Tantangan Global Masih Besar, Indonesia Perlu Lakukan Ini

Kamis, 02 Jan 2025, 00:00 WIB

JAKARTA – Potensi ekonomi di dalam negeri sangat besar untuk menopang kinerja perekonomian tahun ini di tengah tantangan besar eksternal. Karenanya, Indonesia harus fokus mengembangkan pasar domestik, sekalipun nanti perekonomian global dibayangi ketidakpastian akibat sengketa dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Aviliani melihat meskipun ada tantangan dari eksternal, potensi ekonomi domestik sangat besar. Kalau pun nanti ada kebijakan di AS dan Tiongkok terkait perdagangan, lanjutnya, maka Indonesia harus fokus pada pasar domestik yang sebenarnya bisa dikembangkan. Aviliani menilai ke depan suku bunga diperkirakan masih menjadi tantangan karena walaupun turun hanya akan mencapai 50 basis poin. Menurutnya, rupiah akan tergerus karena insentif yang diberikan oleh eksternal yaitu AS dan Tiongkok bisa membuat capital outflow (arus modal keluar).

Ket. Foto: proyeksi pertumbuhan I Warga memilih produk saat belanja di salah satu industri ritel di Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/1). — Sumber: ANTARA/Raisan Al Farisi

“Tantangan ke depan ini masih akan terjadi bunga tinggi. Karena itu, pengusaha harus pandai- pandai kalau bunga tinggi apa yang harus dilakukan? Apakah dia melunasi utang? Apakah dia bisa IPO (initial public offering)? Ini adalah sebuah challenge (tantangan) buat pengusaha,” jelas Avi dalam seminar darin, beberapa waktu lalu. Selain suku bunga, lanjutnya, tantangan lainnya adalah nilai tukar yang diprediksi masih akan berfluktuasi cukup tinggi dengan kisaran 16.000- 16.500 rupiah per dollar AS.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena akan berdampak pada inflasi. Aviliani berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kebutuhan suplai pangan yang tinggi tidak membuat inflasi naik. Mengenai potensi masuknya investasi sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi 8 persen sesuai dengan Astacita Pemerintahan Prabowo, Avi melihat sektor pertambangan sangat potensial. Selain sektor pertambangan, Avi juga menyebutkan potensi di sektor transportasi dan sektor keuangan.

 “Sekarang kan ada dari Vietnam masuk di (sektor transportasi) taksi ya. Sebenarnya ada taksi dari Vietnam itu cukup banyak jumlahnya. Jadi mereka masih melihat sektor-sektor jasa juga menarik buat mereka karena potensi market di Indonesia itu masih sangat besar,” jelasnya.

Seperti diketahui, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional dalam APBN 2025 sebesar 5,2 persen atau sama dengan target pada 2024. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 di kisaran 4,8-5,6 persen dengan didukung oleh konsumsi swasta, investasi, dan kinerja ekspor yang cukup baik.

Target pemerintah tersebut sejalan dengan proyeksi dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Dalam OECD Economic Surveys, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 masih akan ditopang konsumsi yang kuat. Namun, angka tersebut di bawah proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di level 5,1 persen.

Sektor Penggerak

Sementara itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mencapai 5 persen. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menyampaikan, meskipun pertumbuhan ekonomi 2025 penuh dengan tantangan, baik dari faktor global maupun domestik.

Namun, beberapa sektor diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Di antaranya, sektor digital dan teknologi informasi, yang terus berkembang dengan pesat, terutama melalui peningkatan e-commerce dan platform digital.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

Berita Terbaru

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.