- Home
-
- Megapolitan
-
- Makanan, Minuman, dan Temb...
Makanan, Minuman, dan Tembakau Sumbang Inflasi Terbesar
Jumat, 03 Jan 2025, 01:25 WIBJAKARTA â Angka inflasi Jakarta selama bulan Desember tahun lalu sangat dipengaruhi makanan, minuman, dan tembakau. âKetiganya menjadi penyumbang inflasi terbesar Jakarta untuk bulan Desember,â tutur Kepala BPS Provinsi Jakarta, Nurul Hasanudin, Kamis (2/1). Sedangkan angka inflasinya sendiri 0,37 untuk Desember.
âUntuk Jakarta inflasi bulan Desember 2024 tercatat sebesar 0,37 persen,â jelas Nurul. Menurutnya, inflasi Jakarta untuk Desember lebih rendah dari angka nasional bulan yang sama, 0,44 persen.
Menurut Nurul, dari 11 kelompok yang membentuk angka inflasi penyumbang terbesar pertama adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,26 persen dari inflasi 1,33 persen.
Komoditas lainnya yang mempengaruhi inflasi, terkait perawatan pribadi dan jasa lainnya. Di sini ada emas perhiasan dengan andil 0,05 persen dari angka inflasi 0,75 persen. Nurul menambahkan untuk penyumbang inflasi berikutnya, terkait kesehatan dengan inflasi 1,03 persen dengan andil cukup tinggi, 0,03 persen.
Sementara itu, lanjut Murul Hasanudin, jika dilihat dari komoditas, andil utama inflasi Desember adalah cabai merah. Peran tertinggi sebesar 0,04 persen dan inflasi 21,16 persen.
âKondisi ini juga sama di tingkat nasional di mana cabai merah juga tercatat penyumbang inflasi,â katanya. Bukan hanya itu, inflasi Jakarta juga disumbang telur ayam ras dan beras dengan inflasi sebesar 0,03 persen. Kemudian, minyak goreng juga menyumbang inflasi. Angkanya, sebesar 0,02 persen. Mereka itu komoditas yang memberi andil utama inflasi.
âSecara tahunan, inflasi Jakarta lebih rendah dari angka nasional. Angka inflasi year-on-year (tercatat sebesar 1,48 persen,â jelas Nurul. Sedangkan angka nasional, berada di level 1,57 persen.
Ekspor Jakarta
Sementara itu, isu lain yang disampaikan BPS menyangkut nilai ekspor Jakarta. Menurut Nurul Hasanudin, nilai ekspor Jakarta selama November 2024 mencapai 1,34 miliar dollar AS dan. Data ini meningkat 34,75 persen dari tahun 2023.
Nilai ekspor Jakarta selama November turun 7,01 persen dari Oktober. Penurunan terutama dari minyak dan gas. Tapi ada juga dari nonmigas. Perkembangan ekspor Jakarta menurut sektornya tertinggi terjadi dalam industri pengolahan yang mencapai 95,59 persen. Sedangkan sektor pertanian 4,22 persen.
Penurunan yang cukup tinggi sektor industri pengolahan sebesar 8,02 persen dari posisi ekspor industri Oktober 2024. âUntuk pertanian sebetulnya ada kenaikan tapi karena share-nya kecil, hanya 4,22 persen, maka dampak terhadap totalnya belum mampu mengangkat penurunan ekspor bulan November 2024,â tuturnya.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kota Kendari catat inflasi terendah se-Sulawesi Tenggara
-
Inflasi Jateng pada Mei 2026
-
Ketua DPRD DKI: Perda Penyelenggaraan Pendidikan Ditargetkan Sah Tahun Ini
-
Inflasi Mei 2026 di Jawa Barat
-
Distan Mataram Pastikan Ketersediaan Daging Aman hingga Idul Adha
-
Kemlu RI Pulangkan 90 WNI dari Perbatasan Myanmar-Thailand
-
Luis Enrique Tabuh Genderang Perang: Akui Bayern Konsisten, Tapi Tegaskan Skuad PSG Tak Terkalahkan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.