Paus Fransiskus Serukan Kebebasan Berpikir dan Toleransi

Senin, 21 Apr 2025, 02:59 WIB

VATIKAN – Dalam pidato pada Minggu Paskah (20/4), pemimpin Gereja Katolik Roma seluruh dunia, Paus Fransiskus, menyerukan kebebasan berpikir dan toleransi.

“Selamat Paskah,” ujar Paus Fransiskus yang duduk di kursi rodanya dari balkon Basilika Santo Petrus, yang disambut gembira oleh khalayak di lapangan yang dipenuhi bunga di bawahnya.

Ket. Foto: Pemimpin Gereja Katolik Roma seluruh dunia, Paus Fransiskus, berada di balkon utama Basilika Santo Petrus menyampaikan pesan Urbi et Orbi saat perayaan Paskah di Vatikan pada Minggu (20/4). — Sumber: AFP/Vatican Media

Karena masih dalam masa pemulihan, Paus Fransiskus absen dari sebagian besar acara Pekan Suci, tetapi beliau melakukan upaya besar pada Minggu dengan menyambut dan melambaikan tangan ke arah khalayak dan memberkati bayi dari mobil Paus selama hampir 15 menit.

Setelah menyampaikan ucapan selamat Paskah kepada khalayak, yang diperkirakan berjumlah lebih dari 35.000 orang, dari balkon Basilika Santo Petrus, Paus Fransiskus mendelegasikan pembacaan berkat tradisionalnya, Urbi et Orbi (Untuk Kota dan Dunia) kepada seorang pejabat Vatikan.

“Tidak akan ada perdamaian tanpa kebebasan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan berekspresi, dan rasa hormat terhadap pandangan orang lain,” demikian bunyi pidatonya.

Tepat sebelum kehadiran Paus di Basilika Santo Petrus, beliau mengadakan pertemuan pribadi singkat dengan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, yang sedang mengunjungi Roma bersama keluarganya.

Rekaman video menunjukkan Fransiskus berada di kursi rodanya dan berjabat tangan dengan wakil presiden AS dan istrinya, sementara Vatikan kemudian menulis dalam pernyataan singkat bahwa pertemuan tersebut untuk memberikan kesempatan untuk bertukar ucapan selamat pada hari Minggu Paskah.

Pertemuan mereka terjadi beberapa bulan setelah perselisihan antara Paus Fransiskus dan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, mengenai kebijakan antimigran.

Pesan Paskah Paus adalah tentang toleransi terhadap orang lain dan rasa hormat terhadap keberagaman, sebuah tema yang telah ia tekankan sepanjang 12 tahun masa kepausannya. Namun, hal itu menjadi sangat relevan mengingat banyaknya konflik di seluruh dunia, yang sebagian besar disebutkan oleh Paus, termasuk Sudan, Yaman, dan Ukraina.

“Pada hari ini, saya ingin kita semua memiliki harapan baru dan menghidupkan kembali kepercayaan kita kepada orang lain, termasuk mereka yang berbeda dari kita, atau mereka yang datang dari negeri jauh, membawa adat istiadat, cara hidup, dan ide yang tidak kita kenal!” demikian bunyi pidato tersebut.

Dalam pidatonya, Paus Fransiskus pun mengimbau para pemimpin dunia agar tidak menyerah pada logika ketakutan yang hanya mengarah pada isolasi dari orang lain, dan memohon demi kemanusiaan.

Imbau Pemimpin Dunia

Mengutip “warga sipil yang tak berdaya” dan serangan terhadap “sekolah, rumah sakit, dan pekerja kemanusiaan”, Paus mengatakan “kita tidak boleh membiarkan diri kita lupa bahwa bukan target yang diserang, tetapi orang-orang, yang masing-masing memiliki jiwa dan martabat manusia”.

“Konflik yang mengerikan terus menyebabkan kematian dan kehancuran serta menciptakan situasi kemanusiaan yang dramatis dan menyedihkan,” tulis Paus Fransiskus dalam pidato tersebut.

Untuk pertama kalinya sejak menjadi paus pada tahun 2013, Paus Fransiskus melewatkan sebagian besar acara Pekan Suci, seperti Jalan Salib hari Jumat di Koloseum dan Misa Malam Paskah hari Sabtu di Basilika Santo Petrus, di mana ia mendelegasikan tugasnya kepada para kardinal. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.