Pupuk, Kunci Mencapai Ketahanan Pangan Nasional dan Global

Rabu, 26 Feb 2025, 01:00 WIB

LEMBAGA Pangan dan Pertanian dunia atau Food Agriculture Organization (FAO) melaporkan jumlah penduduk dunia yang menghadapi kerawanan pangan akut pada 2023 melonjak jadi 282 juta orang, sedangkan yang diambang kelaparan lebih dari 700 ribu orang. Terkini, Jepang, Malaysia dan Filipina mengumumkan darurat pangan di negara mereka. 

Jepang pertama kali dalam sejarah, melepaskan 210 ribu ton beras dari satu juta ton cadangan daruratnya akibat lonjakan harga ekstrem. Harga beras di negeri Sakura itu melonjak 82 persen dalam setahun, dari 2.023 yen per kilogram (kg) menjadi 3.688 yen per kg atau 393 ribu rupiah karena dampak gelombang panas ekstrem yang merusak produksi dan mengganggu distribusi.

Ket. Foto: Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menyerahkan penghargaan Green Leadership kategori Utama kepada Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi dalam ajang Anugerah Lingkungan Proper Tahun 2024 di Jakarta, Senin (24/2). — Sumber: ANTARA/HO-Humas Pupuk Indonesia

Sementara di Malaysia, kelangkaan beras lokal memicu lonjakan harga dan mengakibatkan masyarakat panik. Filipina sendiri telah menetapkan status darurat ketahanan pangan sejak awal Februari 2025 karena kenaikan harga beras 24,4 persen, tertinggi dalam 15 tahun terakhir.

Menyikapi fenomena di tiga negara tersebut, Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman mengatakan kejadian itu sebagai alarm (penanda dini) bagi Indonesia untuk bertindak cepat menjaga ketahanan pangan. Ancaman krisis pangan global yang dipicu perubahan iklim dan ketidakstabilan distribusi harus diantisipasi dengan mempercepat swasembada beras serta memperkuat cadangan pangan nasional.

Guru Besar Ekonomi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto baru-baru ini mengatakan salah satu tantangan dalam memacu swasembada pangan adalah produktivitas lahan pertanian yang semakin menurun. Oleh sebab itu, penting melakukan perbaikan infrastruktur pertanian seperti irigasi dan meningkatkan input penunjang berupa bibit unggul dan pupuk yang memadai.

Dalam konteks ketahanan pangan global, ketersediaan pupuk secara luas sangat penting, karena dengan tersedianya kembali nutrisi yang dibutuhkan tanaman, maka produktivitas akan kembali meningkat di berbagai negara yang akan membantu mengurangi kelaparan dan memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat.

Dengan memastikan ketersediaan pupuk yang memadai, pemerintah dan lembaga terkait telah mendukung petani untuk meningkatkan produktivitas dan mencapai ketahanan pangan nasional.

Produsen Terbesar

Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi baru-baru ini mengatakan melalui kerja keras dan inovasi teknologi, Pupuk Indonesia terus meningkatkan kontribusinya dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.

Seiring dengan visi Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk mewujudkan swasembada pangan, Pupuk Indonesia terang Rahmad terus memperkuat perannya sebagai produsen pupuk berkualitas. Selama 2024 hingga awal 2025, perseroan sudah mencatatkan berbagai pencapaian strategis seperti digitalisasi layanan, penyaluran pupuk bersubsidi yang tepat waktu, hingga revitalisasi pabrik.

Dengan kapasitas produksi mencapai 14,6 juta ton, Pupuk Indonesia papar Rahmad merupakan produsen pupuk berbasis nitrogen terbesar di Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Beberapa upaya yang ditempuh antara lain pembangunan pabrik NPK Pupuk Iskandar Muda, pabrik NPK Phonska V Pupuk Petrokimia Gresik, dan revitalisasi pabrik III-B milik PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri).

Jika revitalisasi rampung sesuai target pada 2027, maka pabrik akan memiliki kapasitas produksi 445 ribu ton amonia dan 907 ribu ton urea per tahun, sehingga mampu mendukung program percepatan swasembada pangan.

Rahmad pun optimis, melalui strategi yang terarah, Pupuk Indonesia terus memainkan peran sentral dalam industri pupuk dan petrokimia baik di skala nasional maupun di kancah global.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Vitto Budi

Berita Terbaru

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.