Bupati Garut Menduga Alih Fungsi Lahan Menyebabkan Banjir
Minggu, 16 Mar 2025, 22:26 WIBGARUTâ Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyampaikan dugaan adanya alih fungsi lahan di hulu sehingga menyebabkan sering terjadi banjir, seperti di kawasan Jalan Raya Cisurupan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, saat musim hujan.
"Kita melihat bahwa masalahnya bukan hanya banjir, tapi sedimentasi, juga ada alih fungsi di tanah di hulunya," katanya saat meninjau lokasi terdampak banjir di ruas Jalan Cisurupan, Kampung Ciharemas, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut di Garut, Minggu (16/3).
Ia menjelaskan upaya pemerintah saat ini melakukan pengecekan dan menanggulangi daerah yang menjadi langganan banjir di Jalan Raya Cisurupan dan sekitarnya, untuk mengetahui langsung penyebab bencana itu.
Ia mengatakan upaya menyelesaikan persoalan banjir itu akan dibahas dengan Perhutani dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), yang antara lain melibatkan pemerintah desa dan kecamatan, serta masyarakat setempat.
"Masyarakat untuk bersama-sama berdiskusi bagaimana caranya kita untuk menyelesaikan masalah ini dalam waktu yang dekat, dan juga nanti yang panjang," katanya.
Ia mengatakan solusi jangka pendek atas masalah banjir itu melalui pencegahan, sedangkan jangka panjang dengan memperhatikan sedimentasi dan kondisi lingkungan terkait dengan masalah alih fungsi lahan.
"Kita akan komunikasi dengan Perhutani, dengan camat, dengan desa, juga dengan tokoh masyarakat karena mereka sejatinya yang jadi subjek dari adanya fungsi lahan itu," katanya.
Ia mengatakan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan terus dilakukan dan bila perlu melibatkan aparatur penegak hukum (APH) untuk menyelesaikan masalah alih fungsi lahan di hulu.
"Dengan edukasi dan mungkin kalau perlu kita ajak semua rekan-rekan APH, bahwa ini adalah sesuatu kesalahan yang bisa menjadi dampak yang berat," katanya.
Anggota DPRD Kabupaten Garut Yudha Puja Turnawan yang ikut meninjau langsung daerah banjir di Cisurupan, menyampaikan persoalan banjir tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah, apalagi wilayah itu dekat dengan kawasan hulu sungai.
Dia mengatakan sejumlah daerah perhutanan di hulu, seperti Gunung Papandayan, terdapat alih fungsi lahan yang akibatnya saat hujan sebentar langsung terjadi banjir di daerah bawah.
"Banyak terjadi alih fungsi lahan, karena hujan sebentar terjadi banjir, dan banjirnya bisa sebesar itu sampai ke jalan, sampai mobil pun sulit lewat," katanya.
Ia mengemukakan perlu adanya kebijakan serius merehabilitasi daerah tangkapan air di hulu, selain pemerintah daerah saat ini memperbaiki saluran air dan mengatasi penyempitan sungai agar air tidak meluap ke permukaan saat turun hujan.
Selain itu, katanya, perlu surat edaran dari Bupati Garut tentang pentingnya menjaga daerah resapan air dengan tidak ditanami sayuran melainkan harus banyak ditanami pohon.
"Harus ada surat edaran, ada penertiban di area resapan air yang tidak boleh ditanami sayur-mayur yang gembur tanahnya, harus tanaman tegakan yang akarnya kuat ke bawah, karena memang akar ini kan yang menangkap air," katanya.
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kodim 1702/Jayawijaya Berikan Dukungan 30 Lampu LED bagi Pelaku UMKM Kopi di Wamena
-
Gudang Limbah di Karawang Kebakaran, Petugas Berjuang Padamkan Api Selama Delapan Jam
-
Jaksel keruk lumpur dan sampah di Kali Jelawe untuk antisipasi banjir
-
Pantai Pandan Jadi Magnet Baru, Pariwisata Tapanuli Tengah Mulai Bangkit
-
Pemkab Garut Menyiapkan Relokasi Rumah Warga Korban Tanah Bergerak
-
Gubernur Jatim Khofifah Resmi Lantik Bupati dan Wakil Bupati Magetan Periode 2025–2030
-
Peneliti: Evaluasi Ketat Operasional SPPG Bisa Menjaga Kepercayaan Publik Terhadap MBG
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.