Iklim Investasi Mengambang Dinilai Jadi Pemicu Konsorsium Korea Cabut dari RI

Senin, 21 Apr 2025, 01:15 WIB

JAKARTA - Konsorsium asal Korea Selatan (Korsel) di bawah pimpinan LG telah memutuskan untuk menarik diri dari proyek untuk membangun rantai pasokan baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia. 

Menurut sumber Yonhap pada Jumat (18/4) menyebutkan keputusan menarik investasi

Ket. Foto: Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, patut disayangkan kalau pada akhirnya perusahaan-perusahaan tersebut tidak melanjutkan proyek pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia. — Sumber: istimewa

senilai 11 triliun won atau sekitar 130,7 triliun rupiah itu dilakukan setelah berkonsultasi dengan pemerintah Indonesia, seiring dengan pergeseran lanskap industri, khususnya yang disebut jurang EV.

“Mempertimbangkan kondisi pasar dan lingkungan investasi, kami telah memutuskan untuk keluar dari proyek tersebut,” kata seorang pejabat dari LG Energy Solution.

“Namun, kami akan melanjutkan bisnis kami yang ada di Indonesia, seperti pabrik baterai Hyundai LG Indonesia Green Power (HLI Green Power), usaha patungan kami dengan Hyundai Motor Group,” katanya.

Sebelumnya, konsorsium yang terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LX International Corp, dan mitra lainnya, telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan sejumlah perusahaan milik negara untuk membangun “rantai pasok menyeluruh” untuk baterai EV. Inisiatif tersebut mulai dari pengadaan bahan baku hingga produksi prekursor, bahan katode, dan pembuatan sel baterai.

Menanggapi penarikan diri itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, patut disayangkan kalau pada akhirnya perusahaan-perusahaan tersebut tidak melanjutkan proyek pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia. Alasan yang disampaikan bahwa ada perlambatan permintaan EV saat ini sebenarnya adalah hal yang tidak biasa dalam siklus teknologi.

“Dugaan saya ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan, berkaitan dengan situasi perang dagang akibat keputusan tarif AS, yang mungkin menyebabkan konsorsium tersebut harus meninjau ulang strateginya,” kata Fabby.

Selain itu kondisi finansial LGES memang kurang baik karena di 2024 lalu mengalami kerugian yang disebabkan menurunnya permintaan EV tahun lalu. Jadi sangat mungkin keputusan itu berdasarkan pada kondisi finansial perusahaan yang membatasi melakukan investasi baru.

Walaupun demikian keputusan ini tentunya akan sedikit menghambat upaya membangun ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia dan menghambat upaya hilirisasi nikel.

Fabby pun berharap Pemerintah melakukan evaluasi batalnya investasi ini dan melakukan evaluasi internal dan mengkaji dampak pada rencana hilirisasi yang dicanangkan pemerintah.

Selain itu untuk Indonesia Battery Corporation (IBC) bisa mencari mitra lain yang sesuai, dan memastikan kerja sama kemitraan dengan LGES di HLI tidak mengalami kendala, mengingat saat ini direncanakan penambahan kapasitas produksi batterai 10 giga watt hour (GWh), yang akan menambah kapasitas produksi baterai HLI menjadi 20 GWh di akhir 2025.

Bahan Evaluasi

           Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira mengatakan, batalnya komitmen investasi LG di ekosistem baterai harus jadi bahan evaluasi total kebijakan industri di Indonesia. Pertama, ada inkonsistensi insentif fiskal antara perusahaan mobil listrik yang diberikan PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah) dan mobil hybrid yang diberi PPnBM DTP (Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah).

“Ini jadi bingung, sebenarnya Indonesia mau bangun ekosistem mobil listrik EV atau hybrid?,” kata Bhima.

Kedua, rencana Pemerintah melonggarkan tingkat kandungn dalam negeri (TKDN) di tengah negosiasi tarif dengan AS membuat produsen baterai di Indonesia kecewa. “Buat apa mereka bangun pabrik dengan investasi besar, kalau syarat TKDN-nya mau di ganti?,”paparnya.

Ketiga, bahan baku baterai tidak lagi bergantung pada nikel, karena perkembangan teknologi seperti LFP (lithium ferro phosphate) dan Sodium. Jika alternatif bahan baku baterai makin banyak tersedia, maka produsen secara rasional akan mempertimbangkan bangun ekosistem baterai di Indonesia.

Sementara itu, peneliti Ekonomi Celios, Nailul Huda mengatakan, yang pasti, kebijakan akhir-akhir ini membuat kepastian investasi menjadi mengambang. “Investor wait and see kebijakan pemerintah yang bisa menentukan arah pembangunan industri ke depan. Salah satunya terkait sikap pemerintah dalam menghadapi perang tarif,” kata Nailul.

Sebagaimana diketahui, dengan timbulnya perang tarif, menggeser permintaan baterai EV yang didominasi oleh mobil dari Tiongkok. Dengan adanya hambatan bagi mobil EV Tiongkok untuk masuk ke AS, sehingga pasar akan semakin menyempit.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.