Bank Dunia Sebut 172 Juta Penduduk Indonesia Masih Miskin

Rabu, 30 Apr 2025, 01:20 WIB

JAKARTA - Pengumuman Bank Dunia tentang jumlah penduduk miskin di Indonesia pada 2024 lalu masih mayoritas yakni dengan persentase hingga 60,3 persen atau sebanyak 171,91 juta jiwa dari total penduduk yang tercatat sebanyak 285,1 juta jiwa. 

Angka kemiskinan yang disampaikan Bank Dunia itu sangat kontras dengan data yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2024 hanya 8,57 persen atau sejumlah 24,06 juta jiwa.

Ket. Foto: World Bank - Penduduk Miskin, Pendekatan Pengentasan Kemiskinan Pemerintah Tidak Akurat — Sumber: antara

Jomplangnya angka kemiskinan versi Bank Dunia dengan BPS itu karena metode penghitungan penduduk yang digunakan berbeda.

Bank Dunia menghitung dengan acuan acuan garis kemiskinan untuk kategori negara dengan pendapatan menengah ke atas (upper middle income country) sebesar 6,85 dollar AS per kapita per hari atau setara pengeluaran 115.080 rupiah per orang per hari dengan kurs 16.800 per dollar AS.

Meski penduduk Indonesia masih mayoritas miskin, namun Bank Dunia memperkirakan persentase penduduk miskin untuk 2024 itu turun dibanding 2023 yang sebesar 61,8 persen. Lembaga tersebut juga memproyeksi tingkat kemiskinan Indonesia pada 2025 akan semakin menurun menjadi 58,7 persen dan pada 2026 menjadi 57,2 persen, serta di 2027 menjadi 55,5 persen.

“Meskipun permintaan yang kuat telah mendukung kinerja ekonomi yang stabil dan menurunkan angka kemiskinan, percepatan pertumbuhan memerlukan penerapan reformasi struktural untuk meningkatkan potensi pertumbuhan negara dan mengurangi risiko overheating,” sebut laporan Bank Dunia bertajuk Macro Poverty Outlook edisi April 2025, yang dikutip Selasa (29/4).

Bank Dunia juga memberikan ukuran tingkat kemiskinan Indonesia bila mendasari acuan garis kemiskinan dalam bentuk Purchasing Power Parity (PPP) kategori international poverty rate yang sebesar 2,15 dollar AS per kapita per hari, dan lower middle income poverty rate sebesar 3,65 dollar AS per kapita per hari.

Jika mengacu pada international poverty rate sebesar 2,15 dollar AS per kapita per hari, maka persentase penduduk miskin di Indonesia pada 2024 memang hanya 1,3 persen atau hanya 3,7 juta jiwa. Sedangkan dengan ukuran garis kemiskinan untuk kategori lower middle income poverty rate sebesar 3,65 dollar AS per kapita per hari, maka jumlah penduduk miskin mencapai 44,47 juta jiwa atau 15,6 persen dari total penduduk.

Bank Dunia sendiri telah menggolongkan Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah ke atas pada 2023, setelah mencapai gross national income atau GNI (pendapatan nasional bruto sebesar 4.580 dollar AS per kapita.

Dengan demikian, ukuran garis kemiskinan yang pantas digunakan untuk Indonesia mengacu pada pengeluaran 6,85 dollar AS per kapita per hari atau setara pengeluaran 115.080 per orang per hari, sehingga jumlah penduduk miskinnya setara 60,3 persen dari total penduduk.

Kalau dibanding negara tetangga, jumlah kemiskinan di Indonesia pada 2024 berada di posisi kedua setelah Laos yang tercatat 68,5 persen. Sedangkan dibanding Malaysia, RI tertinggal jauha karena angka kemiskinan Malaysia hanya 1,3 persen. Begitu pula dengan Thailand yang hanya 7,1 persen, Vietnam 18,2 persen dan Filipina 50,6 persen.

Perbarui Metode Perhitungan

Menanggapi pernyataan Bank Dunia itu, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf mengatakan Pemerintah perlu segera memperbarui metode penghitungan angka kemiskinan nasional agar lebih sesuai dengan standar baru yang digunakan Bank Dunia. Menurutnya, tanpa pembaruan itu, kebijakan pengentasan kemiskinan akan terus bersandar pada asumsi yang keliru dan tidak menyentuh akar persoalan.

“Selama ini, garis kemiskinan nasional hanya dipatok sekitar 500 ribu rupiah per bulan atau sekitar 16 ribu rupiah per hari per kapita. Dengan angka ini, pemerintah seakan-akan menganggap kebutuhan dasar rakyat bisa dipenuhi dengan jumlah yang jauh dari layak,” kata Maruf dari Yogyakarta, Selasa (29/4).

Pemerintah kata Maruf harus berani mengakui kenyataan baru ini agar kebijakan sosial dan ekonomi yang dirancang lebih akurat. “Tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi makro atau sekadar memperluas program bantuan sosial. Jauh lebih penting adalah memperbesar kesempatan kerja yang layak bagi rakyat,” tegasnya.

Dia mengingatkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, penciptaan lapangan kerja justru melambat, sementara jumlah angkatan kerja baru terus bertambah. “Kebijakan yang populis tapi tidak disertai penciptaan lapangan kerja riil hanya akan memperdalam ketimpangan sosial,” ujarnya.

Maruf pun mendorong Pemerintah untuk mempercepat reformasi struktural di sektor ekonomi, mengurangi kebergantungan pada sektor informal, serta mendorong lahirnya industri dan sektor produktif baru yang dapat menyerap tenaga kerja secara luas.

Introspeksi

Sementara itu, Guru Besar Sosiologi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto, mengatakan, Indonesia lebih baik melakukan introspeksi atas penilaian Bank Dunia tersebut dan melakukan pembenaham, karena pada kenyataannya kesenjangan ekonomi antara orang kaya dengan orang miskin semakin jauh membuat mereka sulit bersaing jika ingin memperbaiki nasibnya.

“Selama ini terdapat salah persepsi terkait definisi kemiskinan. Kemiskinan tidak hanya terukur dari faktor ekonomi saja. Namun, terdapat lima indikator yang dapat menentukan kemiskinan seseorang. Bahkan empat dimensi yang lain justru bukan dimensi ekonomi. Hal ini menjadi banyak kesalahan dalam persepsi masyarakat dalam melihat kemiskinan,” kata Bagong.

Dimensi yang harus mendapat perhatian, salah satunya ketidakberdayaan. Posisi tawar keluarga miskin yang rendah terhadap kelas sosial di atasnya, membuat keluarga miskin cenderung memiliki margin keuntungan yang tipis.

Dengan hanya mengandalkan program yang menaikkan skala usaha orang miskin, justru malah berisiko menghadapkan mereka dalam persaingan ketat, karena yang mereka hadapi adalah orang yang berada di atasnya.

Tindakan yang pas untuk memberdayakan masyarakat miskin adalah dengan tidak membuatnya bersaing dengan kompetitor yang lebih besar.

Peneliti dari Mubyarto Institute, Awan Santosa nenegaskan, kalau untuk keperluan komparasi antar negara dengan standar dan kondisi yang relatif sama maka ukuran Bank Dunia tersebut akan relevan.

Lebih tingginya tingkat kemiskinan dengan acuan standar atau garis kemiskinan yang jauh lebih tinggi selain akan lebih mendekatkan angka tersebut pasa realitas kondisi dan permasalahan yang dihadapi penduduk miskin, juga akan mendorong pemerintah lebih serius dalam menanggulangi kemiskinan.

“Mengingat jumlahnya yang relatif besar maka penanggulangan kemiskinan memerlukan pendekatan struktural, yang terkait dengan upaya membangun sistem ekonomi yang adil dan demokratis, yang bertumpu pada kekuatan ekonomi rakyat,” pungkas Awan.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.