Rupiah Loyo, Likuiditas Ekonomi Domestik Lagi Ketat
Rabu, 23 Apr 2025, 17:23 WIBJAKARTA â Rupiah kembali tertekan dalam perdagangan tengah pekan ini, melanjutkan pelemahan sehari sebelumnya. Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan kebijakan suku bunga acuannya ternyata tak mampu mengungkit rupiah yang sejak pagi sudah melemah.
Pelemahan rupiah tersebut harus menjadi perhatian serius bagi pemangku kepentingan, terutama pemerintah dan BI. Pelemahan kurs rupiah berdampak secara langsung pada pemerintah dan sektor swasta. Pelemahan kurs rupiah secara otomatis berarti naiknya hutang luar negeri pemerintah berbentuk dollar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (23/4) di Jakarta melemah sebesar 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.872 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.860 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia sore ini juga melemah ke level Rp16.880 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.862 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah disebabkan likuiditas perekonomian domestik sangat ketat. âRupiah masih terus mengalami pelemahan sampai hari ini karena likuiditas perekonomian domestik sangat ketat atau âkurang darahâ, sehingga bisa berdampak pada stagnasi ekonomi,â ujarnyadi Jakarta, Rabu (23/4).
Menurut dia, diperlukan terobosan kebijakan yang mampu meningkatkan likuiditas dan menggerakkan ekonomi. âDi dalam perekonomian, kredit bank ibarat darah dan bank ibarat jantung. Saat ini jantungnya lagi lemah,â ungkap Rully.
Pada hari ini, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2025 yang digelar pada Selasa (22/4) dan Rabu (23/4) juga telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 5,75 persen.
Suku bunga deposit facility tetap berada pada level 5 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tetap berada pada level 6,5 persen.
âWalaupun BI yang mempertahankan suku bunga sudah tepat, namun tidak memberikan sentimen positif terhadap rupiah,â ucap dia.
Di sisi lain, bursa saham dalam negeri mulai baik seiring kenaikan 1,2 persen pada sesi 1 dan yield obligasi pemerintah RI 10 tahun per siang ini menurun jadi 6,951 persen. Hal ini menggambarkan tren net sell investor asing yang sudah berakhir.
Meninjau faktor global, sentimen negatif menerap indeks dolar AS yang meningkat jadi 100 atau naik 1 persen dibandingkan hari Selasa (22/4).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Fonseca Melaju ke Perempat Final Monte Carlo, Siap Tantang Zverev
-
Rupiah Hari Ini Terpukul! Ultimatum Trump ke Iran Bikin Pasar Keuangan Guncang
-
Rupiah Tak Berkutik di Tengah Gejolak Dunia: Belum Genap Satu Semester, Pelemahan Sudah Signifikan
-
Artemis II Pecahkan Rekor Perjalanan Manusia Terjauh dari Bumi yang Dipegang Apollo 13
-
Sejarah Tercipta, Lebanon-Israel Sepakat Damai, Donald Trump: Ini Ruang Bernapas Baru
-
Makin Anjlok, Rupiah Pagi Ini Rp18.107, Dipengaruhi Eskalasi Baru di Timur Tengah
-
Jalan Dibenahi, Wisata Menggeliat: Pemprov Lampung Buka Akses Kiluan–Umbar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.