Badai Petir Meningkatkan Serbuk Sari
Selasa, 29 Apr 2025, 06:11 WIBBagaimana badai petir memicu atau memperburuk asma dengan cara ini masih belum sepenuhnya dipahami. Teori yang ada adalah bahwa aliran udara dingin yang terjadi selama badai petir menghasilkan angin kencang yang bertiup di permukaan tanah, menerbangkan serbuk sari dan spora jamur dari rumput dan tanaman.
Serbuk sari dan spora jamur ini kemudian terbawa tinggi ke dalam sistem badai oleh aliran udara ke atas, di mana uap air di awan menyebabkannya membengkak dan pecah menjadi fragmen yang lebih kecil, sehingga meningkatkan jumlah partikel alergen di udara secara signifikan. Medan listrik yang kuat yang terbentuk selama badai petir juga dapat meningkatkan pecahnya serbuk sari.
Ukuran partikel yang lebih kecil ini memudahkan fragmen serbuk sari masuk ke saluran udara saat dibawa kembali ke permukaan tanah oleh angin dingin yang mengalir ke bawah. Menurut penelitian tentang fenomena tersebut, kadar serbuk sari tampaknya melonjak selama 20-30 menit pertama badai petir. Orang yang lebih muda tampaknya paling terpengaruh.
âUntungnya, kejadian asma badai petir yang besar masih jarang terjadi. Namun, perubahan iklim juga meningkatkan risiko paparan serbuk sari pada orang dengan cara lain. Salah satu alasannya, meningkatnya suhu berarti musim serbuk sari saat tanaman mengeluarkan serbuk sari, biasanya selama musim semi dan panas dimulai lebih awal dan berlangsung lebih lama,â kata Elaine Fuertes, seorang ilmuwan kesehatan masyarakat yang berfokus pada lingkungan dan penyakit alergi di National Heart and Lung Institute, Imperial College, Inggris.
âAnda akan menemukan orang-orang yang mengalami gejala lebih awal dalam setahun, untuk jangka waktu yang lebih lama,â katanya.
Di beberapa bagian dunia, termasuk AS dan Eropa, salah satu penyebab utamanya adalah ragweed â sekelompok tanaman berbunga yang tersebar luas yang oleh banyak orang dianggap sebagai gulma. Ada berbagai spesies ragweed di seluruh dunia tetapi mereka dapat menghasilkan serbuk sari dalam jumlah yang sangat banyak.
Misalnya, satu tanaman mampu mengeluarkan satu miliar butir serbuk sari. Ragweed tumbuh di kebun dan lahan pertanian tetapi juga di sudut-sudut dan celah-celah di lingkungan perkotaan. Alergi terhadap serbuk sari ragweed telah memengaruhi sekitar 50 juta orang di AS.
Sebuah studi yang menganalisis data dari 11 lokasi di Amerika Utara antara tahun 1995 hingga 2015 menemukan bahwa 10 dari lokasi tersebut mengalami musim serbuk sari ragweed yang lebih panjangterkadang jauh lebih lama.
Selama periode 20 tahun tersebut, musim bertambah panjang 25 hari di Winnipeg, Manitoba, 21 hari di Fargo, North Dakota, dan 18 hari di Minneapolis, Minnesota.
âMusim dingin menghangat, musim semi dimulai lebih awal, dan musim gugur tertunda, sehingga waktu yang Anda habiskan di luar ruangan untuk bersentuhan dengan serbuk sari yang menyebabkan alergi pasti akan meningkat,â kata Lewis Ziska, profesor madya ilmu kesehatan lingkungan di Universitas Columbia, di New York, AS, dan salah satu ilmuwan yang meneliti musim serbuk sari ragweed.
Menurut dia, perubahan ini menjadi lebih drastis di wilayah utara Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Namun, juga di Australia dan wilayah selatan Amerika Selatan serta Afrika. Tanpa pemangkasan segera terhadap emisi gas rumah kaca, dampaknya kemungkinan akan semakin buruk.
Misalnya, sebuah studi tahun 2022 memperkirakan bahwa, pada akhir abad ini, musim serbuk sari akan dimulai hingga 40 hari lebih awal dan berakhir hingga 15 hari lebih lambat daripada sekarang yang berpotensi berarti dua bulan gejala tambahan bagi penderita demam serbuk sari per tahun.
Bukan hanya karena orang-orang terpapar alergen lebih lama. Jumlah alergen di udara juga meningkat di banyak bagian dunia. Pada tahun 2000-an, musim serbuk sari di benua AS dimulai tiga hari lebih awal daripada pada tahun 1990-an, tetapi yang terpenting, jumlah serbuk sari di udara juga 46 persen lebih tinggi.
Hal ini sebagian karena kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer meningkat, akibat emisi dari aktivitas manusia. Dan banyak tanaman yang paling mengganggu bagi penderita demam serbuk sari tumbuh subur dengan CO2.
Ketika peneliti menanam jenis rumput tertentu di bawah kadar CO2 yang berbeda, misalnya, mereka menemukan bahwa tanaman yang tumbuh di atmosfer yang mengandung CO2 pada 800 bagian per juta (ppm) memiliki bunga yang menghasilkan sekitar 50 persen lebih banyak serbuk sari daripada tanaman yang tumbuh di udara yang mengandung 400 ppm. Yang terakhir ini meniru kadar CO2 saat ini di atmosfer Bumi.
Demikian pula, ilmuwan lain juga bereksperimen dengan menanam berbagai jenis pohon ek, yang serbuk sarinya sering menyebabkan demam serbuk sari di negara-negara seperti Korea Selatan. Dalam skenario CO2 720ppm, mereka menemukan bahwa setiap pohon ek memiliki jumlah serbuk sari rata-rata 13 kali lipat dari jumlah serbuk sari pohon dalam skenario 400 ppm. Bahkan pada 560ppm, produksi serbuk sari 3,5 kali lebih tinggi dari tingkat saat ini.
Ziska, yang menulis buku Greenhouse Planet tahun 2022, melakukan eksperimen serupa dengan ragweed. Hasilnya mencerminkan hasil penelitian peneliti lain. âSetiap kali kami meningkatkan karbon dioksida, tanaman ragweed merespons.
âMereka tumbuh lebih banyak. Mereka menghasilkan lebih banyak serbuk sari,â katanya. âDan ada beberapa bukti bahwa mereka menghasilkan bentuk serbuk sari yang lebih alergenik, yang dapat mendorong sistem kekebalan tubuh Anda untuk merespons bahkan lebih besar daripada sebelumnya,â ucapnya. hay
Suhu Hangat Produksi Produktivitas Ragweed
Penyebaran spesies invasif di bagian dunia yang baru juga memicu reaksi alergi pada populasi manusia baru. Meskipun berasal dari Amerika Utara, rumput liar jenis ragweed yang serbuk sarinya menyebabkan alergi, dan berbahaya bagi Kesehatan misalnya, telah menyebar ke seluruh Eropa, serta ke Australia, Asia, dan Amerika Selatan.
Saat ini, sekitar 60 persen orang di Hongaria, 20 persen di Denmark, dan 15 persen di Belanda dilaporkan sensitif terhadap serbuk sari dari kelompok tanaman yang produktif ini. Hal ini membuatnya sangat memprihatinkan karena, pada tahun 2050, konsentrasi serbuk sari ragweed di udara diperkirakan sekitar empat kali lipat dari saat ini.
Bahkan di beberapa bagian Eropa di mana serbuk sari ragweed hampir tidak ada saat ini, termasuk Inggris bagian selatan dan Jerman, âbeban serbuk sari menjadi substansialâ di bawah skenario iklim sedang atau tinggi, tulis para peneliti dalam sebuah studi tahun 2015.
Sekitar sepertiga dari peningkatan tersebut disebabkan oleh penyebaran spesies invasif yang berkelanjutan, para peneliti mencatat. Dua pertiga sisanya secara khusus disebabkan oleh perubahan iklim, termasuk perpanjangan musim tanam saat suhu menghangat.
âJadi, musimnya akan lebih awal, lebih panjang, dan juga lebih intens bagi mereka yang mengalami gejala alergi dan kemudian risiko sensitisasi baru yang lebih tinggi bagi populasi yang sebelumnya tidak terpapar,â jelas Elaine Fuertes, seorang ilmuwan kesehatan masyarakat yang berfokus pada lingkungan dan penyakit alergi di National Heart and Lung Institute, Imperial College, Inggris.
Tidak semua wilayah di dunia akan mengalami lebih banyak produksi serbuk sari. Beberapa peneliti telah menemukan bahwa California selatan, misalnya, akan mengalami musim serbuk sari yang lebih awal tetapi kurang produktif, sebagian besar sebagai akibat dari berkurangnya curah hujan.
Namun, prediksi ini tidak memperhitungkan semua potensi dampak perubahan iklim terhadap alergen di udara. Mungkin juga ada dampak kesehatan dari kemungkinan kebakaran hutan yang meningkat, misalnya, karena hal ini meningkatkan risiko asma dan gejala alergi.
Solusi lainnya terletak pada desain perkotaan yang lebih cerdas. âKita tentu harus menghijaukan kota kita,â kata Fuertes. âNamun, kita perlu melakukannya dengan seksama,â ujarnya.
Penanaman spesies eksotis, misalnya, dapat memicu alergi baru. Memilih pohon jantan yang menghasilkan serbuk sari pada beberapa spesies daripada pohon betina yang menghasilkan buah dan biji yang âberantakanâ yang disebut âseksisme botaniâ juga dapat meningkatkan kadar serbuk sari di daerah perkotaan, meskipun penelitian telah menunjukkan bahwa efek bias ini relatif kecil di kota-kota besar seperti New York.
Para ilmuwan mengatakan, penting juga untuk memantau dan memperkirakan kadar serbuk sari. âKita perlu tahu apa yang kita hirup. Itu hal yang sangat mendasar dalam hal kesehatan kita,â tutur Paul Beggs, seorang ilmuwan kesehatan lingkungan dan profesor di Macquarie University di Sydney, Australia,
Tanpa tindakan konkret dan terkoordinasi, perubahan iklim akan terus memperburuk demam serbuk sari di banyak wilayah di dunia. Ini mungkin termasuk kejadian yang lebih dramatis dan mematikan seperti asma badai petir. Namun, serbuk sari juga dapat berarti lebih banyak orang yang terserang flu dan menderita, untuk waktu yang lebih lama, setiap tahun.
âKami memiliki penelitian sekarang untuk menunjukkan bahwa hal itu benar-benar berdampak pada kesehatan manusia,â kata Beggs. âDan masih banyak lagi yang akan terjadi,â lanjutnya. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Pemerintah Didesak Legislator Segera Salurkan Banpang untuk Jutaan KPM pada Ramadan atau Jelang Idul Fitri
-
Asik, Kini Ratusan Pramuwisata Kalbar Terima Tip via QRIS GoPay Merchant
-
Komisi Pemberantasan Korupsi Buka Peluang Periksa Istri Budi Karya Sumadi dalam Kasus DJKA Kemenhub
-
Pabrik MVP, Rahasia Belanda dan Amerika Serikat 'Cetak' Noortje Driessen & Caden Pierce Jadi Raja 3x3 Dunia
-
Mendorong Ball Boy, Pedro Neto Terancam Sanksi UEFA
-
Old Trafford Tamat? Bos Proyek MU Buka Suara Soal Kapan Stadion Baru Resmi Dibuka
-
Pertamina Tambah Pasokan 710.160 Tabung Elpiji 3 kg untuk Jateng
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.