Pemerintah Didesak Siapkan Langkah Antisipasi untuk Hadapi Risiko Bencana Hidrometeorologi
Jumat, 13 Des 2024, 00:00 WIBJAKARTA â Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah daerah belakangan ini dinilai sangat mengkhawatirkan. Karena itu, pemerintah perlu meningkatkan infrastruktur mitigasi kebencanaan demi menjaga keselamatan masyarakat.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras, menyoroti kondisi alam belakangan ini yang makin tak menentu. Karena itu, pemerintah dituntut lebih responsif dan tanggap dalam menghadapi potensi bencana alam kapan saja. "Selain upaya mitigasi, kita harapkan ada antisipasi dari sisi infrastruktur kebencanaan," ujar Andi Iwan Darmawan Aras, di Jakarta, Kamis (12/12).
Infrastruktur yang dimaksud, meliputi bangunan vital, fasilitas umum, sistem angkutan umum, telekomunikasi, dan sistem tenaga listrik yang dirancang untuk menahan dampak bencana alam. Iwan mengatakan pemerintah harus memprioritaskan kebutuhan dan keamanan masyarakat saat terjadi bencana agar mereka merasa aman dan nyaman.
"Perlu adanya koordinasi antara BMKG, BNPB, TNI/Polri, Basarnas, dan semua stakeholder guna meningkatkan kapasitas operasionalnya agar penanganan bencana dapat lebih efisien. Koordinasi yang baik dapat mengurangi risiko, dan memastikan keselamatan masyarakat Indonesia," jelas Iwan.
Pimpinan Komisi di DPR yang membidangi urusan infrastruktur dan transportasi itu pun mendukung upaya emerintah yang terus melakukan berbagai langkah mitigasi bencana. Iwan juga mengimbau masyarakat berhati-hati dalam berkegiatan selama Indonesia masih menghadapi cuaca ekstrem.
Seperti diketahui, sejumlah daerah dilanda bencana alam sebagai dampak cuaca ekstrem. Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sempat lumpuh akibat banjir, longsor, dan pergeseran tanah. Akibat kejadian ini, sejumlah rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan.
Selain itu, beberapa hari terakhir, Bali juga dilanda badai puting beliung. Bahkan akibat puting beliung, dua warga negara asing (WNA) yang tengah mengunjungi kawasan objek wisata Monkey Forest di kawasan Ubud meninggal dunia karena tertimpa pohon tumbang. Rumah-rumah warga di wilayah Bali lainnya juga dilaporkan rusak.
Iwan juga menilai pemantauan dan sistem peringatan dini bencana perlu lebih ditingkatkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai lembaga yang mengawasi dan memantau kondisi cuaca dan iklim berperan krusial dalam memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat dan pihak berwenang.
Tetap Waspada
Sementara itu, BMKG terus mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai fenomena masuknya musim hujan yang bersamaan dengan La Nina Lemah. Kondisi itu mengakibatkan potensi penambahan curah hujan hingga 20â40 persen.
Fenomena ini berlangsung mulai November atau akhir 2024 hingga Maret atau April 2025. Sebagai informasi, La Nina adalah fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, memperingatkan fenomena La Nina ini berpotensi mengakibatkan berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung. âMaka dari itu, dibutuhkan kewaspadaan dan kesiap-siagaan seluruh komponen, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat,â ujarnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Sekolah Rakyat Belum Kompak Berjalan, Persoalan Teknis Jadi Penghalang
-
Ternyata Ini Penyebabnya Kenapa BMKG Belum Bisa Laksanakan Operasi Modifikasi Cuaca Meski Karhutla Meluas
-
Ciptakan Nilai Bermakna dan Berkelanjutan bagi Nasabah, CIMB Niaga Dorong Pertumbuhan Kredit Berkualitas
-
Pos Lantas Dilempar Molotov, Polda Jatim Pastikan Surabaya Tetap Kondusif
-
IQAir: Kualitas Udara Jakarta Masuk 10 Besar Terburuk di Dunia Pagi Ini
-
Cuaca Ekstrem, Kamboja Keluarkan Peringatan Perjalanan Laut, Dampak 3 Siklon Mengintai
-
Ekonomi Dinilai Sulit Tumbuh di Atas 5 Persen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.