Rupiah Terguncang di Tengah Drama Boeing dan Tiongkok
Rabu, 16 Apr 2025, 16:42 WIBJAKARTA â Rupiah kembali melemah setelah sempat menguat pada awal pekan ini seiring dengan meningkatnya tensi konflik dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Pelemahan tersebut harus menjadi perhatian serius, mengingat sepanjang tahun ini kurs rupiah terhadap dollar AS telah menjauhi target di asumsi makro APBN 2025 sebesar Rp16.000/ dollar AS.
Pelemahan rupiah secara tajam dan tidak terkendali dapat memicu risiko besar, jika fundamental ekonomi lemah (defisit besar, inflasi tinggi, dan cadangan devisa tipis) dan sentimen investor negatif (misalnya karena ketidakpastian global).
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Rabu (16/4), di Jakarta melemah sebesar 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp16.837 per dollar AS dari sebelumnya Rp16.827 per dollar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, Rabu (15/4), juga melemah ke level Rp16.845 per dollar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.815 per dollar AS.
Pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi penolakan Tiongkok atas pengiriman pesawat Boeing dari Amerika Serikat (AS).
âTiongkok telah memerintahkan maskapai penerbangannya untuk tidak menerima pengiriman jet Boeing lebih lanjut sebagai tanggapan atas keputusan AS untuk mengenakan tarif 145 persen pada barang-barang Tiongkok,â ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (16/4).
Investor disebut sedang berjuang menemukan katalis untuk mendorong pemulihan lebih berarti mengingat pertumbuhan ekonomi global secara luas diperkirakan melambat seiring kebijakan tarif AS terhadap berbagai negara, terutama Tiongkok yang diberlakukan tarif sebesar 145 persen dalam berbagai sektor.
Trump yang telah menaikkan tarif pada barang-barang Tiongkok ke tingkat sangat tinggi, kata Ibrahim, mendorong Tiongkok mengenakan bea balasan atas impor AS dalam perang dagang yang semakin intensif antara dua ekonomi terbesar dunia. Situasi ini dikhawatirkan pasar akan menyebabkan resesi global.
Melihat sentimen dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2025 diprediksi melambat menjadi kisaran 4,9-5 persen. Proyeksi ini melambat dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat 2024 yang mencapai 5,02 persen.
Tantangan reformasi struktural dan efektivitas belanja pemerintah, perlunya peningkatan produktivitas sektor riil, efektivitas kebijakan fiskal dan moneter, dan urgensi penguatan fundamental ekonomi domestik dianggap menjadi penghambat laju perekonomian.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Fonseca Melaju ke Perempat Final Monte Carlo, Siap Tantang Zverev
-
Rupiah Tak Berkutik di Tengah Gejolak Dunia: Belum Genap Satu Semester, Pelemahan Sudah Signifikan
-
Sejarah Tercipta, Lebanon-Israel Sepakat Damai, Donald Trump: Ini Ruang Bernapas Baru
-
Artemis II Pecahkan Rekor Perjalanan Manusia Terjauh dari Bumi yang Dipegang Apollo 13
-
Jalan Dibenahi, Wisata Menggeliat: Pemprov Lampung Buka Akses Kiluan–Umbar
-
Rupiah Hari Ini Terpukul! Ultimatum Trump ke Iran Bikin Pasar Keuangan Guncang
-
Makin Anjlok, Rupiah Pagi Ini Rp18.107, Dipengaruhi Eskalasi Baru di Timur Tengah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.