BPA Galon Air Luruh Jika Terpanaskan Hingga Suhu 159 Derajat Celcius.
- BPA pada air minum dalam kemasan
JAKARTA - Hingga saat ini masih beredar misinformasi terkait dugaan senyawa kimia Bisphenol-A (BPA) luruh dalam air minum kemasan galon polikarbonat yang terpapar sinar matahari. Senyawa kimia ini pembentuk plastik jenis Polikarbornat (PC) yang bisa membahayakan kesehatan apabila terkonsumsi melebihi batas maksimal yang dapat ditoleransi oleh tubuh.

Ket. Ilustrasi galon kemasan air minum.
Doc: Istimewa
Untuk memotret kondisi tersebut Kelompok Studi Kimia Organik Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan penelitian independen untuk meneliti luruhan BPA pada empat (4) merek air kemasan galon lokal maupun nasional terpopuler Kota Medan, Sumatera Utara. Hari ini penelitian tim menunjukkan bahwa BPA tidak terdeteksi pada semua sampel yang diuji, termasuk yang terpapar sinar matahari.
Prof. Dr. Juliati Tarigan, M.Si, Guru Besar Kimia Organik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU) selaku Ketua Tim Peneli menegaskan bahwa di dalam semua sampel air galon polikarbonat yang diteliti, baik yang terpapar ataupun tidak terpapar sinar matahari, tidak terdeteksi adanya luruhan atau migrasi BPA.
“Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir untuk mengonsumsi air minum kemasan galon, karena merek-merek terpopuler di Kota Medan terbukti aman untuk dikonsumsi,” ucapnya melalui siaran pers pada hari Senin (10/2).
Temuan ini juga membantah anggapan bahwa migrasi BPA dari galon berbahan polikarbonat dapat terjadi jika kemasan terpapar sinar matahari. Meskipun galon didistribusikan pada siang hari, migrasi BPA ke dalam air minum tidak akan terjadi apabila suhu tidak mencapai 159 derajat Celcius.
“Sementara itu, suhu tertinggi yang tercatat di Indonesia hanya mencapai 38,5 derajat Celcius,” tambah Juliati
Ia menjelaskan bahwa secara sifat kimiawi, BPA memiliki titik leleh pada suhu 159 derajat Celcius. Hal ini menunjukkan bahwa BPA dalam kemasan polikarbonat hanya dapat luruh pada suhu yang sangat tinggi, hingga di atas suhu 159 derajat Celcius.
Anda mungkin tertarik:
“Selain itu, BPA memiliki kelarutan yang sangat rendah dalam air, jadi kemungkinan larut dari kemasan galon polikarbonat ke dalam air minum yaitu sangat kecil,” terangnya.
Metode Penelitian dan Sampling
Juliati memaparkan bahwa sampel dikumpulkan dari empat (4) merek air min dalam kemasan galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) yang umum dan popul ditemukan di Medan. Keempat sampel tersebut terdiri dari dua merek produk AM nasional terpopuler yaitu AQUA dan Prima, serta dua sampel merek lokal yaitu Am dan Himudo.
Masing-masing merek diambil tiga sampel dari titik distribusi ya berbeda. Sampel diambil pada tiga kondisi penyimpanan, yaitu kondisi normal at tidak terpapar matahari langsung, serta kondisi dengan paparan sinar matahari langsung selama 5 dan 10 hari.
“Pengujian kami lakukan secara triplo atau dilakukan dengan menggunakan tiga sampel atau pengujian tiga kali. Sangat penting dilakukan pengujian secara triplo pada sampel pangan agar data pertama dapat dibandingkan dengan data kedua atau ketiga, sehingga hasil akhir yang diperoleh menjadi lebih akurat,” kata Juliati
Sampel diuji menggunakan alat ukur High-Performance Liquid Chromatography (HPL atau Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yang merupakan instrumen yang sang canggih untuk mendeteksi kandungan BPA dalam air hingga level mikrogram per liter (?g/L).
Pada tahun 2024, Kelompok Studi Polimer dari Institut Teknologi Bandung (ITB) tel melakukan penelitian independen mengenai keamanan dan kualitas air minum dalam kemasan (AMDK) pada empat merek air minum galon terpopuler berbahan polikarbonat Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada luruhan BPA yang terdeteksi pada semua sampel air minum galon yang diuji.
Sementara itu, terdapat dua penelitian senada yang dilakukan di Makassar, Sulawesi Selatan. Penelitian pertama dilakukan oleh Endah Dwijayanti, S.Si., M.Sc., Ketua Program Studi Studi Kimia Universitas Islam Makassar, yang berjudul “Analisis Bisphenol-A dan Di-ethylhexyl Phthalates dalam Air Galon Yang Beredar di Kota Makassar.”
Penelitian ini diterbitkan dalam Food Scientia, Journal of Food Science An Technology, Universitas Terbuka pada Juni 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel air minum yang diuji bebas dari zat berbahaya dan tidak terdeteksi adanya senyawa BPA.
Penelitian kedua dilakukan oleh Ir. Gusnawati, S.T., M.T., Dosen Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi industri Universitas Muslim Indonesia (UMI) dengan judul "Analisis Migrasi Cemaran Bisphenol-A (BPA) Kemasan Plastik Polikarbonat (PC) Produk Air Minum dalam Kemasan Galon di Wilayah Kota Makassar."
Penelitian tersebut dipublikasikan di Jambura, Journal of Chemistry, Universitas Negeri Gorontalo pada tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan BPA pada galon polikarbonat dengan kode No.7 yang disimpan di dalam maupun di luar ruangan selama 7 hari.
Berbagai penelitian yang telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia tersebut telah menyatakan, tidak terdeteksi adanya luruhan BPA pada air minum dalam kemasan galon polikarbonat. Dengan demikian, air minum dalam kemasan galon terbukti aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat dan tidak menimbulkan risiko terhadap kesehatan.