Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Myanmar Tembus 3.300 Jiwa

Sabtu, 05 Apr 2025, 14:38 WIB

YANGON - Gempa bumi 28 Maret lalu meratakan bangunan dan menghancurkan infrastruktur di seluruh Myanmar, mengakibatkan 3.354 orang tewas dan 4.508 orang terluka, dan 220 lainnya hilang, menurut angka baru yang diterbitkan oleh media pemerintah.

Lebih dari satu minggu setelah bencana, banyak orang di negara itu masih tanpa tempat berlindung, mereka terpaksa tidur di luar ruangan karena rumah hancur atau khawatir akan Kembali runtuh.

Ket. Foto: Anggota tim SAR Tiongkok mengevakuasi seorang korban hamil dari gedung yang runtuh setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar, Senin, 31 Maret 2025. — Sumber: Xinhua via AP

Perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan, lebih dari tiga juta orang mungkin terkena dampak gempa berkekuatan 7,7 itu, menambah parah tantangan sebelumnya yang disebabkan oleh perang saudara selama empat tahun.

Pejabat bantuan utama PBB pada hari Sabtu (4/4) bertemu dengan para korban di kota Mandalay, Myanmar Tengah, yang terletak dekat dengan episentrum dan kini bergulat dengan kerusakan parah di seluruh kota.

"Kehancurannya sangat mengerikan," tulis Tom Fletcher dalam sebuah posting di X.

“Dunia harus bersatu mendukung rakyat Myanmar.”

Jumlah korban baru diumumkan setelah kepala junta militer negara itu Min Aung Hlaing kembali dari perjalanan luar negeri ke pertemuan puncak regional di Bangkok pada hari Jumat, di mana ia bertemu dengan para pemimpin termasuk perdana menteri Thailand dan India.

Kehadiran sang jenderal di pertemuan puncak itu menimbulkan kontroversi, para pengunjuk rasa di tempat pertemuan itu membentangkan spanduk yang menyebutnya sebagai "pembunuh" dan kelompok anti-junta mengecam kehadirannya.

Militer telah memerintah Myanmar sejak kudeta tahun 2021, ketika mereka merebut kekuasaan dari pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi, yang memicu konflik multipihak yang belum terselesaikan.

Junta dilaporkan telah melancarkan puluhan serangan sejak gempa bumi, termasuk sedikitnya 16 serangan sejak gencatan senjata sementara diumumkan pada hari Rabu, kata PBB pada hari Jumat.

Pertempuran selama bertahun-tahun telah menghancurkan perekonomian dan infrastruktur Myanmar, secara signifikan menghambat upaya internasional untuk memberikan bantuan sejak gempa bumi.

Tiongkok, Russia, dan India merupakan negara pertama yang memberikan dukungan, mengirimkan tim penyelamat ke Myanmar untuk membantu menemukan korban selamat.

Amerika Serikat secara tradisional berada di garda terdepan dalam bantuan bencana internasional, namun Presiden Donald Trump telah membubarkan USAID, badan bantuan kemanusiaan negara tersebut.

Washington mengatakan pada hari Jumat, pihaknya akan menambahkan 7 juta dollar di atas bantuan sebelumnya sebesar 2 juta dollar untuk Myanmar.

  • gempa myanmar

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.