Ini Tangan-tangan Pemoles Talenta Istimewa

Rabu, 16 Okt 2024, 00:46 WIB

Jakarta - Saat menjalani kuliah di Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, tidak pernah terlintas di pikiran Winarno untuk berkarier sebagai seorang pelatih paraatletik atau cabang olahraga atletik untuk kelompok dengan disabilitas.

Namun, ketika dirinya mendapatkan peluang untuk mengabdi di National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Jawa Tengah pada tahun 2016, dirinya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Ket. Foto: Suasana pesta kembang api pada penutupan Peparnas XVII Solo 2024 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Minggu (13/10/2024). Peparnas XVII Solo 2024 resmi ditutup dan Jawa Tengah menjadi juara umum dengan perolehan total 406 medali (161 emas, 121 perak, dan 124 perunggu) disusul Jawa Barat dengan total 354 medali (120 emas, 116 perak, dan 118 perunggu). — Sumber: ANTARA/Mohammad Ayudha

Berbekal kemampuan berlari, karena dia pernah berkarier sebagai atlet lari, Winarno menatap profesi barunya dengan yakin.

Dan, ternyata, apa yang dilaluinya di NPC Jateng sesuai ekspektasi. Bagi Winarno, menangani taktik, fisik dan mental atlet dengan disabilitas selalu menjadi aktivitas yang menarik.

Di NPCI Jawa Tengah, pria berusia 30 tahun itu diberikan tanggung jawab untuk memoles kemampuan para atlet difabel di nomor lari jarak pendek yakni 100 meter, 200 meter dan 400 meter.

Sehari-hari, Winarno melatih atlet dengan beragam disabilitas seperti tunanetra, tunadaksa dan tunagrahita.

Tentu saja, hal itu tidak mudah dilakukan karena dirinya mesti melakukan penyesuaian-penyesuaian. Winarno tidak bisa menyamaratakan semua menu latihan kepada setiap pelari di NPCI Jawa Tengah.

Untuk atlet tunadaksa dengancerebral palsy(CP), misalnya, Winarno dan timnya memberikan aktivitas latihan yang sering diulangi agar sang atlet dapat merekam gerakannya dengan baik. Latihan pun mesti beradaptasi dengan gerak atlet CP yang terbatas.

Kemudian, untuk atlet lari tunanetra, Winarno menetapkan menu latihan yang berbeda dan kegiatan itu wajib dilakukan denganguideatau pemandu.

Atlet tunanetra khususnya yang menderita kebutaan total memang memerlukan tuntunan seorangguide saatmenjalani lomba lari.

Tentu saja tidak gampang menunaikan pekerjaan tersebut. Untuk pelari tunanetra pemula, perlu berbulan-bulan sampai mereka dan para guide menemukan keharmonisan saat berlari.

Di luar sisi teknis, Winarno dan tim pelatih NPCI Jawa Tengah pun wajib untuk menjaga keamanan dan kesehatan atlet-atlet mereka.

Belum lagi jika suasana hati (mood) atlet berubah, Winarno harus pandai melakukan pendekatan dan bijak memilih kata supaya motivasi anak-anak asuhnya naik kembali.

"Ketika motivasi terbangun, tekad atlet untuk berprestasi semakin kuat," ujar dia.

Winarno mengaku sangat senang dengan pekerjaannya. Untuk itu, dia menekuninya dengan serius. Berbagai pelatihan terkait atlet disabilitas diikutinya supaya pengetahuannya senantiasa berkembang.

Hasilnya, Winarno setidak-tidaknya sudah 15 atlet lari Jawa Tengah yang diantarnya hingga ke tingkat nasional.

Salah satu di antaranya adalah atlet tunanetra Muhammad Dimas Ubaidillah yang berada di bawah gemblengan Winarno sejak tahun 2018.

Dimas, yang masih berumur 21 tahun dengan klasifikasi paraatletik T11 atau buta total, sukses merebut medali emas di Asian Youth Para Games 2021 di Bahrain, emas di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2021, medali perak dan perunggu di ASEAN Para Games 2022 serta dua perak dan satu perunggu di ASEAN Para Games 2023.

Terkini, di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024, Solo, Dimas merebut dua medali emas dari nomor lari estafet 4x100 T11-T13 putra.

Selain Dimas, ada pula Maria Vitasari, atlet lari CP putri yang baru berusia 15 tahun tetapi mampu menggondol medali emas nomor lari 100 meter T37-38 putri di Peparnas 2024.

"Saya bangga melihat teman-teman atlet sukses. Saya berharap masa depan mereka lebih cerah lagi di masa depan," kata Winarno.

Bukan hanya mengasah potensi, pelatih juga berperan sebagai pencari atlet berbakat untuk dibina lebih lanjut di NPCI.

David Halomoan Sihaloho, yang nyaris 10 tahun menjadi pelatih judo tunanetra di NPCI Riau, menyampaikan bahwa dirinya harus berkeliling wilayah demi calon-calon atlet disabilitas.

Salah satu atlet yang menarik perhatiannya adalah Amiyah, ibu rumah tangga yang menderita penglihatan lemah (low vision).

David kemudian mengarahkannya ke judo tunanetra. Ternyata, Amiyah memiliki kekuatan dan konsentrasi yang memadai untuk menjadi seorang judoka.

"Dia terus berlatih dan kemampuannya berkembang. Terbukti dia berhasil seperti sekarang," tutur David.

Di Peparnas 2021 Papua, yang menjadi Peparnas perdananya, Amiyah menggondol medali emas di nomor kelas -43 kilogram J2 putri. J2 merupakan klasifikasi untuk atlet dengan penglihatan sangat terbatas.

Sementara di Peparnas 2024, Amiyah kembali merebut medali emas, kali ini di nomor -48 kilogram J2 putri.

Perempuan berusia 37 tahun itu pun menjadi satu-satunya judoka Riau yang menorehkan emas di Peparnas 2024.

David menyampaikan, prestasi Amiyah digapai dengan latihan berat yang benar-benar menguras keringat.

Pada dasarnya, dia menambahkan, tenik judo yang diajarkan kepada atlet tunanetra sama dengan teknik judo pada umumnya.

Yang membedakan yakni kepekaan terhadap sentuhan. Atlet tunanetra denganlow visionatau buta total mesti sensitif dengan kontak fisiknya dengan lawan.

Begitu menyentuh tubuh musuh, seorang atlet tunanetra mesti berpikir dengan cepat bagaimana menggerakkan tangan dan kakinya untuk "melumpuhkan" lawannya itu.

Gerakan latihan itu pun mesti dilatih secara terus menerus demi membentuk memori otot yang dapat mengingat gerakan menyerang dan bertahan dengan fasih.

"Pola latihan atlet judo tunanetra itu bermula dari teknik meraba dan menyentuh musuh, kemudian dilanjutkan dengan pemindahan kaki dan tangan," ujar David.

Laki-laki yang sempat menjadi atlet judo dan membela Riau di Pekan Olahraga Nasional (PON) itu mengaku salut dengan perjuangan atlet difabel mulai dari latihan hingga pertandingan.

Dia menyebut, atlet dengan disabilitas mempunyai semangat yang sangat menggebu karena menganggap olahraga sebagai jalan untuk memperbaiki hidup.

Sebab, sebelum terjun ke dunia olahraga, banyak atlet difabel yang menerima perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan sekitar. Mereka kerap diremehkan dan dipandang tidak memiliki masa depan.

Dengan menjadi atlet, orang-orang dengan disabilitas menemukan wadah untuk menunjukkan kemampuan sejatinya dan membalikkan pandangan negatif dari banyak pihak.

"Olahraga menaikkan status sosial mereka. Apalagi kalau berhasil menjadi juara, atlet menerima bonus yang dapat membantu kehidupan mereka," tutur David.

Jasa Winarno, David dan setiap pelatih atlet disabilitas di Indonesia sangat besar dalam memajukan olahraga disabilitas di Indonesia.

Meski bekerja dalam sunyi, jauh dari perhatian publik, mereka tetap mencurahkan pikiran, kemampuan dan waktunya secara total supaya atlet-atlet difabel dapat mengharumkan nama Indonesia di setiap kesempatan.

Walau mungkin tidak diingat, nama mereka terukir abadi di setiap medali, prestasi dan apresiasi yang diraih oleh atlet dengan disabilitas.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

Berita Terbaru

TNI-Polri Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Gowa, Tidak Ada Orang di Lokasi

Dinsos Tanjungpinang Buka Ruang Bagi Warga untuk Perubahan Desil

Sudah 2 Hari Juanda Belum Ditemukan Akibat Terseret Arus saat Kemping di Pantai

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.