• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kenali Bahaya Penyakit Gla...

Kenali Bahaya Penyakit Glaukoma, IDI Kabupaten Brebes Berikan Informasi Pengobatan yang Tepat

Selasa, 26 Nov 2024, 14:30 WIB

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Brebes idikabbrebes.org saat ini sedang melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor penyebab terjadinya glaukoma serta pengobatan yang tepat bagi penderitanya.

Berbicara tentang penyakit mata, glaukoma adalah penyakit mata yang merusak saraf optik mata. Menurut data WHO, sejak tahun 2020 lalu, tercatat kurang lebih ada 23 juta orang di dunia yang menderita penyakit glaukoma. Penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kebutaan sama katarak. Penting bagi Anda untuk selalu berkonsultasi apabila merasakan sakit pada mata.

Ket. Foto: — Sumber: iStockphoto/seb_ra

IDI yang merupakan organisasi sekaligus wadah profesi bagi para dokter di Indonesia didirikan pada tanggal 24 Oktober 1950. IDI Kabupaten Brebes merupakan cabang dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang berfungsi sebagai organisasi profesi bagi dokter di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, mendukung pengembangan profesi kedokteran, serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kesehatan. 

Apa saja faktor utama penyebab terjadinya glaukoma?

IDI Kabupaten Brebes menjelaskan bahwa penyakit glaukoma disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut adalah faktor-faktor penyebab utama terjadinya penyakit glaukoma:

1. Produksi cairan mata secara berlebihan

Glaukoma sering kali disebabkan oleh akumulasi cairan (aqueous humor) di dalam mata. Tekanan bola mata dapat terjadi akibat produksi cairan mata (aqueous humor) yang berlebihan. Sehingga penting untuk mengistirahatkan mata setiap 10-15 menit apabila Anda bekerja di depan layar monitor ataupun aktivitas lainnya yang membutuhkan fokus tinggi.

2. Faktor usia

Risiko glaukoma meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada individu yang berusia di atas 40 tahun. Penuaan dapat memengaruhi kemampuan mata dalam mengatur tekanan.

3. Faktor keturunan dan etnis

Memiliki anggota keluarga yang menderita glaukoma meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengembangkan penyakit ini. Faktor genetik berperan dalam predisposisi terhadap glaukoma. Selain itu, beberapa kelompok etnis, seperti orang Asia dan Afrika-Amerika, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan glaukoma, serta faktor genetik yang dapat mempengaruhi kerentanan terhadap kondisi ini.

4. Menderita rabun dekat dan jauh

Glaukoma juga dapat terjadi apabila Anda menderita kondisi refraksi seperti miopia (rabun jauh) atau hipermetropia (rabun dekat) juga dapat berkontribusi terhadap risiko terjadinya glaukoma. Rutin untuk berkonsultasi dengan dokter mata apabila Anda memiliki riwayat penyakit tersebut.

Apa saja jenis obat yang bisa dikonsumsi bagi penderita glaukoma?

Penderita glaukoma memerlukan pengobatan untuk menurunkan tekanan intraokular dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada saraf optik. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengobati glaukoma:

1. Obat Beta Blocker

Timolol merupakan salah satu obat beta blocker paling ampuh untuk mengobati glaukoma. Obat ini dapat mengurangi produksi cairan mata (aqueous humour) dan meningkatkan drainase cairan, sehingga menurunkan tekanan intraokular. 

2. Obat Kolinergetik

Obat jenis ini seperti Pilocarpina. Obat pilocarpina dapat meningkatkan drainase cairan mata dengan mekanisme yang berbeda. Namun, obat ini memiliki efek samping yang lebih tinggi dan biasanya hanya digunakan jika obat lain gagal.

Penggunaan obat glaukoma harus selalu didasarkan pada diagnosa yang tepat dan supervisi dokter spesialis mata. Pasien harus memantau efek samping dan laporan gejala kepada dokter untuk menyesuaikan strategi pengobatan yang optimal.

(IKN)

Penulis: Tim Redaksi

Berita Terbaru

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.