Tekanan Tarif Resiprokal Mengendur, IHSG Menguat 2,81 Persen Sepekan Ini
Kamis, 17 Apr 2025, 19:13 WIBJAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat sepekan ini, menyusul keputusan pemerintah Amerika Serikat (AS) menunda pemberlakuan kebijakan tarif hingga 90 hari. Meski demikian, investor asing masih hati-hati terhadap kondisi pasar Indonesia di tengah ketidakpastian global.Â
Sepanjang 14-17 April 2025, IHSG cenderung menguat 176,04 poin atau 2,81 persen. Kinerja tersebut berlawanan arah dibandingkan pergerakan IHSG sepekan sebelumnya, 8-11 April 2025 atau usai libur panjang lebaran yang terkoreksi 3,82 persen.Â
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump pada 9 April lalu menunda pemberlakuan tarif resiprokal selama 90 hari. Namun, Trump terus menaikkan tarif impor dari Tiongkok hingga saat ini mencapai 245 persen.Â
Penundaan ini mendorong lonjakan di pasar saham global, termasuk kenaikan indeks S&P 500. Penundaan tersebut juga turut mengendurkan tekanan terhadap pasar saham dalam negeri sampai saat ini.Â
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (17/4) sore, ditutup menguat di tengah pelaku pasar sedang bersikap wait and see terhadap proses negosiasi antara Indonesia dan AS terkait tarif resiprokal.
IHSG ditutup menguat 38,22 poin atau 0,60 persen ke posisi 6.438,27. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,44 poin atau 0,76 persen ke posisi 722,69.
"IHSG bergerak sideways dalam perdagangan Kamis, yang mengindikasikan sikap wait and see pelaku pasar menjelang libur panjang akhir pekan. Pasar mengantisipasi hasil atau perkembangan proses negosiasi antara Indonesia dengan AS," ujar Senior Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan di Jakarta.
Terkait kebijakan tarif, Valdy menyebut pelaku pasar mengkhawatirkan perubahan kebijakan tarif atau kebijakan baru terkait tarif selama libur panjang pada akhir pekan ini.
Pasalnya, Tiongkok justru menerapkan sejumlah kebijakan nontarif yang membatasi perdagangan dengan AS, yang dikhawatirkan berpotensi memicu gangguan produksi domestik, kenaikan angka pengangguran, serta lonjakan inflasi di AS.
Di sisi lain, Gubernur The Fed Jerome Powell menyatakan kekhawatirannya terhadap outlook inflasi yang mempersempit ruang gerak The Fed.
Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor meningkat dimana sektor infrastruktur paling tinggi yaitu 2,43 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor properti naik masing-masing 2,41 persen dan 1,23 persen.
Sedangkan, tiga sektor terkoreksi, yang mana sektor industri paling dalam yaitu minus 0,69 persen, diikuti sektor barang konsumen primer dan sektor barang konsumen non primer yang masing-masing minus 0,27 persen dan minus 0,69 persen.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.151.570 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 15,84 miliar lembar saham senilai 9,76 triliun rupiah. Sebanyak 324 saham naik, 267 saham menurun, dan 214 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 457,20 poin atau 1,35 persen ke 34.377,60, indeks Shanghai menguat 4,34 poin atau 0,13 persen ke 3.280,34, indeks Kuala Lumpur naik menguat 6,35 poin atau 0,43 persen ke 1.483,27, dan indeks Strait Times menguat 57,88 poin atau 1,58 persen ke 3.720,33.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Gempa Tektonik di Palu Alarm bagi Mitigasi Sesar Lokal
-
Mengembalikan Fungsi Jalan dan Saluran di Asemrowo
-
Menkeu Purbaya: Kepercayaan Pemerintah China ke Indonesia Tetap Terjaga
-
Polres Garut Bantu Petani Manfaatkan Kotoran Maggot Jadi Pupuk Organik
-
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat, Mengikuti Bursa Asia dan Global
-
IHSG Sepanjang 2026 Ambles 30 Persen Lebih, Gejolak Global Guncang Kepercayaan Investor
-
Wali Kota: Bandung Gelar Sensus Ekonomi 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.