Koran-jakarta.com || Senin, 17 Feb 2025, 02:59 WIB

Marcos Jr Angkat Isu Tiongkok dalam Kampanye Pemilu

  • Ferdinand Marcos Jr

MANILA - Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, pada Sabtu (15/2) menyatakan akan menempatkan Tiongkoksebagai pusat perhatian dalam kampanye pemilihan presiden, dengan mengatakan bahwa pemerintahan pendahulunya sangat senang jika Filipina menjadi bagian dari provinsi Tiongkok.

Marcos Jr Angkat Isu Tiongkok dalam Kampanye Pemilu

Ket. Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, saat berpidato di Kota Carmen di Provinsi Davao del Norte, pada Sabtu (15/2). Presiden Marcos Jr akan menempatkan isu Tiongkok dalam kampanye jelang pemilihan sela pada Mei mendatang.

Doc: AFP/New Philippines Alliance Pa Marcos Jr Angkat Isu Tiongkok dalam Kampanye Pemilu

Berbicara di jantung basis pendukung Rodrigo Duterte di Mindanao menjelang pemilihan sela pada Mei mendatang, Presiden Marcos Jr mengecam mantan presiden tersebut dengan tanpa menyebut namanya, atas segala hal mulai dari perang narkoba yang mematikan hingga dugaan penipuan selama pandemi Covid-19.

Namun hubungan negaranya yang semakin tegang dengan Tiongkok yang memunculkan frontserangan baru.

“Anda akan memilih apakah kami akan kembali ke masa ketika para pemimpin kami menginginkan Filipina menjadi provinsi Tiongkok,” kata Marcos Jr dalam sebuah rapat umum di Provinsi Davao del Norte.

“Tak satu pun (calon kita) adalah antek-antek Tiongkok yang bersorak-sorai ketika penjaga pantai kita disemprot dengan meriam air oleh kapal-kapal besar Tiongkok,” imbuh Presiden Filipina itu.

Kapal-kapal Tiongkok telah terlibat dalam serangkaian konfrontasi tingkat tinggi dengan kapal-kapal Filipina di perairan sengketa Laut Tiongkok Selatan (LTS) yang diklaim oleh Beijing meskipun ada keputusan internasional bahwa klaim mereka tidak memiliki dasar hukum.

"Saya harap kita tidak kembali ke masa lalu, saat para pemimpin kita menjajakan negara kita sebagai pusat perjudian bagi orang asing," kata Marcos Jr merujuk pada situs perjudian lepas pantai yang kini dilarang dan sering kali dijalankan sebagai pusat penipuan oleh warga negara Tiongkok.

Profesor Dennis Coronacion, kepala departemen ilmu politik di Universitas Santo Tomas Manila, mengatakan menjadikan Tiongkok sebagai bahan pembicaraan adalah formula yang berpotensi menang.

"Di masa lalu, kebijakan luar negeri dan pembicaraan tentang Tiongkok tidak pernah menjadi isu pemilu, jadi jika itu akan menjadi isu, saya pikir dia bisa mendapatkan dukungan dari banyak warga Filipina," kata dia, seraya menambahkan survei menunjukkan warga sangat peduli dengan hal itu. “Mereka tidak menyukai apa yang dilakukan Tiongkok terhadap kita,” imbuh dia.

Sementara itu profesor ilmu politik di Universitas Filipina, Jean Franco, mengatakan, Marcos Jr telah menggarisbawahi perbedaan yang sangat jelas dalam cara kedua pemerintahan menangani masalah Tiongkok.

"Ini seharusnya menjadi isu pemilu mengingat ini adalah isu yang berkaitan dengan kedaulatan kita," kata Franco.

Pertarungan antara dua dinasti politik Marcos-Duterte ini merupakan inti dari pemilihan paruh waktu, yang dapat menentukan masa depan politik wakil presiden yang dimakzulkan, Sara Duterte, yang berselisih pendapat secara spektakuler dengan Marcos Jr.

Latihan Militer

Terkait dengan sengketa antara Filipina dan Tiongkok, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS pada Sabtu menegaskan bahwa latihan militer AS-Filipina sudah berlangsung lama, murni defensif dan dimaksudkan untuk menjaga kesiapan pasukan dan menjaga keamanan regional.

Juru bicara itu menanggapi dalam sebuah email terhadap permintaan komentar setelah Kementerian Pertahanan Tiongkok mendesak Manila pada Jumat (14/2) untuk menarik misiljarak menengah Typhon AS.

Sistem peluncur misil Typhon diketahui bisa menembakkan misil multiguna ke jarak hingga ribuan kilometer.

“Penyebaran sementara kemampuan misilAS di Filipina ini merupakan langkah responsif terhadap ancaman yang berkembang, yang dimaksudkan untuk menjaga kesiapan pasukan dan menjaga keamanan dan stabilitas regional untuk semua,” kata juru bicara itu. “Sistem persenjataan AS ini dirancang untuk dipersenjatai secara konvensional dan tidak dirancang untuk menggunakan muatan nuklir,” imbuh dia. AFP/ST/I-1

Tim Redaksi:
A
I

Like, Comment, or Share:


Artikel Terkait