Guru Besar Unair Sebut Sekolah Rakyat Belum Menjawab Masalah Pendidikan
Kamis, 10 Apr 2025, 22:34 WIBJAKARTA - Guru Besar Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga (Unair), Tuti Budirahayu, menilai, pendirian âSekolah Kemiskinanâ atau Sekolah Rakyat tidak berdasar pada pemikiran yang matang terkait dengan problematika kondisi persekolahan di Indonesia. Menurutnya, program ini lebih terkesan sebagai proyek pemerintah yang membutuhkan biaya besar, namun berpotensi tidak berjalan dengan baik.
âSeperti proyek-proyek pemerintah sebelumnya, banyak bangunan sekolah yang cepat ambruk dan mangkrak. Ini menjadi pertanyaan serius,â ujar Tuti, dalam keterangan resminya, Kamis (10/4).
Dia mempertanyakan dasar teori dari program âSekolah Kemiskinanâ. Menurutnya, sekolah pada dasarnya adalah lembaga pendidikan formal yang bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sosial.
"Apakah sekolah ini akan menggantikan sekolah-sekolah yang sudah ada, atau justru menjadi pesaing bagi sekolah-sekolah tersebut?" terangnya.
Tuti menerangkan, pembangunan sekolah baru belum bisa menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi kemiskinan. Menurutnya, sekolah-sekolah yang sudah ada seharusnya menjadi fokus utama.
Alih-alih membangun sekolah baru, menurut dia, pemerintah dapat merevitalisasi sekolah yang sudah ada, meningkatkan kualitas guru, dan menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan zaman. Dia menilai, keberhasilan program Sekolah Rakyat bergantung pada perencanaan matang dan komitmen jangka panjang, bukan sekadar pembangunan fisik sekolah baru.
âSekolah-sekolah yang ada bisa diperbaiki dan disesuaikan untuk memenuhi standar pendidikan yang lebih baik. Sehingga, mampu membekali siswa dengan keahlian spesifik yang dibutuhkan,â tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf, mengatakan, Sekolah Rakyat merupakan salah satu cara pengentasan kemiskinan secara nasional. Pemerintah menargetkan kemiskinan ekstrem turun menjadi nol persen pada 2026, dan angka kemiskinan secara umum ditekan hingga di bawah lima persen pada 2029.
Saat ini, kata dia, program tersebut sudah dalam tahap finalisasi, mencakup rekrutmen guru, seleksi peserta didik, persiapan kurikulum, serta revitalisasi sarana dan prasarana. Persiapan proses pembelajaran akan dilakukan tahun ini.
âPersiapan proses pembelajaran (dilakukan) pada tahun ini dan sekaligus melakukan revitalisasi gedung-gedung yang diusulkan dalam rangka untuk penyelenggaraan Sekolah Rakyat,â katanya.
Sebagai informasi, sebanyak 53 lokasi telah disiapkan untuk pembukaan Sekolah Rakyat, tersebar di wilayah seperti Jakarta, Bekasi, Temanggung, Magelang, Bandung, beberapa kabupaten di Jawa Timur, serta wilayah di Kalimantan, Aceh, dan Papua. Targetnya, setiap kabupaten dan kota di Indonesia memiliki satu Sekolah Rakyat.
- Unair
- Universitas Airlangga (Unair)
- Pakar Unair
- Sekolah Rakyat
Redaktur: Sriyono
Penulis: Muhamad Ma'rup
Berita Terkait:
-
Penerimaan Siswa Baru Sekolah Rakyat Lombok Timur Prioritaskan Warga Miskin
-
Angkat Seni Budaya Sunda, Kemenekraf Perkuat Melalui AKTIF Musik
-
Kepala Staf Kepresidenan Dudung Tegaskan Pemerintah Prabowo Terbuka terhadap Kritik
-
Usai Kunjungan Trump, Tiongkok Borong 200 Pesawat Buatan AS
-
RI Harus Perkuat Dukungan Kredit UMKM
-
11 Bulan Berjalan, Sekolah Rakyat Cetak Siswa Lebih Disiplin dan Percaya Diri
-
Swiatek Temukan Ritme di Awal Musim Tanah Liat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.