera. Mengapa harus menunggu hingga 8 Mei? Jika tembakan bisa dihentikan sekarang, mengapa tidak sejak hari ini untuk setidaknya 30 hari, supaya benar-benar nyata, bukan hanya demi parade," kata Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha di media sosial X.
Ia mengatakan Ukraina siap mendukung gencatan senjata yang âabadi, selamnya dan penuh,â seraya menegaskan bahwa model gencatan senjata seperti itulah yang Ukraina usulkan setidaknya selama 30 hari.
Syarat Mutlak
Sementara itu, Moskow menegaskan bahwa pengakuan internasional terhadap lima wilayah Ukraina yang mereka kuasai termasuk Semenanjung Krimea, sebagai milik Russia menjadi syarat mutlak untuk mengakhiri konflik dengan Ukraina.
Kendati demikian, Russia kata Menteri Luar Negeri, Sergey Lavrov selalu siap terlibat dalam negosiasi langsung dengan pihak Ukraina.
âKami tetap terbuka terhadap perundingan, namun keputusannya saat ini bukan pada kami. Kiev masih belum menunjukkan kesiapan bernegosiasi sejauh ini,â kata Lavrov dalam wawancara bersama harian Brasil, O Globo seperti dikutip dari Antara.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Tiga Pembalap Inggris Ramaikan Balapan Silverstone
-
Presiden Jerman Berkunjung, Keamanan Jakarta Diperketat, Polda Metro Siagakan 585 Personel
-
Pesawat Terjun Payung Jatuh di Missouri, AS, 12 Orang Tewas
-
Memphis Depay
-
Gubernur DKI Pramono Nilai Bantuan Pembangunan Halte Perkuat Layanan Transjabodetabek
-
Duel Portugal Kontra Kroasia di Toronto Jadi Laga “Mahal”, Harga Tiket Tembus 52 Juta Rupiah per Lembar
-
Dinas Keamanan Ukraina Menganggap Serangan Russia terhadap Fasilitas Penyimpanan Limbah Nuklir sebagai Kejahatan Perang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.