Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Aktivis Korsel Akhiri Gaya Hidup Konsumtif dengan Setop Beli Baju Baru

📅 Sabtu, 08 Feb 2025, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Aktivis Korsel Akhiri Gaya Hidup Konsumtif dengan Setop Beli Baju Baru Doc: AFP/ANTHONY WALLACE
Ket. Aktivis iklim Korsel, Lee So-yeon, sedang menyeleksi pakaian yang ia terima dari rekan dan keluarganya dari lemari bajunya beberapa waktu lalu. Menyadari bahwa industri mode global merupakan salah satu industri yang paling berpolusi

Tadinya Lee So-yeon, seorang shopaholic asal Korea Selatan (Korsel) yang kini menjadi aktivis iklim, terbiasa membeli pakaian baru hampir setiap hari hingga sebuah mantel musim dingin seharga 1,50 dollar AS memicu kesadaran yang membuatnya berhenti berbelanja sama sekali.

Saat melihat jaket berlapis yang sangat murah di toko H&M di Amerika Serikat (AS), tempat ia bekerja saat itu, Lee bertanya pada dirinya sendiri bagaimana mungkin satu potong pakaian bisa dijual dengan harga semurah itu.

Perempuan berusia 30 tahun itu kemudian menyelami lebih dalam metode produksi tren pakaian terkini dan merasa ngeri melihat dampak negatif hiperkonsumerisme terhadap manusia, sosial, dan lingkungan di planet ini serta terhadap kesehatan mental perempuan yang membuat dan membeli pakaian murah.

"Saya dulu terbiasa membeli satu pakaian baru setiap hari (kerja) dalam sepekan," aku Lee kepada AFP, seraya menambahkan bahwa setiap barang dari pengecer besar di jalan raya biasanya harganya kurang dari satu dollar saja.

Namun, Lee mengetahui bahwa alasan mengapa pakaian itu sangat murah adalah karena perempuan yang menjahit untuk perusahaan dibayar murah, sementara model bisnis itu sendiri menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan.

Akibatnya Lee berhenti membeli pakaian baru dan bahkan ia tak membeli satu pun pakaian tren terbaru sejak mendapat pencerahan sekitar enam tahun lalu.

Sebelumnya lemari pakaiannya amat padat terdiri dari barang-barang bekas yang ia terima dari teman-teman dan keluarga, termasuk jaket kulit antik yang dulunya milik ibunya.

Tidak seperti barang-barang tren terkini yang sering kali dirancang untuk dibuang setelah beberapa kali dipakai, setiap potong pakaiannya tidak dapat tergantikan karena memiliki cerita dan sejarah yang unik, kata dia.

"Pada akhirnya, pakaian yang paling ramah lingkungan adalah pakaian yang bertahan di lemari pakaian kita," ungkap Lee.

Memutus Siklus

Lee kini mengorganisasikan kegiatan barter pakaian dengan teman-temannya dan keluarga, dan telah menulis buku untuk mempromosikan gagasan menghargai pakaian berdasarkan "kisah di baliknya," alih-alih mengejar tren yang bersifat sementara.

Kini Lee adalah bagian dari gerakan global yang kecil tetapi berkembang yang berupaya mempromosikan pakaian bekas dan membantu orang-orang, khususnya kaum perempuan, untuk keluar dari siklus konsumsi berlebihan.

Salah satu aplikasi barter pakaian yaitu Lucky Sweater, platform fokus bagi pengguna untuk saling bertukar barang dari lemari mereka, dengan menekankan pada merek yang berkelanjutan, kata pendirinya, Tanya Dastyar, kepada AFP.

"Kita tadinya diprogram untuk percaya bahwa satu-satunya cara untuk mengekspresikan gaya busana saya atau menunjukkan bahwa saya cantik atau trendi adalah dengan pakaian baru. Namun ternyata Anda tetap bisa tampil modis, merasa baik, dan tampil hebat tanpa harus melakukan itu," kata Dastyar, seraya menambahkan bahwa meskipun berdagang pakaian tidak memberikan dampak dopamin yang sama cepatnya seperti membeli barang mode cepat, hal itu jauh lebih menguntungkan seiring berjalannya waktu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.