DGB Kaji Implementasi Ekosistem Darat di IKN
Sabtu, 30 Nov 2024, 03:09 WIBDepok -Â Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Indonesia (UI) melakukan kajian implementasi ekosistem darat dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dapat menjadi katalis bagi perlindungan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Ketua DGB UI, Prof. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., Ph.D dalam sambutan yang dibacakan oleh Sekretaris DGB UI, Prof. Dr. drg. Indang Trihandini, M.Kes. di Depok, Jumat (29/11) mengatakan bahwa implementasi ekosistem darat di IKN merupakan langkah penting untuk menuju harmoni antara pembangunan dan pelestarian alam.
Hal tersebut dalam seminar bertajuk âHarmoni dengan Alam: Implementasi Ekosistem Darat di Ibu Kota Nusantaraâ Menurut dia pendekatan ini selaras dengan tujuan global, Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-15, yakni melindungi, memulihkan, dan mendukung keberlanjutan ekosistem darat.
âPembangunan IKN di Kalimantan Timur berupaya mengintegrasikan konsep keberkelanjutan dengan melestarikan ekosistem darat. Pembangunan ini juga menawarkan penerapan praktik pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan ekosistem lokal dan kesejahteraan masyarakat setempat,â katanya.
Untuk itu, integrasi nilai-nilai budaya masyarakat dalam proyek pembangunan penting dilakukan untuk memastikan bahwa solusi yang diterapkan bersifat inklusif, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi semua pihak,â ujarnya.
Menurut Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita Ibu Kota Nusantara, Prof. Ir. Mohammed Ali Berawi, M.Eng.Sc, Ph.D, menytakan dari seluruh total area IKN, luas daratan IKN mencapai 252.660 hektare. Area ini nantinya akan dikembangkan menjadi tiga kawasan, yakni kawasan hijau dan produksi pangan (10 persen), area perkotaan (25 persen), serta hutan tropis melalui proses reforestasi (65 persen).
Pengembangan kota ini akan dilaksanakan berdasarkan lima prinsip utama, yakni hijau, berketahanan, berkelanjutan, inklusif, dan cerdas. âIKN harus menjadi kota yang hijau, berketahanan, dan berkelanjutan. Disebut hijau karena 75 persen area digunakan untuk hutan dan kawasan hijau,â jelasnya.
Sementara, berketahanan artinya kita membangun kota ini dengan konsep sponge city, yakni perencanaan perkotaan yang berkelanjutan untuk mengelola air hujan secara efektif.
âIKN juga merupakan kota inklusif dan modern. Kita melibatkan the large scales investor sampai pemberdayaan UMKM, dan memberikan pelatihan teknologi bagi para ibu dan difabel,â ujar Prof. Ali Berawi.
Sementara itu, Anggota III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Akhsanul Khaq mengharapkan pembangunan kawasan IKN yang berlokasi di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dapat berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan.
â(Kami) juga berharap agar dalam penyusunan Laporan Keuangan (LK) Tahun 2024 (terkait IKN), kinerja pembangunan bisa lebih baik dan transparan dibandingkan tahun sebelumnya,â ujarnya saat kunjungan kerja ke IKN, beberapa waktu lalu. Â Ant/and
Redaktur: andes
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Gambir Sumbar Tak Mau Lagi Dilego Murah! Kementan–BUMN Siapkan Lompatan Besar
-
Masih 15 Tahun, Remaja Padang Ini Sudah Berangkat Haji
-
Komisi IX DPR RI Gelar Raker bersama Menkes dan Mensos
-
DLH Banyumas Kembangkan TPST BLE Tekan Beban Pengolahan Sampah
-
Rayakan Hari Kartini, Kemenhub Dorong Perempuan jadi Agen Perubahan Mewujudkan Keselamatan Berlalulintas
-
Otorita Buka Ruang Keterlibatan Profesional Bangun IKN
-
Di Tengah Minimnya Hasil Tangkapan, Nelayan Trenggalek Larung Sesaji
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.