Kandungan Logam pada Air Minum Dapat Picu Risiko Kanker
Senin, 09 Des 2024, 22:00 WIBSebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Texas menemukan bahwa bahkan tingkat arsenik yang rendah dalam air, di bawah ambang batas peraturan 10 bagian per miliar, dapat menimbulkan risiko kesehatan, termasuk peningkatan risiko kanker ginjal. Dalam studi terbaru, para peneliti dari Texas A&M University School of Public Health menyelidiki hubungan antara tingkat arsenik dalam air minum dan tingkat kanker ginjal di 240 wilayah Texas. Arsenik secara alami terdapat dalam air tanah di Texas dan wilayah lainnya.
Kanker ginjal adalah kanker ketujuh yang paling umum di AS. Kanker ini memiliki tingkat kejadian yang disesuaikan dengan usia sebesar 17,2 per 100.000 orang dari tahun 2017 hingga 2021. Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko, termasuk menjadi laki-laki, Afrika-Amerika, atau memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ini.Â
Selain itu, pilihan gaya hidup seperti merokok, penggunaan alkohol, dan obesitas, serta kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit ginjal stadium lanjut, dapat meningkatkan risiko. Studi juga menunjukkan bahwa paparan bahan kimia tertentu, seperti trikloroetilena, dapat meningkatkan risiko terkena kanker ginjal
Hasil studi terbaru menunjukkan hubungan dosis-respons antara arsenik dalam air minum dan kanker ginjal, dengan risiko kanker meningkat sebesar 4% untuk setiap dua kali lipat kadar arsenik. Para peneliti juga mencatat bahwa paparan arsenik dalam kadar sedang (1-5 ppb) dan tinggi (>5 ppb) meningkatkan risiko kanker masing-masing sebesar 6% dan 22%.
âBeberapa sistem air publik tidak dikelola dengan baik dan dapat membuat pelanggan terpapar arsenik, tetapi 40 juta orang di Amerika Serikat yang bergantung pada sumur pribadi sangat rentan,â kata Taehyun Roh, dari Departemen Epidemiologi dan Biostatistik yang terlibat dalam penelitian ini, dikutip dari Medical Daily, Rabu (4/12).Â
âStudi ini menunjukkan bahwa paparan arsenik tingkat rendah dalam air minum dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker ginjal, yang sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengindikasikan adanya hubungan antara paparan ini dengan kanker paru-paru, kandung kemih, dan kulit,â tambah Roh.
Para peneliti memperingatkan bahwa penelitian ini menunjukkan hubungan antara berbagai faktor, tetapi tidak membuktikan hubungan sebab akibat. Mereka menekankan perlunya penelitian di masa depan untuk menilai efek dari faktor-faktor seperti gaya hidup, riwayat keluarga dengan kanker ginjal, dan sumber-sumber potensial lain dari paparan arsenik. Namun, berdasarkan temuan ini, para peneliti menyerukan peraturan yang lebih ketat dan intervensi kesehatan masyarakat yang ditargetkan.
âTemuan kami menunjukkan bahwa mengurangi paparan arsenik dapat mengurangi kejadian kanker ginjal, dan ini dapat dicapai melalui upaya-upaya seperti peningkatan pengawasan peraturan dan intervensi kesehatan masyarakat yang ditargetkan,â tutur Nishat Tasnim Hasan, salah satu peneliti yang terlibat dalam penelitian ini.
Redaktur: Rivaldi Dani Rahmadi
Penulis: Rivaldi Dani Rahmadi
Berita Terkait:
-
Line Up Synchronize Fest 2026 Fase 1: Daftar 17 Musisi dan Jadwal Festival
-
Kenali Gejala Kanker Tiroid, Benjolan di Leher Bisa Jadi Tanda Awal
-
Wajib Tahu! Kurang Tidur di Usia 40-an dan 50-an Bisa Meningkatkan Risiko Alzheimer di Kemudian Hari
-
Target penambahan kapasitas PLTB
-
Perut Anda Buncit? Jalan Kaki 10 Menit Sehabis Makan Solusinya!
-
Liga Champions: Kompany Puji Performa “Istimewa” Neuer Usai Bayern Taklukkan Madrid
-
Setiap Tahunnya Lebih dari 408.000 Kasus Kanker Baru Terjadi, Indonesia Butuh Perkuatan Kolaborasi Global
Satlap Tri Cakti dan Satgas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Bijih Timah Ilegal Senilai Rp1,8 Miliar.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.