Pembicaraan PBB soal Penyelamatan Alam Terkendala Pendanaan

Senin, 04 Nov 2024, 00:00 WIB

CALI - Konferensi konservasi alam terbesar di duniaConference of Parties (COP16) pada Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB atauUN Convention on Biological Diversity (CBD) ditutup di Kolombia pada hari Sabtu (2/10) tanpa kesepakatan mengenai peta jalan untuk meningkatkan pendanaan bagi perlindungan spesies.

Dengan keberhasilan lain yang telah diraihnya, COP16 ditangguhkan oleh presidennya, Susana Muhamad, karena negosiasi berlangsung hampir 12 jam lebih lama dari yang direncanakan dan para delegasi mulai meninggalkan tempat itu untuk mengejar penerbangan.

Ket. Foto: Orang-orang berjalan melalui pusat acara Valle del Pacifico, menjelang ajang, COP16, di Cali, pada 20 Oktober 2024. — Sumber: ISTIMEWA

Dikutip dari Channel News Asia (CNA), eksodus para delegasi tersebut menyebabkan pertemuan puncak tidak mencapai kuorum untuk pengambilan keputusan, tetapi juru bicara CBD, David Ainsworth, mengatakan pertemuan akan dilanjutkan di kemudian hari untuk mempertimbangkan masalah-masalah yang masih ada.

"Kami akan terus bekerja karena krisis ini terlalu besar dan kami tidak bisa berhenti," kata Muhamad setelah menyatakan COP Cali ditutup.

Konferensi tersebut, yang merupakan pertemuan terbesar dari jenisnya sejauh ini dengan sekitar 23.000 delegasi terdaftar, ditugaskan untuk menilai dan meningkatkan kemajuan ke arah pencapaian 23 target yang ditetapkan di Kanada dua tahun lalu untuk menghentikan penghancuran tak terkendali oleh umat manusia terhadap karunia alam pada tahun 2030.

Ini termasuk menempatkan 30 persen wilayah daratan dan lautan dalam perlindungan dan 30 persen ekosistem yang terdegradasi dalam pemulihan pada tahun 2030, mengurangi polusi, dan menghapuskan subsidi pertanian dan subsidi lainnya yang merusak alam.

Untuk tujuan ini disepakati pada tahun 2022 dana sebesar 200 miliar dollar AS per tahun harus disediakan untuk melindungi keanekaragaman hayati pada tahun 2030, termasuk transfer 30 miliar dollar AS per tahun dari negara-negara kaya ke negara-negara miskin.

Menurut Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), totalnya untuk tahun 2022 sekitar 15 miliar dollar AS.

Untuk Penuhi Target

Selain itu, negara-negara telah menjanjikan sekitar 400 juta dollar AS kepada Dana Kerangka Keanekaragaman Hayati Global atau Global Biodiversity Framework Fund (GBFF) yang dibentuk tahun lalu untuk memenuhi target PBB.

Di Cali, para negosiator sebagian besar terbagi antara blok negara miskin dan negara kaya saat mereka menawar peningkatan pendanaan dan komitmen lainnya. Permintaan terbesar dari pertemuan puncak itu, untuk menyusun rencana pendanaan terperinci, ternyata merupakan upaya yang terlalu jauh.

Muhamad, Menteri Lingkungan Hidup Kolombia, telah menawarkan rancangan teks yang mengusulkan pembentukan dana khusus keanekaragaman hayati, yang ditolak oleh Uni Eropa, Swiss, dan Jepang.

Negara-negara berkembang bersikeras untuk membentuk dana baru, dengan alasan mereka tidak terwakili secara memadai dalam mekanisme yang ada termasuk GBFF, yang menurut mereka juga terlalu memberatkan.

Pertemuan tersebut berhasil menyatukan gagasan untuk mendirikan sebuah dana guna membagi keuntungan dari data genetika yang diurutkan secara digital yang diambil dari tumbuhan dan hewan dengan masyarakat tempat data tersebut berasal.

Data tersebut, sebagian besarnya berasal dari spesies yang ditemukan di negara-negara miskin, terutama digunakan dalam obat-obatan dan kosmetik yang dapat menghasilkan miliaran dollar AS bagi pengembangnya, yang sangat sedikit yang benar-benar kembali kepada pemiliknya.

Perjanjian Cali menentukan pengguna data genetika yang pendapatannya melebihi ambang batas tertentu harus menyumbangkan satu persen dari keuntungan atau 0,1 persen dari pendapatan ke dana baru, yang berpotensi bernilai miliaran dollar AS per tahun.

Delegasi juga menyetujui pembentukan badan permanen untuk mewakili kepentingan masyarakat pribumi di bawah Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

Bukan Sekadar Kebakaran! Presiden Minta Usut Dugaan Koneksi Pembakar Lahan dan Korporasi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.