Peringati Hari Bumi, Peranan Bank Sampah sebagai Social Engineering Menjadi Krusial bagi Pengurangan Sampah
Selasa, 22 Apr 2025, 17:00 WIBJAKARTA-Sebagai bagian dari upaya mewujudkan bumi yang lebih bersih dan lebih hijau, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mendukung Divers Clean Action (DCA) dan Wahana Visi Indonesia (WVI) untuk menjalankan salah satu program pengelolaan sampah bernama PHINLA sejak 2020.Â
Program PHINLA yang akan berjalan hingga 2027 ini telah meluncurkan Modul Training of Trainers (ToT)Bank Sampah untuk implementasi yang lebih optimal.
Kehadiran Modul ToT ini adalah langkah penting dari replikasi praktik baik yang telah dilakukan PHINLA selama ini, sekaligus dapat dipakai untuk peningkatan kapasitas pengelola bank sampah di berbagai wilayah di Indonesia.Â
Program PHINLA yang didukung oleh Pemerintah Jerman (BMZ) juga telah melakukan market study research dan policy research guna memahami lebih dalam tantangan dan peluang dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Agus Rusly, Dir. Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkuler KLH mengungkapkan, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq telah mengeluarkan peraturan untuk penutupan aktivitas TPA open dumping. Hal ini membuat peran bank sampah sebagai social engineering menjadi krusial dalam pengurangan sampah. "Karena itu KLH sangat menyambut baik adanya ToT bagi bank sampah, dengan harapan bisa dilakukan replikasi sehingga upaya-upaya ini bisa lebih masif dan terstruktur,"ucapnya di Jakarta, Selasa (22/4).
Angelina Theodora, Direktur Nasional WVI organisasi kemanusiaan Kristen yang fokus pada kesejahteraan anak tanpa membedakan suku, agama, ras, dan gender itu selalu berupaya menghadirkan dan mendukung program yang berpihak kepada anak-anak. Dari hasil pemantauan, sampah sampah di pantai sekitar Jakarta banyak juga yang merupakan sampah dari negara lain.
"Melalui PHINLA, kami bergandengan bersama DCA, pemerintah Indonesia, dan juga pemerintah negara lainnya karena kami percaya isu sampah dan lingkungan adalah isu yang universal,"ucapnya .
Program ini dilaksanakan di 3 negara, yaitu Indonesia, Filipina, dan Sri Lanka. Pada fase pertamanya, PHINLA berhasil mengelola sebanyak 88.000 kilogram sampah dari pendampingan operasional yang dilakukan di 10 bank sampah dampingan.Â
Fase kedua PHINLA saat ini mendampingi 21 bank sampah di 11 kelurahan yang tersebar di Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu. PHINLA menargetkan penambahan 3 bank sampah hingga akhir fase kedua pada tahun 2027.
Amrullah Rosadi, Direktur Pelaksana DCA menyampaikan, DCA dan WVI memiliki banyak cerita terkait pendampingan penguatan kapasitas bank sampah, dan ini dirangkum dalam Modul ToT.Â
Modul ini memberikan pemahaman dasar kepada bank sampah tentang pembentukan dan pengembangan bank sampah. "Harapannya modul ini bisa digunakan lebih luas lagi, merangkum berbagai macam pembelajaran dan sharing untuk lebih baik lagi ke depannya,"ungkapnya.
Rositayanti Hadisoebroto, dari Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Trisakti berharap dengan adanya modul edukasi ToT Bank Sampah dari PHINLA, dapat membantu membangkitkan bank sampah yang selama ini mati suri, serta mendukung bank sampah untuk berkerja sama dengan mitra lainya yang saat ini menjadi tantangan.
- Bank Sampah
- Pengelolaan Sampah
- Kementerian Lingkungan Hidup
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Rano Karno Terinspirasi Kopenhagen Kelola Sampah Secara Terintegrasi
-
Mulai dari Rumah! Warga Jakarta Wajib Pilah Sampah
-
Proyek Manpatu PHM Melaju, Memasuki Tahap Load Out dan Sail Away Jacket
-
Cara Pasar Jaya Kelola Sampah Pasar Kramat Jati Agar Tidak Menumpuk
-
Kepala Junta Militer Min Aung Hlaing Dicalonkan Jadi Presiden Myanmar
-
Buang Sampah Sembarangan, Pedagang Pasar Angke Bakal Ditindak Tegas
-
Program Pilah Sampah di Rorotan Berhasil Kurangi hingga 6 Ton Sampah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.