Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tanpa Pengelolaan Tepat, Realokasi APBN Bisa Tekan Pertumbuhan Ekonomi

6 Sabtu, 01 Feb 2025, 01:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Tanpa Pengelolaan Tepat, Realokasi APBN Bisa Tekan Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Pengelolaan Tepat, Realokasi APBN Bisa Tekan Pertumbuhan Ekonomi Doc: istimewa
Ket. Efisiensi APBN - Belanja Birokrasi Sumbang Pelebaran Defisit APBN dan Tambahan Utang

JAKARTA - Langkah Pemerintah untuk mengefisienkan belanja negara dengan merealokasi pos-pos belanja yang tidak produktif ke sektor yang lebih produktif dinilai sebagai keputusan tepat di tengah keterbatasan untuk meningkatkan penerimaan negara. 

Namun demikian, realokasi belanja negara juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi jika tidak dikelola secara tepat.

Pengamat ekonomi dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengatakan kebijakan efisiensi anggaran memang akan mengarahkan pembangunan lebih sesuai dengan prioritas nasional.

“Realokasi belanja APBN akan membuat sebagian pihak diuntungkan, sebagian yang lain dirugikan, tetapi paling tidak arah pembangunan akan lebih sesuai dengan yang dimaui pemerintah,” kata Wijayanto kepada Antara di Jakarta, Jumat (31/1).

Menurut Wijayanto, dampak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap ekonomi sangat bergantung pada ukuran dan alokasinya. Efisiensi pengeluaran memang bisa meningkatkan efektivitas APBN, tetapi juga bisa menimbulkan efek negatif bagi sektor-sektor tertentu.

Misalnya, pengurangan biaya meeting dan perjalanan dinas akan menekan sektor perhotelan dan transportasi secara masif. Kondisi seperti itu pernah terjadi pada awal pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, namun akhirnya dilonggarkan karena dampaknya terhadap pelaku usaha dan tenaga kerja.

Realisasi efisiensi anggaran dilakukan berdasarkan surat bernomor S-37/MK.02/2025 yang dikeluarkan Kementerian Keuangan yang menetapkan pemangkasan anggaran pada 16 pos belanja, termasuk alat tulis kantor (90 persen), kegiatan seremonial (56,9 persen), serta perjalanan dinas (53,9 persen).

Pemangkasan anggaran infrastruktur, kajian kebijakan, dan jasa konsultasi jelasnya juga bisa menghambat proyek strategis atau pengembangan kebijakan berbasis riset. Sebab itu, sangat wajar apabila masyarakat mengaitkan efisiensi anggaran dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan dana besar.

“Pemerintah kekurangan anggaran untuk MBG, pada saat yang bersamaan Pemerintah menghemat berbagai pengeluaran, wajar jika diartikan penghematan tersebut terutama untuk memenuhi kebutuhan anggaran MBG,” tuturnya.

MBG jelasnya adalah program besar yang memerlukan pengelolaan transparan dan efisien. Jika tidak tepat sasaran atau minim melibatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan produsen lokal, maka realokasi anggaran justru dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Sebagai langkah mitigasi, Wijayanto menyarankan agar efisiensi anggaran dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara keberlanjutan fiskal dan dampaknya terhadap perekonomian.

“Jangan sampai karena MBG, sektor lain yang sama pentingnya atau bahkan lebih penting, justru dikorbankan. Mengingat MBG merupakan "the elephant in the room", maka pengelolaannya harus dipastikan efisien, tepat sasaran, bebas korupsi, melibatkan UMKM dan produsen lokal. Jika tidak, realokasi anggaran berpotensi mengerem laju pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Memukul Industri MICE

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira mengatakan, efisiensi anggaran terutama pos belanja seremonial, alat tulis kantor (ATK) hingga sewa kendaraan merupakan langkah positif untuk meningkatkan ruang fiskal. Misalnya soal belanja rapat dan seminar memang bisa digantikan dengan rapat online, yang jauh lebih murah dan efektif.

“ATK juga bisa digantikan dengan tanda tangan dokumen secara digital dan ramah lingkungan juga tidak boros kertas. Selama ini beban belanja birokrasi cukup disorot karena menyumbang pelebaran defisit APBN dan tambahan utang pemerintah,”ungkap Bhima.

Konsekwensi negatif dari kebijakan tersebut kata Bhima terutama akan memukul jasa Meeting, Incentives, Convention and Exhibition (MICE) dan industri perhotelan serta agen perjalanan. Pendapatan mereka akan terdampak dignifikan, karena sebagian besar pelaku usaha MICE mengandalkan pendapatan dari event pemerintah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kabar Baik! Pemerintah Buka CPNS November 2026, 139 Ribu Formasi Guru Menanti

Kabar Baik! Pemerintah Buka CPNS November 2026, 139 Ribu Formasi Guru Menanti

06 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.