Forum: Risiko Konflik di LTS Meningkat

Jumat, 25 Okt 2024, 02:55 WIB

HA LONG - Negara-negara Asia-Pasifik harus mematuhi kewajiban mereka untuk tidak menggunakan atau mengancam untuk menggunakan kekuatan di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan (LTS), sebuah panel ahli internasional memperingatkan hal itu dalam forum bertajukNavigating Narratives, Nurturing Normsyang digelar di Ha Long, Vietnam.

Para peserta konferensi dua hari yang berakhir pada Kamis (24/10) fokus untuk mengkaji bagaimana prinsip tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan sengketa harus dipahami dan ditegakkan oleh para pihak yang bersengketa di LTS dan masyarakat internasional.

Ket. Foto: Juru bicara Penjaga Pantai Filipina, Jay Tarriela — Sumber: AFP/TED ALJIBE

Euan Graham, seorang analis senior di Australian Strategic Policy Institute (ASPI), mengatakan bahwa dibandingkan dengan kawasan lain seperti Timur Tengah dan Eropa, hanya ada sedikit sekali konflik bersenjata terjadi di antara negara di Asia-Pasifik.

"Dalam 15 tahun terakhir ini, LTS telah menjadi lebih terkait dengan penggunaan taktik pemaksaan oleh Tiongkok termasuk konfrontasi fisik tetapi di bawah ambang batas kekuatan militer yang biasa disebut aktivitas zona abu-abu, menghadirkan ancaman kekuatan yang jelas," ungkap Graham. "Jumlah dan intensitas insiden yang melibatkan kekuatan fisik dan ancaman kekerasan bersenjata pun telah meningkat,"imbuh dia.

Ketegangan antara Tiongkok dan Filipina telah meningkat tajam tahun ini di bagian LTS yang berada di bawah yurisdiksi Manila, demikian juga termasuk dalam apa yang disebut sebagai sembilan garis putus-putus yang dibuat Beijing di peta untuk mendukung klaimnya atas sebagian besar wilayah di laut tersebut.

Juru bicara Penjaga Pantai Filipina, Jay Tarriela, mengatakan pada konferensi tersebut bahwa negaranya memiliki pengalaman langsung atas agresi Tiongkok, tetapi negara-negara lain di kawasan ini juga menderita akibat perilaku ilegal dan tidak dapat diterima.

Tarriela mengatakan bahwa dari sudut pandang Manila, untuk mencapai solusi damai atas perselisihan di LTS, negara-negara di kawasan ini harus membangun pemahaman bersama dan saling menghormati berdasarkan hukum internasional, dan memastikan transparansi dalam kebijakan mereka.

"Perjuangan Filipina tidak hanya menyangkut kedaulatan kami, tetapi juga perjuangan semua orang," kata Tarriela. "Kita tidak boleh membiarkan aktor negara mana pun menghindari hukum internasional dan memveto Piagam PBB," imbuh dia.

Tanggapan Beijing

Menanggapi kritik terhadap kebijakan negaranya di LTS, seorang pakar Tiongkok mengatakan bahwa Beijing telah banyak menahan diri dan bersabar.

Lei Xiaolu, seorang profesor di Institut Studi Perbatasan dan Kelautan Tiongkok di Universitas Wuhan, mengatakan bahwa negara-negara lain harus menyadari bahwa Tiongkok tidak akan pernah mengabaikan klaimnya atas empat kepulauan dan perairan di LTS.

"Sengketa maritim membutuhkan waktu, kesabaran, dan kemauan politik untuk mencapai solusi akhir," kata Lei seraya mendesak semua pihak untuk duduk bersama dan berdiskusi dengan itikad baik.

Lei pun menegaskan bahwa sebagian besar negara Asia tenggara sudah memiliki mekanisme konsultasi bilateral dengan Tiongkok. "Hanya melalui peningkatan komunikasi, tidak semata melalui jalur diplomatik, oleh lembaga pemerintah lain dari negara-negara terkait, yang dapat membantu mencegah konflik," ucap dia.RFA/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

Berita Terbaru

Mau Tahu Rahasia Kecantikan Kulit dan Rambut Korea, Saksikan di BXc 2 pada 27 Agustus Mendatang

Aplikasi GoPay Hadirkan Fitur DBL Indonesia, Meriahkan Kompetisi Basket Pelajar se-Indonesia

Wujud Kepedulian BUMN, TelkomGroup Salurkan Bantuan Rp1,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

Resmikan Jaksinema Pasar Rumput, Wagub Rano Minta Bioskop Mini Rp15 Ribu di Tiap Rusun

Debt Collector Paksa Masuk ke Dalam Mobil, Piting Leher dan Ancam Pengemudi

TNI-Polri Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Gowa, Tidak Ada Orang di Lokasi

Dinsos Tanjungpinang Buka Ruang Bagi Warga untuk Perubahan Desil

Sudah 2 Hari Juanda Belum Ditemukan Akibat Terseret Arus saat Kemping di Pantai

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.