Tekanan Masih Berlanjut Hingga Akhir Tahun
- Nilai tukar rupiah
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan masih tertekan hingga akhir tahun ini. Selain aksi jual aset berisiko atau risk-off, perkembangan ekonomi dan moneter di Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih dominan mempengaruhi pergerakan rupiah hingga pengujung tahun.

Ket.
Doc: ISTIMEWA
Senior economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS masih cenderung terdepresiasi hingga akhir 2024. Menurutnya, pelemahan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, yakni berlangsungnya capital flight to safety atau fenomena global dan investor memindahkan investasi mereka dari suatu negara atau pasar yang dianggap berisiko ke negara yang lebih stabil dan aman.
Selain itu, lanjutnya, investor cemas dengan perkembangan plafon utang AS (debt ceiling) dan data tenaga kerja AS yang menguat. Karenanya, Fikri memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank jelang akhir tahun bergerak melemah di kisaran 16.100-16.350 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan, Selasa (24/12) sore, ditutup menguat 7 poin atau 0,04 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.190 rupiah per dollar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah hari ini masih lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara lain seperti won Korea Selatan, yen Jepang, hingga real Brasil.
“Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal daripada internal. Salah satunya adalah tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa antara Rusia dan Ukraina, perlambatan ekonomi di Tiongkok serta kemenangan Donald Trump dalam pilpres (pemilihan presiden) Amerika Serikat,” kata Ibrahim.
Walaupun mengalami penurunan nilai tukar, ada sisi positif dari situasi ini, yakni dapat meningkatkan daya saing ekspor, terutama ekspor sumber daya alam (SDA) yang menjadi andalan Indonesia.
Anda mungkin tertarik:
“Indonesia juga diuntungkan dari pelemahan rupiah karena neraca perdagangan yang terus positif, bahkan melebar pada November 2024,” ungkap dia.
Dia menambahkan pemerintah mengklaim kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih kuat meskipun nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh di atas 16 ribu ruiah per dollar AS.