Trump Tinggalkan Perjanjian Iklim Paris, PBB: Pintu Masih Terbuka bagi AS

Selasa, 21 Jan 2025, 12:20 WIB

WASHINGTON - Presiden Donald Trump pada hari Senin (20/1) mengumumkan penarikan diri Amerika Serikat dari perjanjian iklim Paris untuk kedua kalinya, sebuah penolakan tegas terhadap upaya global untuk menanggulangi pemanasan global.

Ia juga mengumumkan "darurat energi nasional" untuk memperluas pengeboran di produsen minyak dan gas terbesar dunia. Ia akan menghapus standar emisi kendaraan yang setara dengan "mandat kendaraan listrik" dan berjanji menghentikan ladang angin lepas pantai.

Ket. Foto: Presiden AS Donald Trump pada hari Senin (20/1) menandatangani sejumlah perintah eksekutif sesaat setelah dilantik. — Sumber: CNA/AFP

"Saya segera menarik diri dari penipuan Perjanjian Iklim Paris yang tidak adil dan sepihak," katanya kepada para pendukung yang bersorak di arena olahraga Washington setelah dilantik. "Amerika Serikat tidak akan menyabotase industri kami sendiri sementara Tiongkok mencemari lingkungan tanpa hukuman."

Ia juga menandatangani perintah yang menginstruksikan badan-badan federal untuk menolak komitmen pendanaan iklim internasional yang dibuat di bawah pemerintahan sebelumnya, dan mengeluarkan surat resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memberitahukan niat Washington untuk meninggalkan perjanjian tersebut.

Berdasarkan aturan perjanjian tersebut, Amerika Serikat akan secara resmi keluar dalam waktu satu tahun.

Para kritikus memperingatkan bahwa langkah tersebut merusak kerja sama global dalam mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan dapat membuat pencemar besar seperti Tiongkok dan India semakin melemahkan komitmen mereka. Sementara itu, Argentina, di bawah Presiden Libertarian Javier Milei, juga mengatakan bahwa pihaknya sedang "mengevaluasi ulang" keikutsertaannya.

"Menarik Amerika Serikat dari Perjanjian Paris adalah sebuah tragedi," kata Rachel Cleetus, dari Union of Concerned Scientists. Tindakan tersebut "menunjukkan pemerintahan yang sangat acuh tak acuh terhadap dampak buruk perubahan iklim yang dialami rakyat di Amerika Serikat dan di seluruh dunia."

Kesepakatan tanpa AS

Langkah ini dilakukan ketika suhu rata-rata global selama dua tahun terakhir melampaui ambang batas pemanasan kritis 1,5 derajat Celsius untuk pertama kalinya, yang menggarisbawahi urgensi tindakan iklim.  

Trump sebelumnya menarik Amerika Serikat dari Perjanjian Paris saat masa jabatan pertamanya. Meski demikian, perjanjian yang diadopsi pada tahun 2015 oleh 195 pihak untuk mengekang emisi gas rumah kaca yang mendorong perubahan iklim, tampaknya akan bertahan lama.

"Penarikan diri AS dari Perjanjian Paris sangat disayangkan, tetapi aksi iklim multilateral telah terbukti tangguh dan lebih kuat daripada politik dan kebijakan negara mana pun," kata Laurence Tubiana, arsitek utama kesepakatan tersebut.

Kepala iklim PBB Simon Stiell menambahkan "pintu masih terbuka" bagi Washington.

Trump pada hari Senin juga menandatangani serangkaian perintah federal terkait energi yang bertujuan untuk membatalkan warisan iklim mantan presiden Joe Biden. 

Ia juga menyerang "kincir angin yang besar dan jelek" dan mengatakan ia akan menentang Undang-Undang Pengurangan Inflasi Biden, yang menyalurkan miliaran dolar ke dalam kredit pajak energi bersih.

Selain itu, Trump berjanji untuk mencabut larangan pengeboran lepas pantai, mencabut izin untuk fasilitas gas alam cair, dan melanjutkan pengeboran di lahan yang dilindungi di Alaska.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

Berita Terbaru

Bangladesh Punya Presiden Baru Setelah Pemilu Sengit 35 Tahun Terakhir

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.